FC Koeln dan Alasan Mengapa Mereka Terjerembap

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

FC Koeln dan Alasan Mengapa Mereka Terjerembap

Pada musim 2016/2017, FC Köln menjelma menjadi salah satu tim kuat dalam ajang Bundesliga. Di musim tersebut, mereka berhasil mengakhiri musim di peringkat ke-5 dan lolos ke Liga Europa. Namun pada awal musim 2017/2018, mereka justru mengalami sebuah kejatuhan.

Di bawah komando dari Peter Stöger, FC Köln tampil begitu luar biasa pada musim 2016/2017 silam. Dari 34 pertandingan yang mereka jalani dalam ajang Bundesliga musim tersebut, tim berjuluk Die Geiβböcke tersebut berhasil menorehkan 12 kemenangan, 13 kali hasil imbang, dan hanya sembilan kali kalah. Total 49 poin yang mereka kumpulkan pada musim tersebut membawa mereka finis di posisi lima akhir Bundesliga. Mereka pun berhak lolos ke kompetisi Eropa, yaitu Liga Europa musim 2017/2018.

Beberapa pemain Köln juga tampil cukup mengesankan pada musim tersebut. Anthony Modeste, Jonas Hector, serta Frederik Sorensen adalah tiga dari sekian banyak pemain Köln yang tampil cukup baik untuk klub yang bermarkas di RheinEnergieStadion pada musim 2016/2017. Modeste bahkan sempat bersaing dengan Pierre-Emerick Aubameyang dan Robert Lewandowski menjadi pencetak gol terbanyak Bundesliga pada musim 2016/2017 silam.

Namun memasuki musim 2017/2018 ini, klub yang terakhir kali menjuarai Bundesliga pada musim 1977/1978 tersebut mengalami sebuah krisis. Dari empat laga awal yang sudah mereka jalani di Bundesliga musim 2017/2018, mereka sama sekali tidak pernah mencatatkan kemenangan, bahkan hasil seri sekalipun. Empat laga awal mereka lalui dengan kekalahan, dan yang teranyar adalah mereka takluk dari Borussia Dortmund dengan skor 5-0.

Pelatih masih sama, dan juga susunan pemain tidak jauh berbeda. Apa yang menyebabkan Köln terjerembab sebegini dalam dan menghuni peringkat akhir klasemen sementara Bundesliga musim 2017/2018?

Kehilangan pemain kunci?

Meski secara susunan pemain Köln tidak banyak berubah, kepergian beberapa pemain kunci adalah salah satu sebab mengapa Cologne sulit untuk bersaing dalam ajang Bundesliga musim 2017/2018 ini. Paling terasa efeknya adalah kepergian Anthony Modeste ke Tianjin Quanjian. Kepergian Modeste membuat tim ini kehilangan salah satu juru gedor andal yang pada musim 2016/2017 kemarin menyumbang cukup banyak gol bagi Köln.

Pada musim 2016/2017, Modeste menyumbang total 25 gol dari 32 penampilan yang ia catatkan bersama Die Geiβböcke. Total 25 gol yang ia torehkan tersebut adalah total dari setengah gol yang dicetak FC Köln dalam Bundesliga 2016/2017. Pada musim itu, Köln mencetak 51 gol, dan 25-nya berasal dari seorang Anthony Modeste.

Anthony Modeste, sosok penting di lini depan FC Köln

Sekarang, dengan hijrahnya Modeste ke Liga Super Tiongkok, kekuatan di lini serang Köln mulai menurun. Dari empat laga yang sudah mereka jalani di Bundesliga, mereka baru bisa menorehkan satu gol dan sudah kebobolan 12 gol. Satu gol itu pun bukan dicetak oleh penyerang, melainkan oleh bek andalan mereka, Frederik Sorensen. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Peter Stöger, pelatih FC Köln.

Skema permainan yang tidak jalan?

Secara skema, sebenarnya Peter Stöger menerapkan hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang ia terapkan pada musim 2016/2017 silam. Mereka masih kerap menyerang dari sayap, menggunakan lebar lapangan, tapi di satu waktu mereka juga bisa menyerang dari tengah. Namun khusus untuk musim 2017/2018 ini, mereka menjadi lebih banyak melepaskan tembakan jarak jauh (enam tembakan jarak jauh dari total 13 tembakan yang sudah mereka lesakkan).

Meski jumlah tembakan jarak jauh mereka sama dengan jumlah tembakan yang dilesakkan di dalam kotak penalti (enam tembakan), namun hal ini menjadi sebuah indikasi terbaru. Bertambahnya jumlah tembakan yang dilepaskan dari luar kotak penalti dari empat pertandingan ini (musim lalu mereka hanya menorehkan empat tembakan dari luar kotak penalti dari empat pertandingan) mencerminkan ada sebuah skema permainan yang tidak jalan.

Lagi-lagi, hengkangnya Modeste memberikan dampak yang cukup besar dalam permainan Köln. Ketika ia masih ada di dalam tim, dari empat pertandingan Köln menorehkan 25 tembakan di dalam kotak penalti. Modeste kerap menjadi ujung tombak, memanfaatkan permainan melebar berupa umpan silang yang menjadi ciri khas dari permainan Die Geiβböcke. Banyaknya jumlah tembakan di dalam kotak penalti ini membuat gol menjadi lebih mudah tercipta bagi Köln.

Ketika lini serang mulai kehilangan kekuatan karena hengkangnya Modeste, lini pertahanan juga berkurang kekuatannya. Dari 12 gol yang bersarang ke gawang mereka, rata-rata gol tersebut terjadi di dalam kotak penalti dan lewat skema yang hampir serupa, yaitu serangan dari sayap. Ini adalah cermin bahwa ada ruang yang kerap dieksploitasi lawan ketika Köln menyerang lewat sayap. Dortmund adalah salah satu tim yang memanfaatkan kelemahan FC Köln ini.

Selain itu, para pemain Die Geiβböcke juga kerap melakukan kesalahan individu dan cukup lemah dalam mengantisipasi serangan balik lawan. Hal ini seolah semakin mempertegas kelemahan Köln yang memang sedari musim 2016/2017 kerap kebobolan lewat skema serangan balik dan serangan dari sayap.

Direktur olahraga yang bermental buruk?

Dalam laga melawan Dortmund, direktur olahraga Köln, Jorg Schmadtke, mengungkapkan bahwa ia ingin laga diulang. Ia tidak terima dengan keputusan wasit yang mengesahkan gol kedua Dortmund yang ia nilai tidak sah. Ia menganggap bahwa ada hal yang berjalan tidak sebagaimana mestinya.

"Tentu saja kami akan memprotes hasil ini (kalah 5-0). Ada keputusan aneh yang diambil oleh wasit dalam laga ini, dan kami meminta laga ini diulang. Saya bukannya menolak teknologi video yang sekarang sedang digunakan (VAR), tapi ada hal-hal yang harus tetap sesuai dengan aturan. Orang-orang tidak bisa melakukan hal seenak mereka sendiri," ujar Schmadtke seperti disitat dari ESPN FC.

Ucapan ini langsung dibalas oleh CEO dari Borussia Dortmund, Hans-Joachim Watzke. Ia menilai bahwa protes yang dilakukan setelah kalah telak 5-0 seperti itu adalah cermin dari mental orang-orang yang kalah. "Protes keras setelah kalah telak seperti itu (5-0) adalah sikap dari orang-orang yang bermental lemah dan kalah. Ia (Schmadtke) seharusnya tidak melakukan itu," ungkap Watzke.

Memang seharusnya, setelah kalah 5-0 yang dibenahi adalah soal permainan tim. Seperti yang diungkapkan oleh Stöger seusai laga melawan Dortmund, ia merasa bahwa harus ada pembenahan yang dilakukan dan tim harus mulai bergerak dari keterpurukan ini. Itu baru sikap yang benar, bukannya memaki wasit, apalagi mereka kalah telak 5-0.

***

FC Köln memang bukan tim besar di Jerman. Namun atas raihan yang mereka catat pada musim 2016/2017, orang-orang mulai menaruh perhatian kepada mereka. Inilah yang harus mulai mereka sadari. Mereka harus mulai berbenah dan bersiap karena selain akan banyak tampil di kompetisi, tim-tim lain akan mulai tidak meremehkan mereka. Jika tidak berbenah dan membiarkan diri terus terpuruk seperti ini, bukan tidak mungkin mereka akan kembali terdegradasi ke Bundesliga 2.

foto: fc.de

Komentar