Efektivitas Serangan Liverpool Membuat Arsenal Tak Berdaya

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Efektivitas Serangan Liverpool Membuat Arsenal Tak Berdaya

Stadion Anfield, Minggu (27/8/2017) berpesta pora menyambut kemenangan empat gol tanpa balas Liverpool atas Arsenal. Dalam lanjutan pertandingan pekan ketiga Liga Primer itu masing-masing gol Liverpool dikemas oleh empat penyerang yang diturunkan dalam laga tersebut.

Liverpool membuka keunggulan melalui sundulan Roberto Firmino pada menit 17. The Reds pun menambah pundi-pundi gol lewat Sadio Mane (40) Mohamed Salah (57), dan Daniel Sturridge yang masuk pada pertengahan babak kedua menggantikan Mane. Sturridge sendiri mencetak gol pamungkas Liverpool pada menit 74.

Dalam laga tersebut, pelatih Liverpool, Juergen Klopp tak banyak melakukan perubahan pada komposisi pemain. Hanya saja sedikit mengejutkan ketika Klopp memilih Loris Karius sebagai penjaga gawang utama dalam pertandingan tersebut, selebihnya komposisi tidak banyak berubah.

Sementara dari tim Arsenal, kejutan dilakukan Arsene Wenger dengan mencadangkan Alexandre Lacazette, dan menempatkan Danny Welbeck sebagai penyerang utama. Namun dalam laga tersebut, Wenger tanpa basa-basi langsung menurunkan Alexis Sanchez yang dalam dua pertandingan sebelumnya absen karena mengalami cedera.

Keunggulan Lini Tengah, Efektivitas Permainan Melebar dan Serangan Balik Liverpool

Bermain di hadapan pendukungnya sendiri Liverpool langsung mengambil inisiatif serangan sejak pertandingan dimulai. Penampilan apik para pemain tengah yang digalang Wijnaldum, Jordan Henderson, dan Emre Can membuat The Reds mampu menguasai jalannya pertandingan. Efektifnya para gelandang Liverpool dalam melakukan pressing membuat mereka lebih sering melancarkan serangan ke area pertahanan lawan.

Selain mampu memenangi duel di tengah, distribusi bola yang dilakukan hampir selalu tepat sasaran yang membuat Liverpool bisa menguasai jalannya pertandingan. Poros utama serangan The Reds sering dipusatkan dari sektor sayap. Area sayap Arsenal terus mendapat intimidasi melalui pergerakan Sadio Mane di sektor kiri dan Mohamed Salah di kanan yang mendapat distribusi bola dari tengah.

Gambar 1: proses crossing Liverpool, Sumber: Squawka

Sementara lini pertahanan Arsenal seperti tak berkutik ketika mendapat serangan cepat Liverpool. Saat diserang, mereka terlalu fokus menumpuk pemain di kotak penalti sendiri. Sementara area luar dekat kotak 16 jarang mendapat perhatian. Hal tersebut membuat para pemain The Reds leluasa mendistribusikan bola ke segala arah.

Sejatinya dengan pola pertahanan menumpuk di area kotak penalti membuat Arsenal seharusnya bisa menahan gempuran Liverpool. Namun sering terjadi kepanikan, terutama saat bola berhasil masuk ke area kotak penalti. Selain itu, kurang sempurnanya transisi dari menyerang ke bertahan yang dilakukan oleh full-back Arsenal membuat Liverpool semakin leluasa melancarkan serangan dari sektor sayap.

Upaya Liverpool mengintimidasi pertahanan Arsenal dengan pola penyerangan yang memanfaatkan lebar lapangan itu akhirnya berbuah gol yang diciptakan Firmino setelah menerima umpan silang Joe Gomez yang lepas dari jebakan offside di sisi kanan.

Selain permainan melebar, Liverpool juga sukses membuat Arsenal tak berdaya melalui pola serangan balik cepat. Dua gol tambahan Liverpool yang dicetak Sadio Mane dan Mohamed Salah menjadi bukti dari efektivitas serangan balik cepat Liverpool, saat Mane mencetak gol.

Transisi yang buruk turut menjadi petaka bagi Arsenal atas terciptanya gol tersebut, karena terlihat sekali Mane bisa berlari tanpa pengawalan sebelum akhirnya menerima umpan terobosan Firmino, yang kemudian membuatnya leluasa masuk ke kotak 16 dan menciptakan gol kedua bagi Liverpool.

Masuknya Lacazette dan Olivier Giroud Tak Banyak Membantu

Pada babak kedua, Arsenal sebenarnya terlihat lebih agresif dalam melakukan serangan. Apalagi ditunjang masuknya Alexandre Lacazette dan Oliver Giroud untuk menggantikan Alexis Sanchez dan Chamberlain. Masuknya dua pemain tersebut membuat Arsenal lebih banyak menguasai bola, karena Liverpool pun agak sedikit menurunkan tempo serangan.

Namun barisan pertahanan Liverpool tampil disiplin untuk menutup ruang yang dimiliki oleh para pemain Arsenal. Akibatnya, meski beberapa kali pemain Arsenal mampu masuk ke kotak penalti, tidak ada satupun peluang yang membahayakan gawang Loris Karius. Praktis, para pendukung Liverpool tidak terlalu banyak dibuat tegang, kecuali oleh beberapa aksi konyol Karius yang hampir berbuah blunder karena terlalu berani memainkan bola.

Gambar 2: arah peluang kedua tim Sumber: Squawka

Alih-alih mengejar ketertinggalan, gawang Arsenal justru bisa dibobol lagi Liverpool. Lagi-lagi melalui serangan balik cepat yang membuat Salah berhasil memperlebar keunggulan. Kesalahan antisipasi dari Hector Bellerin menerima sapuan Dejan Lovren yang melakukan clearance bola hasil sepak pojok The Gunners membuat Salah berhasil merebut bola dan berlari tanpa bisa dikejar pemain Arsenal lainnya.

Dengan mudah, Salah kemudian menceploskan bola yang tak mampu dihadang Cech 3-0. Pesta Liverpool kemudian ditutup dengan gol sundulan Sturridge, setelah menyambut umpan silang yang dilepaskan Salah pada menit 74.

Kesimpulan

Dalam laga tersebut, Liverpool memang jauh lebih efektif dalam melakukan serangan, bahkan mereka sebenarnya bisa menang dengan skor lebih dari 4-0, karena banyaknya peluang yang dimiliki. Satu hal yang lain, kedisiplinan para pemain belakang Liverpool juga turut berkontribusi dalam pertandingan tersebut. Empat bek The Reds mampu tampil lugas untuk membuat lini serang Arsenal tak berkutik.

Kemenangan yang diraih tersebut membuat Liverpool melesat ke posisi dua klasemen sementara dengan tujuh poin hasil dari dua kemenangan dan satu hasil imbang.

Foto: Twitter Liverpool

Komentar