Efektifkah Perubahan Waktu Penutupan Jendela Transfer Musim Panas di Inggris?

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Efektifkah Perubahan Waktu Penutupan Jendela Transfer Musim Panas di Inggris?

Semakin panasnya spekulasi transfer yang terjadi menjelang penutupan jendela transfer musim panas, membuat kesebelasan-kesebelasan English Football League (EFL) yang terdiri dari Liga Primer Inggris, Divisi Championship, League One, dan League Two berencana membuat kebijakan untuk mengubah waktu penutupan bursa transfer musim panas pada musim 2018/2019. Pada musim depan, EFL rencananya akan menutup jendela transfer sebelum kompetisi dimulai.

Tentu itu berbeda dengan musim-musim sebelumnya, termasuk musim ini, di mana jendela transfer musim panas baru akan ditutup saat kompetisi sudah berjalan. Seperti pada musim 2017/2018 ini, jendela transfer musim panas baru akan ditutup pada 31 Agustus mendatang, merujuk pada waktu tersebut maka semua aktivitas transfer musim panas ini baru ditutup ketika Liga Primer yang dijadikan rujukan utama sudah berjalan selama kurang lebih tiga pekan.

Pada 7 September mendatang, dikabarkan The Guardian bahwa perwakilan kontestan klub EFL akan mengadakan pertemuan bersama dengan pemegang saham klub untuk membahas masalah tersebut. Dikabarkan bahwa untuk bisa merealisasikan rencana tersebut, setidaknya dua pertiga suara forum harus menyatakan setuju terkait perubahan itu. Artinya harus ada 62 kesebelasan yang menyatakan setuju (merujuk pada jumlah kesebelasan dari empat kompetisi tersebut, jumlahnya total ada 92 kesebelasan).

Guardian mengabarkan juga bahwa sebagian besar kesebelasan dari Liga Primer Inggris seperti Liverpool dan Swansea City sudah setuju dengan rencana tersebut. Hanya beberapa kesebelasan, yang di dalamnya adalah Watford yang menyatakan ketidaksetujuan terhadap rencana tersebut. Tapi, karena pemungutan suara belum dilakukan, maka belum bisa dipastikan jumlah kesebelasan yang setuju atau tidak dengan perubahan jadwal tersebut.

Apapun yang akan terjadi nanti, namun yang jelas alasan dari perubahan tenggat waktu jendela transfer musim panas didasari atas keinginan untuk melindungi klub dari proses kepergian pemain yang berlarut-larut saat jendela transfer musim panas menuju akhir. Hal tersebut diindikasikan membuat sejumlah kesebelasan mengalami kerugian karena tidak bisa memainkan pemain yang bersangkutan.

Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh perusahaan taruhan, Bwin, dalam lima tahun terakhir ada tujuh dari 10 mega transfer melibatkan kesebelasan Liga Primer Inggris, yang terjadi di penghujung jendela transfer musim panas, yang artinya proses tersebut terjadi saat kompetisi sudah dimulai.

Beberapa contoh seperti transfer Gareth Bale ke Real Madrid, Angel di Maria dan Anthony Martial ke Manchester United, Kevin de Bruyne dan Nicolas Otamendi ke Manchester City, serta Mesut Ozil dan Shkodran Mustafi ke Arsenal. Merujuk pada penelitian tersebut, kesebelasan Liga Primer membuat 24% dari penandatanganan pemain dilakukan setelah 15 Agustus, sementara 12% dari penandatanganannya berada pada batas waktu transfer.

Saat ini, beberapa kesebelasan seperti Swansea City, Southampton, dan Liverpool mengalami kegalauan dengan ancaman kehilangan pemain andalannya di akhir jendela transfer musim panas ini. Swansea terancam kehilangan Gylfi Sigurdsson, namun proses transfer pemain Islandia itu sampai dengan saat ini belum ada kepastian. Namun pada laga awal mereka di Liga Primer, Swansea tidak bisa memainkan Sigurdsson karena kepastian masa depan sang pemain yang belum jelas.

Begitu pula dengan Southampton yang tidak bisa memainkan Virgil van Dijk saat mereka bermain imbang 0-0 melawan Swansea pada pekan lalu. Masa depan bek tengah asal Belanda itu tak menentu, di tengah kabar transfer yang melibatkan dirinya dengan kepindahan ke Chelsea, Liverpool, dan Manchester City.

"Kondisi seperti ini benar-benar membuat kami merasa frustrasi, dan saya yakin Southampton juga merasakan hal yang sama dengan kami, mereka pasti merasa frustrasi juga karena tidak bisa memainkan Van Dijk. Saya pikir jika jendela ditutup sebelum musim dimulai, semuanya beres dan kita bisa melanjutkan sepakbola tanpa ada ketakutan kehilangan pemain,” katanya seperti dilansir dari Guardian.

"Pada pertemuan manajer kami di Liga Primer minggu lalu, kami membicarakannya. Sebagian besar kesebelasan mendukung, namun semua harus menyetujuinya, hal tersebut bisa saja terjadi pada tahun depan,” sambung Clement.

Liverpool juga mengalami kondisi yang tak jauh berbeda dengan dua kesebelasan tersebut. Akhir-akhir ini mereka diganggu dengan tawaran Barcelona kepada Philippe Coutinho. Meski pihak klub telah menyatakan Coutinho tidak akan dijual, namun dikabarkan pemain asal Brasil itu telah meminta untuk dijual ke Barcelona.

Liverpool kemudian tidak bisa memainkan Coutinho di laga perdana mereka di kompetisi domestik melawan Watford pada akhir pekan lalu, juga mereka dipastikan kehilangan Coutinho saat mereka bertanding di babak play-off Liga Champions melawan Hoffenheim, Rabu (16/8) dini hari WIB.

Meski terkonfirmasi Coutinho mengalami cedera punggung, namun kabar lain menyebutkan bahwa salah satu alasan pemain berusia 25 tahun itu absen dalam dua laga awal Liverpool tersebut dikarenakan hal lain di luar kondisi kebugarannya itu. Hal tersebut tentunya merujuk pada masa depan Coutinho di Liverpool menyusul gencarnya tawaran Barcelona kepada dirinya.

"Jika jendela transfer ditutup sejak dini, ini akan membantu kami musim ini. Sangat masuk akal jika musim sudah dimulai maka pembenahan skuat pun sudah berakhir," terang Klopp dalam sesi konferensi pers jelang laga melawan Hoffenheim di Jerman.

Efektif atau tidak efektifnya tergantung pada kebijakan yang diambil

Masa aktivitas transfer memang kerap menimbulkan permasalahan tersendiri, karena di bursa transfer memang tidak pernah ada yang pasti. Rencana tersebut bisa saja menjadi solusi untuk menghindarkan kesebelasan di Liga Primer Inggris untuk memagari pemain andalannya dari buruan kesebelasan lain, atau bisa juga untuk membuat perencanaan transfer kesebelasan Liga Primer menjadi lebih matang, sebab kesebelasan tidak perlu lagi dipusingkan dengan rencana belanja pemain ketika kompetisi sudah bergulir.

Tapi, sebenarnya rencana tersebut berpotensi menjadi sebuah aturan yang rumit dan untuk membuat kesebelasan papan atas justru menanggung rugi. Rencana percepatan penutupan bursa transfer musim panas ini baru diwacanakan oleh kesebelasan EFL saja, sementara kompetisi Eropa lainnya, belum ada rencana ke arah sana.

Artinya, hal tersebut tidak akan berpengaruh bagi kesebelasan seperti Barcelona misalnya yang merupakan kontestan La Liga, yang menginginkan Coutinho. Blaugrana bisa saja mendapatkan Coutinho dari Liverpool, meski jendela transfer Liga Primer sudah ditutup, sebab La Liga masih membuka kesempatan bagi kontestannya untuk menambah pemain.

Kalau pun La Liga atau kompetisi Eropa lainnya menerapkan hal yang sama, ini juga diprediksi tidak akan terlalu berpengaruh banyak bagi klub EFL khususnya dari Liga Primer untuk memagari pemain andalannya dari buruan kesebelasan lain. Sebab, jadwal sepak mula masing-masing kompetisi di Eropa berbeda. Misalnya Prancis, yang memulai kompetisi seminggu lebih cepat dari Inggris.

Sementara Spanyol, Italia, dan Jerman baru memulai kompetisi seminggu setelah Inggris memulai pertandingan pertama di kompetisi utama mereka. Jadi, masih ada tenggat kurang lebih selama satu minggu bagi kesebelasan Spanyol, Italia, dan Jerman untuk mengambil pemain dari Liga Primer Inggris, karena toh jendela transfer mereka baru ditutup seminggu setelah Liga Primer.

Kalau hal tersebut terjadi, tentu akan merugikan bagi kesebelasan Inggris yang pemainnya dicomot kesebelasan lain saat bursa transfer musim panas mereka ditutup. Mereka tidak lagi memiliki waktu untuk mencari pemain yang sepadan dengan pemain andalannya yang baru saja lepas ke klub lain.

Aturan FIFA

Mantan pengacara Swansea City, Chris Farnell, mengungkapkan bahwa kemungkinannya rencana tersebut tidak akan berjalan semudah yang diperkirakan. Ada banyak pertimbangan, seperti potensi permasalahan yang akan terjadi, juga legalitas hukumnya. Sehingga ia meyakini bahwa akan sulit bagi EFL untuk mendapatkan izin dari FIFA untuk menerapkan aturan tersebut.

"Saya pikir itu adalah sesuatu yang berasal dari usulan satu atau dua manajer. Perlu dipikirkan dengan matang dengan lebih baik, harus ada perencanaan yang lebih matang," katanya seperti dikutip dari BBC.

Merujuk pada aturan FIFA soal jendela transfer, pemain hanya bisa didaftarkan kesebelasan pada dua periode registrasi yang sudah ditentukan. Di Eropa, dua periode tersebut adalah bursa transfer musim panas dan musim dingin, disesuaian dengan periode yang ditentukan oleh asosiasi masing-masing negara

Periode pertama dimulai setelah musim kompetisi berakhir dan tidak boleh melebihi 12 minggu setelah kompetisi berakhir. Periode kedua, yang biasanya terjadi di tengah musim, tidak boleh melebihi empat minggu setelah kompetisi.
Terkhusus untuk Liga Primer dan Football League, regulasi FIFA menjelaskan bahwa bursa transfer musim panas harus sudah usai per 1 September, atau sebisa mungkin berdekatan dengan waktu tersebut jika 1 September bertepatan dengan akhir pekan. Namun, pemain yang kontraknya sudah habis pada akhir bursa transfer bisa bergabung dengan klub lain di luar periode registrasi yang sudah ditentukan, karena liga di setiap konfederasi dimulai dan berakhir di waktu yang berbeda, hal yang sama juga berlaku bagi bursa transfer di setiap konfederasi.
Contohnya jendela transfer di Amerika Serikat dimulai pada 14 Februari tahun ini dan berakhir pada 8 Mei, sedangkan Tiongkok memulai bursa transfernya pada 1 Januari sampai 28 Januari.

foto: The Sun

Komentar