Tantangan Berat Indonesia di Grup B SEA Games 2017

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Tantangan Berat Indonesia di Grup B SEA Games 2017

Medali emas SEA Games 2017 dari cabang sepakbola adalah target utama federasi sepakbola Indonesia (PSSI) untuk berprestasi di tahun ini. Berbagai cara diupayakan untuk mewujudkan target tersebut, tapi apakah timnas Indonesia benar-benar sudah siap menghadapi gempuran Thailand, Vietnam, Timor Leste, Filipina dan Kamboja di grup B nanti?

Persiapan Indonesia menuju SEA Games 2017 sangatlah serius. Seleksi pemain sudah dilakukan sejak caturwulan pertama 2017. Timnas senior pun ditiadakan untuk sementara waktu. Sebagai gantinya, para pemain kelompok umur di bawah 23 tahun dipanggil membela timnas senior untuk mendapatkan jam terbang lebih banyak. Sejumlah pemain, yang dilahirkan dari regulasi liga mengenai wajib starter tiga pemain U23, merasakan debut timnas senior karena adanya aturan ini.

Terhitung sejak April, skuat timnas Indonesia yang disiapkan untuk SEA Games 2017 pun telah menjalani 8 pertandingan baik itu uji tanding non-resmi maupun pertandingan resmi macam babak kualifikasi Piala Asia 2018. Jumlah tersebut merupakan yang terbanyak dibanding kontestan kesebelasan SEA Games lainnya, khususnya yang berada di Grup B.

Indonesia memang melakukan serangkaian pemusatan latihan untuk memantapkan skuat jelang SEA Games 2017 ini, bahkan sebagian pemain tidak bisa memperkuat klub karena mengikuti pemusatan latihan. Hal yang sama dilakukan juga oleh Filipina (pemusatan latihan di Jepang), tapi tidak selama yang dilakukan Indonesia. Sementara itu Vietnam hanya menyertakan sejumlah pemain di bawah usia 23 tahun mereka membela timnas senior, begitu juga yang dilakukan Kamboja. Untuk Thailand, mereka mengikuti Piala Dubai menghadapi Malaysia, UAE, Tiongkok dan Singapura.

Total 11 pertandingan yang dijalani timnas Indonesia selama 2017 merupakan yang terbanyak di antara kesebelasan dari Grup B lain. Tapi hingga pertandingan terakhir mereka, yaitu pada babak kualifikasi Piala Asia 2018, penampilan Indonesia masih belum meyakinkan. Thailand dan Malaysia yang seharusnya berada di level yang sama dengan Indonesia, tak mampu dikalahkan pada babak kualifikasi Piala Asia.

Dari 11 pertandingan, Indonesia menang lima kali, tiga kali imbang dan tiga kali kalah. Sementara itu Thailand yang bermain di 8 laga kalah sekali, menang empat kali dan imbang tiga kali. Vietnam yang menghadapi Afghanistan, Chinese Taipei dan Jordania tiga kali bermain imbang.

Tapi yang perlu menjadi catatan, dalam 11 laga yang dijalani Indonesia sebagian menghadapi klub lokal macam Persija Jakarta, Persewangi Banyuwangi, Bali United, PS Badung dan Persita Tangerang. Maka bisa dibilang kekuatan Indonesia memang belum teruji benar meski melakoni banyak uji tanding.

Berharap Besar Pada Hansamu Yama, Evan Dimas dan Ezra Walian

Indonesia yang dilatih Luis Milla melakukan proses panjang untuk memilih 21 pemain yang dibawa ke Malaysia (tuan rumah SEA Games 2017). Dalam daftar skuat Indonesia yang dirilis PSSI, Milla berspekulasi dengan hanya membawa tiga bek tengah saja, yaitu Andy Setyo, Hansamu Yama dan Ryuji Utomo, setelah Bagas Adi Nugroho mengalami cedera. Jika dalam situasi genting, mungkin Hanif Sjahbandi yang akan ditarik menjadi bek tengah.

Dari skuat di atas, terlihat hanya dua nama yang cukup punya jam terbang bersama timnas senior; Hansamu Yama dan Evan Dimas. Kehadiran pemain naturalisasi asal Belanda, Ezra Walian, menjadi kekuatan tersendiri bagi timnas Indonesia. Bisa dibilang hanya ketiga pemain yang cukup matang untuk menghadapi kesebelasan seperti Vietnam dan Thailand.

Indonesia sendiri akan menggunakan formasi dasar 4-3-3. Gavin Kwan Adsit dan Ricky Fajrin merupakan andalan Milla di pos full-back kanan dan kiri. Sementara itu Andy Setyo kerap ditandemkan bersama Hansamu. Evan Dimas akan menjadi poros serangan setelah Gian Zola dicoret. Marinus Manewar atau Ezra akan disokong oleh kecepatan Febri Hariyadi atau Saddil Ramdani.

Namun Indonesia juga kerap bertransformasi menjadi 4-2-3-1. Hal itu terlihat kala menghadapi Mongolia di babak kualifikasi Piala Asia 2018 beberapa waktu lalu. Kala itu Osvaldo Haay menghuni sayap kiri, Saddil kanan dan Septian David di belakang Marinus. Di tengah, Evan Dimas diduetkan bersama Hargianto. Ini bisa menjadi opsi alternatif bagi Indonesia.

Akan tetapi Indonesia juga punya pemain-pemain yang bisa memberikan kejutan seperti Saddil, Febri, Marinus, dan Yabes Roni. Keempatnya punya skill individu yang cukup baik. Tinggal bagaimana Milla bisa memaksimalkan potensi para pemuda Indonesia tersebut agar cukup tangguh menghadapi lawan seperti Thailand, Filipina dan Vietnam.

***

Kamboja dan Timor Leste tampaknya bisa ditaklukkan, maka tantangan berat Indonesia di Grup B memang saat menghadapi Thailand, Filipina dan Vietnam. Melawan Thailand, Indonesia sudah terbukti tak berdaya di kualifikasi Piala Asia lalu (bermain imbang dan secara permainan Thailand cukup unggul). Sedangkan Filipina dan Vietnam lambat laun mulai menunjukkan kekuatannya, yang justru mulai melampaui Indonesia.

Maka paling realistis, Indonesia lolos dari grup B dengan status runner-up grup untuk bisa ke semifinal. Apalagi jika Ezra bisa cepat menyatu dengan pemain Indonesia lain yang sudah menjalani pemusatan latihan cukup lama, kans Garuda Muda bisa melangkah ke semifinal cukup terbuka lebar.

foto: pssi.org

Komentar