Hal yang Harus Dibenahi Lukaku Jika Ingin Main di Chelsea

Analisis

by Sandy Firdaus 29446

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Hal yang Harus Dibenahi Lukaku Jika Ingin Main di Chelsea

Bagaimana jadinya jika Diego Costa pergi musim depan, dan Romelu Lukaku kembali masuk ke Chelsea? Mari sejenak kita bayangkan.

Diego Costa adalah salah satu elemen penting dalam dua titel juara Liga Primer yang diraih Chelsea pada 2014/2015 dan 2016/2017. Walau sempat menurun penampilannya pada musim 2015/2016, di bawah sentuhan Antonio Conte, Costa dapat menemukan kembali permainan terbaiknya. Ia pun sukses mencetak 22 gol dari 42 penampilannya untuk The Blues di semua kompetisi.

Lalu datanglah kabar mengejutkan tersebut, Conte menyebut bahwa Costa tidak masuk skemanya untuk musim depan, menandakan keretakan hubungan antara Conte dan Costa. Alasan dari retaknya hubungan mereka ini pun beragam, mulai dari unggahan foto Costa di akun Instagram pribadinya serta kekesalan Conte atas Costa yang pernah mengungkapkan ingin main di Liga Tiongkok atau pulang ke Atletico Madrid.

Walau sekarang Diego Costa masih berstatus sebagai pemain Chelsea, tak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi padanya saat bursa transfer musim panas nanti. Costa pun dilanda dilema, karena ia pernah mengungkapkan hanya akan kembali ke Atletico saja jika ia kelak pindah dari Chelsea. Di sisi lain, Atletico pun sedang terkena hukuman embargo transfer dari CAS. Costa tidak bisa mendarat di Atletico pada bursa transfer musim panas ini.

Di saat Costa sedang dilanda dilema, Chelsea pun dikabarkan sedang berburu penyerang baru. Di antara nama-nama yang mereka incar, nama Romelu Lukaku kembali muncul sebagai penyerang incaran Chelsea.

Lukaku dan Chelsea memang terlibat sebuah romantisme tersendiri. Ia direkrut oleh manajemen Chelsea dari RSC Anderlecht pada musim 2011/2012 silam. Ia cukup jarang bermain untuk Chelsea, tapi justru bersinar ketika dipinjamkan. Saat dipinjamkan ke West Bromwich Albion pada musim 2012/2013, ia bersinar dengan mencetak 17 gol dari 38 penampilan. Ketika dipinjamkan ke Everton pada musim 2013/2014, ia menorehkan 16 gol dari 36 penampilan bersama Everton.

Setelah dibeli secara permanen oleh Everton pada musim 2014/2015, Lukaku semakin menggila. Pada musim 2016/2017, ia mampu mengungguli perolehan gol Diego Costa. Lukaku sukses menorehkan 26 gol dari 39 penampilan bersama Everton. Hal yang sama juga ia lakukan pada musim 2015/2016 kala mampu menorehkan 25 gol untuk Everton.

Sekarang, ia berada dalam incaran Chelsea yang menginginkan dirinya kembali. Tapi apakah Lukaku mampu menyesuaikan diri dengan skema dan taktik yang akan diterapkan Antonio Conte?

Menyesuaikan dengan Permainan Dinamis Conte

Bagi Antonio Conte, sosok penyerang bukan hanya sosok yang hanya mencetak gol saja. Dalam filosofi permainan Conte yang mengedepankan tim sebagai satu kesatuan unit, sosok penyerang harus memiliki fungsi yang lebih dari sekadar mencetak gol. Ia harus bisa bertahan, juga harus pandai memberikan ruang bagi kawannya yang lain untuk mencetak gol.

Fungsi ini, walau tidak dijalankan secara maksimal, tapi diperankan dengan baik oleh seorang Diego Costa. Ia memang banyak mencetak gol, tapi ia juga tidak lupa untuk memberikan ruang bagi kawannya yang lain untuk mencetak gol. Hal ini terlihat dari catatan asis yang Costa berikan. Total pada musim 2016/2017, Costa memberikan delapan asis, sedangkan Lukaku hanya tujuh asis.

Bukan soal asis saja, karena tim yang diasuh oleh Conte adalah tim yang dinamis dan fleksibel, seorang pemain harus banyak berlari untuk meng-cover seluruh area yang ada di lapangan. Dalam hal ini, Costa bisa dibilang unggul dari Lukaku. Sky Sports melansir bahwa distanced covered per pertandingan Costa lebih tinggi dari Lukaku.

Penyerang asal Spanyol tersebut mampu meng-cover area seluas 9,75 km per pertandingan, dan masuk ke peringkat ke-35 dari 48 penyerang di Liga Primer soal distance covered per pertandingan. Sedangkan Lukaku hanya mampu meng-cover area seluas 8,84 km per pertandingan, dan berada di peringkat paling buncit soal distance covered dibandingkan penyerang lain di Liga Primer.

Soal sprint pun Lukaku masih kalah dari Costa. Costa mampu mencatatkan 62,73 sprint per pertandingan, dan masuk peringkat ke-14 dari 48 penyerang di Liga Primer soal sprint. Sedangkan Lukaku hanya mencatatkan sprint sebanyak 44,77 per pertandingan, dan berada di peringkat ke-42 dari 48 penyerang di Liga Primer soal sprint.

Kalau memang Lukaku kelak ingin pulang ke Chelsea, maka ia bisa mulai beradaptasi dengan cara mengikuti gaya Conte yang dinamis. Ia bisa mulai banyak berlatih sprint, agar kelak bisa ikut dalam gaya bermain Chelsea. Jika tidak, bukan tidak mungkin torehan golnya akan lebih sedikit dari Diego Costa pada musim lalu, yang artinya kembali mengalami musim yang sulit di Chelsea.

Harus Bisa Bertahan

Selain soal menyesuaikan diri dengan permainan dinamis Chelsea, ada satu hal juga yang harus diperbaiki oleh Lukaku jika ingin masuk dalam tim Conte. Penyerang dalam tim Conte adalah penyerang yang harus bisa bertahan, dalam artian lebih jauh, ia harus bisa menangkal serangan balik dari lawan sejak dari area depan.

Dalam soal bertahan, Costa unggul atas Lukaku. Selama musim 2016/2017, total ia mencatatkan 18 kali intersep dan 52 kali percobaan tekel, salah satu yang cukup banyak untuk seorang penyerang. Sedangkan Lukaku, ia hanya mencatatkan sekali intersep dan 33 kali percobaan tekel selama musim 2016/2017 kemarin.

Dengan aksi bertahan yang cukup sedikit ini, terlihat bahwa Costa lebih baik dalam soal bertahan daripada Lukaku. Ia pun kerap bisa menangkal serangan berbahaya lawan, dan aktif menekan lawan di lini pertahanan lewat tekel dan juga coverage area depan yang cukup luas. Hal ini jarang Lukaku lakukan selama membela Everton, karena ia fokus dalam mencetak gol.

Jika memang Lukaku ingin mencoba peruntungannya di Chelsea, ia juga harus meningkatkan aspek bertahannya ini.

***

Seorang pandit yang juga merupakan legenda Liverpool, Jamie Carragher, mengungkapkan kritiknya untuk Lukaku. Ia meminta penyerang asal Belgia tersebut untuk belajar dari Didier Drogba, soal memberikan pengaruh kepada tim lebih dari sekadar gol semata. Kehadirannya sebagai penyerang mesti terasa.

"Salah satu kritik saya terhadap Lukaku adalah soal keberadaannya. Walau saya tak ingin membandingkannya dengan (Didier) Drogba, tapi ia sebenarnya memiliki atribut yang dimiliki Drogba. Sayangnya ia kerap tidak terasa kehadirannya di lapangan. Beda dengan Drogba yang sampai pertandingan selesai, tetap bisa menekan bek-bek lawan," ujar Carra seperti dilansir Sky Sports.

"Ketika Lukaku tidak mencetak gol, saya rasa ia harus tetap memberikan pengaruh untuk tim. Inilah yang harus ia perbaiki ke depannya. Pemain yang baik adalah pemain yang dapat memberikan pengaruh untuk sekelilingnya," tambahnya.

Sekarang Lukaku masih berusia 24 tahun. Ia masih bisa berkembang menjadi penyerang sekaligus pemain hebat di masa depan. Namun jika memang musim depan ia ingin membela Chelsea, tampaknya atribut-atribut di atas harus ia penuhi terlebih dahulu.

Komentar