Prediksi Final UCL: Juventus vs Real Madrid

Analisis

by Dex Glenniza 75581

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Prediksi Final UCL: Juventus vs Real Madrid

Juventus dan Real Madrid sama-sama memiliki motivasi tinggi untuk menjuarai Liga Champions UEFA. Keduanya akan bertemu pada Minggu (04/06) dinihari di Millenium Stadium, Cardiff, Wales. Juventus sedang mengejar tiga gelar setelah sebelumnya mereka berhasil menjuarai Serie A Italia dan Coppa Italia, sementara Real Madrid mengejar rekor 12 kali menjuarai Liga Champions dan juga mencatatkan sejarah sebagai kesebelasan pertama yang mampu dua kali berturut-turut menjuarai Liga Champions.

Pertarungan kedua kesebelasan dianggap akan sangat menarik. Real Madrid adalah kesebelasan dengan penyerangan terbaik di Liga Champions musim ini, mencetak 32 gol dengan rata-rata 19,6 tembakan per pertandingan. Sementara itu, Juventus adalah kesebelasan dengan pertahanan terbaik, mereka baru kebobolan tiga gol di Liga Champions musim ini.

Juventus dan Real Madrid sudah bertemu 18 kali di kompetisi Eropa, yang kesemuanya adalah di Liga Champions. Masing-masing kesebelasan sudah menang delapan kali dan imbang dua kali. Keduanya pernah bertemu di final pada edisi 1997/1998. Saat itu Real Madrid berhasil menang dengan skor 1-0.

Dilema Allegri dan Zidane untuk memainkan formasi awal

Manajer Real Madrid, Zinedine Zidane, masih menunggu kondisi Gareth Bale untuk bisa tampil di negara kelahirannya. Meskipun ia sudah mulai berlatih, tapi ia sudah lama tidak bermain. Bersama Bale, Real Madrid biasa memainkan 4-3-3 dengan fokus pada dua pemain sayap mereka, yaitu Bale bersama Cristiano Ronaldo.

Namun, sepertinya Bale akan diistirahatkan, dan baru akan dimainkan di babak kedua apalagi jika Real Madrid benar-benar membutuhkan gol atau penyegaran pada penyerangan mereka.

Jika benar, maka ini membuat Zidane lebih berpotensi memainkan Isco di posisi lubang di belakang duet Ronaldo dan Karim Benzema, yang berarti Los Merengues akan memasang formasi 4-3-1-2 di awal pertandingan.

Sementara itu, Juventus memiliki pilihan untuk memainkan formasi dasar 4-2-3-1 atau 3-4-2-1. Dengan pola dasar 4-2-3-1, La Vecchia Signora akan membuat dua gelandang bertahan bisa melakukan tekanan ketika Real Madrid mengalirkan bola dari pertahanan mereka ke lini tengah.

Akan tetapi, jika Massimiliano Allegri, manajer Juventus, memainkan pola dasar 3-4-2-1, maka mereka akan bermain lebih melebar, berusaha unggul jumlah pemain dengan Real Madrid dalam situasi bertahan maupun menyerang, yaitu menggunakan dua wing-back untuk menekan kedua full-back Real Madrid.

Begitu juga Paolo Dybala atau Mario Mandžukić yang bisa turun untuk mengungguli jumlah pemain di lini tengah, yang merupakan salah satu cara Los Blancos dalam bertahan.

Menyikapi dilema antara pemilihan formasi ini, Giorgio Chiellini berpendapat bahwa itu tidak akan ada bedanya. “Tidak penting kami memasang tiga atau empat bek di lini pertahanan, semuanya relatif. Kesebelasan ini bertahan dengan 11 pemain,” kata bek asal Italia tersebut pada laman resmi Juventus.

Apa yang dikatakan Chiellini memang benar. Formasi dasar di awal pertandingan tidak menjadi patokan khusus posisi pemain saat tak menguasai bola, baik itu ketika bermain dengan pola dasar 4-2-3-1 maupun 3-4-2-1. Saat bertahan, Juventus bisa terlihat memakai pola 4-4-2 atau 5-3-2.

Namun, Juventus rasanya akan lebih memilih memainkan pola dasar 3-4-2-1 karena sistem ini bisa membuat Juventus kuat ketika menyerang sekaligus memaksimalkan Daniel Alves pada posisi wing-back kanan.

Sementara itu, jika Alves sudah agak lelah, Allegri bisa tetap mempertahankan permainan melebarnya di sayap kanan dengan mengganti salah satu bek tengah mereka, biasanya Andrea Barzagli, dengan Juan Cuadrado. Ini berarti akan mengubah skema dari 3-4-2-1 menjadi 4-2-3-1 yang lebih rigid. Hal ini Allegri lakukan saat menghadapi Barcelona di perempat-final dan AS Monaco di semi-final Liga Champions musim ini.

Perkiraan susunan pemain Juventus dan Real Madrid

Sama-sama mengandalkan bek sayap

Zidane tahu jika Juventus adalah kesebelasan yang kuat dalam bertahan. Oleh karena itu, ia akan memainkan sistem yang bisa menjaga permainan agar tetap cair ketika menyerang, tapi juga sekaligus bisa seimbang ketika bertahan.

Namun, jika kita lihat perjalanan Juventus menuju ke final, I Bianconneri bisa meladeni tekanan dari tengah sepanjang waktu. Menekan di wilayah tengah ini merupakan cara Real Madrid. Masalahnya, Barcelona (kesebelasan yang membangun serangan dari belakang) dan Monaco (kesebelasan yang menyerang lebih direct) saja berhasil diladeni dengan baik oleh Juventus.

Satu hal yang sepertinya jelas, kedua kesebelasan akan bermain melebar ketika menyerang dengan sama-sama memaksimalkan kedua bek sayap mereka, yaitu Alex Sandro dan Alves bagi Juventus, serta Marcelo dan Daniel Carvajal bagi Real Madrid.

Di sini lah sebenarnya Real Madrid berpotensi memiliki masalah yang lebih besar dibandingkan dengan Juventus.

Jika ada salah satu pemain yang harus diantisipasi Zidane, ia adalah Alves. Jujur saja, Ronaldo kemungkinan besar tidak akan melakukan track-back. Ini membuatCasemiro (yang mungkin akan dibantu Luka Modrić) bekerja keras menghadapi Alves danCuadrado yang biasanya baru akan dimainkan di babak kedua.


Baca juga: Duel Tagar Finalis Liga Champions, #ItsTime vs #APorLa12


Seperti yang sudah disebutkan di atas, Allegri kemungkinan akan mengawali pertandingan dengan 3-4-2-1 dengan Alves sebagai wing-back, tapi kemudian di babak kedua Cuadrado akan bermain, mengubah skema Juventus dari tiga bek menjadi dua bek, yang membuat Alves turun sebagai full-back kanan dan Cuadrado sebagai winger kanan.

Kecenderungan Modrić dan Kroos untuk naik menekan dan memenuhi lini tengah akan membuat Alves atau Cuadrado mendapatkan banyak ruang. Ditambah lagi pola penyerangan melebar Los Blancos akan terlalu bergantung kepada Marcelo dan Carvajal sehingga akan ada banyak ruang kosong di belakang mereka.

Pjanić atau Isco yang bisa diandalkan memecah kebuntuan

Hal menarik akan terjadi jika Allegri dan Zidane berhasil mematikan permainan melebar lawannya masing-masing, terutama bagi Zidane yang hampir selalu tepat dalam merespons taktik lawan. Jika hal ini terjadi, maka Miralem Pjanić dari Juventus dan Isco dari Real Madrid berpotensi menjadi pemain kunci dalam memecah kebuntuan.

Dalam keadaan terdesak, Pjanić akan berusaha menyambungkan permainan dengan Dybala yang bergerak turun mencari ruang sekaligus menghidari agresivitas Casemiro. Akurasi operan Pjanić juga akan menjadi krusial jika Juventus masih kesulitan menembus pertahanan Real Madrid yang akan memadatkan lini tengah.

Sementara itu, Isco yang bermain di posisi lubang akan melihat peluang untuk bergerak turun dan naik serta melebar ke kanan dan ke kiri untuk membuat Real Madrid unggul jumlah pemain ketika menyerang.

Di atas kertas, duel Juventus dan Real Madrid akan sangat menarik dalam menyajikan perang taktik antara kedua manajer.

Kalaupun pertandingan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu, maka memaksimalkan situasi bola mati akan menjadi kunci lainnya. Set-piece, umpan silang, atau kombinasi antara kedua hal ini yang menjadi kelemahan bagi kedua kesebelasan. Akan tetapi, Juventus patut ekstra hati-hati karena Real Madrid memiliki Sergio Ramos.

Selamat menikmati final Liga Champions.

Komentar