Enam Hal yang Akan Menjadi Kunci Comeback Atlético

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Enam Hal yang Akan Menjadi Kunci Comeback Atlético

Real Madrid memiliki modal berharga saat bertandang ke Vicente Calderón, kandang Atlético Madrid, dinihari nanti. Kemenangan 3-0 di semi-final leg pertama Liga Champions UEFA akan membuat beberapa hal menjadi mudah untuk Real, dan beberapa hal lainnya menjadi sangat sulit untuk Atlético.

Sangat sulit di sini memang bukan mustahil. Diego Simeone, manajer Atlético, pasti tahu akan hal tersebut, sehingga ia bukan hanya butuh kesebelasannya untuk mencetak banyak gol, tetapi juga untuk tidak kebobolan.

Dalam pertemuan-pertemuan kedua kesebelasan di Liga Champions, Atlético Madrid selalu berhasil disingkirkan dari Real Madrid. Dua di antara tiga pertandingan tersebut terjadi di final dan selalu berakhir lebih dari 120 menit.

Masalah bagi Atlético kemudian akan hadir karena Real tidak pernah gagal mencetak gol selama lebih dari satu tahun. Dalam 60 pertandingan terakhir mereka, Cristiano Ronaldo dkk selalu berhasil mencetak gol.

Terakhir kali Real gagal mencetak satupun gol di segala kompetisi adalah ketika leg pertama semi-final Liga Champions musim lalu melawan Manchester City. Saat itu, bukan kebetulan juga Ronaldo absen akibat cedera.

Zinedine Zidane, manajer Real, mengatakan saat konferensi pers bahwa ia akan melupakan leg pertama seolah pertandingan leg kedua ini adalah pertandingan tunggal pada laga dinihari nanti. Artinya, secara tidak langsung Zidane mengincar gol cepat untuk mengubur harapan Atlético melaju ke final.

Berseberangan dengan itu, Simeone harus ingat jika Atlético benar-benar pernah mengalahkan Real dengan skor 4-0 di Vicente Calderón pada Februari 2015. Saat Atlético mampu mencetak dua gol cepat pada 20 menit awal pertandingan. Real yang saat itu dipimpin oleh Carlo Ancelotti juga harus kehilangan Luka Modric, Pepe, Sergio Ramos, dan Marcelo.

Akan tetapi, hal yang sama tidak akan mudah terjadi pada Real yang dilatih oleh Zidane. Manajer asal Prancis ini sebelumnya selalu mampu memecahkan masalah cedera pemainnya, termasuk Gareth Bale yang digantikan dengan Isco untuk memadatkan lini tengah alih-alih menambal penyerangan. Ditambah juga respons taktik Zidane hampir selalu jitu, seperti memaksimalkan umpan silang.

Selama Atlético dilatih oleh Simeone, mereka adalah kesebelasan yang sangat disiplin saat bermain tanpa bola (off the ball). Atlético biasanya memainkan garis pertahanan rendah dan justru seperti “mengundang” lawan untuk ditekan. Dengan bermain menyempit, mereka juga biasanya menekan secara lateral (membuat lawan terdesak ke pinggir lapangan) bukan vertikal (membuat lawan terdesak ke belakang).

Pendekatan ini sebenarnya jitu pada leg pertama. Atlético bermain dengan formasi 4-4-2 sejajar menyempit dan mengandalkan pressing lateral untuk melakukan serangan balik. Cara ini berhasil mematikan dua full-back Real, Dani Carvajal dan Marcelo. Kedua pemain ini adalah pemain yang paling mendukung permainan melebar Real.

Namun, Zidane merespons tekanan tersebut dengan memenuhi lini tengah dan menciptakan umpan-umpan silang dan bola-bola panjang dari gelandang-gelandang mereka.

Perang taktik dan perang counter-tactic dari masing-masing lawan

Pada leg kedua nanti, Simeone bisa saja tetap menekan Real sambil melakukan transisi dari bertahan ke menyerang dengan baik. Ada beberapa cara taktikal dan non-taktikal untuk mendukungnya.

Pertama, ia bisa melancarkan permainan jika kepadatan lini tengah sudah berhasil diciptakan. Ia bisa memainkan skema tiga bek agar pemain lainnya (selain ketiga bek tengah) bisa lebih berkonsentrasi di lini tengah dan lini depan. Secara taktikal, sebenarnya tidak harus tiga bek (3-5-2 misalnya), melainkan bisa juga mempertahankan dua bek tengah sambil mendorong full-back menjadi gelandang ekstra (menjadi 2-2-4-2).

Kemudian cara kedua, ia bisa mengeksploitasi kelemahan Real yang sejauh ini adalah saat menghadapi umpan silang. Ini cukup ironis, mengingat Real mengandalkan umpan silang saat menyerang.

Namun begitu juga sebaliknya, Zidane bisa mengekploitasi Atlético. Secara umum, kepadatan lini tengah ini memang akan menjadi kunci. Pada leg pertama, Zidane melakukannya dengan memainkan 4-4-2 berlian dengan Isco sebagai gelandang ekstra, sementara Atlético bisa melakukannya di leg kedua nanti dengan mengubah skema permainan mereka.

Akan tetapi, jika Atlético benar-benar bisa membuat lini tengah menjadi dipadati oleh pemain-pemain mereka, bukan hanya oleh pemain-pemain Real, maka Zidane bisa saja melakukan perubahan lainnya yang menjadi kunci ketiga dengan kembali memainkan permainan sayap. Di leg pertama, ia melakukannya dengan memasukkan pemain-pemain bertipikal winger seperti Lucas Vázquez dan Marco Asensio.

Dari poin di atas, kita bisa menerka jika pergantian pemain yang efektif juga akan menjadi kunci keempat pada pertandingan dinihari nanti.

Jika taktik tidak bisa memenangkan pertadingan, Atlético bisa mencari kunci kelima mereka, yaitu melalui kegigihan dan semangat pantang menyerah seperti yang dipertotonkan Barcelona yang bisa mengembalikan ketertinggalan 4-0 saat menghadapi Paris Saint-Germain di babak 16 besar Liga Champions musim ini.

Sementara terakhir, dukungan penonton Atlético di Vicente Calderón sekaligus hujatan untuk para pemain Real dari para penonton tuan rumah, mungkin akan menjadi kunci lainnya jika pertandingan berhasil dilanjutkan sampai ke babak perpanjangan waktu.

Jadi, ada enam kunci pada pertandingan dini hari nanti yang akan membawa satu di antara dua kesebelasan Madrid ini melaju ke final di Cardiff, yaitu kepadatan lini tengah, eksploitasi kelemahan lawan, perubahan skema permainan untuk merespons taktik, pergantian pemain yang efektif, semangat pantang menyerah, dan juga dukungan/hujatan penonton di Vicente Calderón.

Meskipun Real memiliki modal kemenangan 3-0 di leg pertama yang sangat berharga, tapi adu taktik antara Simeone dan Zidane akan kembali tersajikan dinihari nanti, terutama bagaimana Simeone memulainya dan bagaimana Zidane meresponsnya. Tapi ingat, semuanya bisa saja buyar jika Real mampu mencetak gol terlebih dahulu.


Baca pratinjau selengkapnya: Comeback Bukan Hal yang Mustahil bagi Atlético


Foto diambil dari The Guardian.

Komentar