Menilai Kesuksesan Ajax dari Perspektif Khusus

Analisis

by redaksi 69924

Menilai Kesuksesan Ajax dari Perspektif Khusus

Ajax Amsterdam berhasil membukukan kemenangan telak 4-1 saat jumpa Olympique Lyonnais di laga semi-final leg pertama Liga Europa UEFA. Dalam pertandingan yang berlangsung di Amsterdam ArenA, Kamis (04/05) dini hari WIB itu, kemenangan Ajax ditentukan oleh gol-gol yang masing-masing dicetak oleh Bertrand Traore (dua gol), Kasper Dolberg, dan Amin Younes. Sementara gol Lyon dicetek Mathieu Valbuena.

Kemenangan tersebut membuat peluang Ajax lolos ke babak final Liga Europa terbuka lebar, sebab mereka hanya perlu bermain imbang atau kalah kurang dari 3-0. Tentu tim asuhan Peter Bosz itu akan berupaya keras mempertahankan keunggulan mereka saat bertandang ke Parc Olympique Lyonnais pada pekan depan di semi-final leg kedua.

Jika mereka berhasil lolos ke final, peluang mereka untuk meraih trofi di kompetisi Eropa terbuka lebar. Maklum, kali terakhir kesebelasan berjuluk De Godenzonen menjuarai kompetisi Eropa terjadi pada musim 1994/1995 tepatnya di Liga Champions UEFA. Sementara di Liga Europa yang sebelumnya bernama Piala UEFA, Ajax kali terakhir menjadi juara pada tahun 1991/1992.

Tentu bukan hal yang mustahil bagi Ajax bisa mengulang kembali memori indah di tahun 1992 itu. Mengingat, peluang tersebut sangat terbuka lebar, asal bisa mempertahankan kemenangan atas Lyon, dan bermain habis-habis saat jumpa pemenang antara Manchester United atau Celta de Vigo di babak semi-final lainnya.

Pabriknya pemain muda dan calon pesepakbola kelas dunia

Menarik melihat kiprah Ajax di kompetisi Eropa musim ini. Mereka mampu bersaing dengan kesebelasan-kesebelasan lain hingga mencapai babak semi-final dengan mengandalkan rata-rata pemain muda dalam skuatnya. Tercatat, hanya Heiko Westermann (33) dan Lasse Schöne (30) yang memiliki usia yang sudah menginjak kepala tiga. Ajax memiliki skuat yang rata-rata berusia 22 tahun 6 bulan.

Hebatnya, selain banyak dihuni oleh para penggawa muda, rata-rata pemain yang menghuni skuat Ajax merupakan pemain asli binaan mereka sendiri. Memang bukan sebuah hal yang aneh bila melihat Ajax lebih condong mengandalkan pemain binaannya sendiri sebagai tulang punggung kesebelasan. Rasanya, hal tersebut memang sudah mereka terapkan sejak bertahun-tahun silam.

Sebuah hal unik dari kesebelasan yang berdiri pada tahun 1900 itu, Ajax yang berstatus sebagai tim besar di sepakbola Belanda juga tergolong sebagai yang tersukses lebih memilih menggunakan pemain asli binaan sendiri ketimbang membeli pemain dari luar. Bisa dibilang, mereka antitesis dari kesebelasan-kesebelasan elite Eropa pada umumnya, yang gemar menghamburkan uang untuk membeli pemain dari luar akademinya.

Alasan paling logis bagi Ajax melakukan hal tersebut karena mereka merupakan salah satu tim yang memiliki akademi sepakbola terbaik di dunia. Soal pembinaan pemain muda, Ajax tergolong sebagai tim yang paling serius. Akademi Ajax dilengkapi fasilitas penunjang yang tergolong komplet. Terdapat delapan lapangan pertandingan dengan perawatan yang tak kalah bagus.

Akademi Ajax juga memiliki beberapa fasilitas penunjang lain seperti gedung olah raga, ruang kelas, gimnasium, kantor pelatih, dan pusat sport science. Dalam setahun, Ajax ditaksir harus merogoh kocek dana sebesar 6 juta euro (Rp 82,6 miliar) untuk merawat kompleks olahraga seluas 14 hektar itu.

Selain itu, dengan pembinaan pemain muda yang masif digencarkan, sering kali membuat mereka mendapat untung berlipat. Akademi Ajax memang terkenal sebagai pabrik pesepakbola andal asal Belanda. Banyak pemain berkualitas bermunculan dari akademi tersebut. Beberapa nama seperti Johan Cruyff, Marco van Basten, Edgar Davids, Edwin van der Sar, Rafael van der Vaart, Wesley Sneijder, Daley Blind, dan masih banyak lagi nama-nama tenar lainnya yang merupakan alumni akademi Ajax.

Dengan kemampuan mencetak pesepakbola handal, Ajax banyak mendapatkan dana besar dari penjualan pemain binaannya sendiri. Contohnya Wesley Sneijder. Mulai dilatih Akademi Ajax pada usia 7 tahun, pada usia 23 tahun dibeli Real Madrid dengan nilai 27 juta euro (sekitar Rp 371,6 miliar).

Hasil pendapatan Ajax dari menjual bibit unggulnya ke kesebelasan lain, tentu menjadi keuntungan untuk menghidupi tim selain dana segar yang berasal dari sponsor, hak siar, atau bahkan penjualan merchandise resmi kesebelasan.

Mungkin, inilah yang menyebabkan Ajax lebih senang menggunakan pemain binaan sendiri. Sebab, selain bisa mendapatkan untung dari hasil penjualan pemain, umumnya pemain asli binaan kesebelasan memiliki motivasi lain saat mereka bisa membela kesebelasan yang telah mendidiknya sejak kecil.

Timnas Belanda yang bergantung pada Ajax

Selain tulang punggung bagi kesebelasan, ternyata pemain hasil didikan Akademi Ajax juga sering menjadi andalan bagi Tim Nasional Belanda. Lebih dari kata andalan, mungkin tulang punggung dirasa lebih tepat.

Bersambung ke halaman selanjutnya: Ketergantungan timnas Belanda kepada Ajax dan cara tepat menilai kesuksesan Ajax

Komentar