Perdebatan Gol Ronaldo dan Respons Tepat Real Madrid

Analisis

by Dex Glenniza 54731

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor at Pandit Football Indonesia, head of content at Box2Box Football, podcaster at Footballieur, writer at Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Perdebatan Gol Ronaldo dan Respons Tepat Real Madrid

Tiga gol Real Madrid yang semuanya dicetak oleh Cristiano Ronaldo berhasil membenamkan Atlético Madrid di semi-final leg pertama Liga Champions UEFA. Kemenangan 3-0 di kandang sendiri ini menjadi modal berharga bagi pasukan Zinedine Zidane untuk menjalani leg berikutnya pada tengah pekan depan.

Diego Simeone menyetel kesebelasannya untuk tampil disiplin dalam melakukan pressing sejak awal pertandingan. Dengan strategi ini, Atlético sebenarnya sudah merencanakan leg pertama ini dengan matang. Tekanan yang mereka lakukan adalah tekanan lateral (tekanan dengan fokus membuat lawan terdesak ke sisi lapangan) yang membuat Real Madrid kesulitan membangun serangan karena Real dipaksa untuk mengalirkan bola ke sayap sepanjang pertandingan.

Selama ini Real mengandalkan permainan sayap mereka melalui kedua full-back, yaitu Dani Carvajal di kanan dan Marcelo di kiri, ditambah karena Gareth Bale (winger) juga sedang cedera. Dengan menekan secara lateral, bukan vertikal (tekanan dengan fokus membuat lawan terdesak ke belakang), para pemain Atlético membuat kedua full-back Real menjadi terbatas dalam melakukan operan.

Kedua sayap Atlético, Koke dan Yannick Carrasco adalah dua pemain yang bertugas menekan kedua full-back Real. Sementara Antoine Griezmann dan Kévin Gameiro bertugas menutup jalur operan ke tengah sekaligus menekan ketika bola dikembalikan oleh full-back kepada bek tengah.

Sekilas, strategi ini terlihat cukup aman. Apalagi Atlético juga sudah sering memperagakannya sebagai kesebelasan yang disiplin saat bertahan dan transisi menuju penyerangan.

Namun, Real mampu mengakali tekanan ini. Absennya Bale membuat Zidane tidak bisa menurunkan dua winger (biasanya Bale dengan Ronaldo). Sebenarnya ia bisa saja memilih Lucas Vázquez atau Marco Asensio, tapi ia justru lebih memilih Isco.

Pemilihan Isco ini bukannya tanpa alasan. Zidane membuat Isco berperan sebagai gelandang ekstra alih-alih winger. Gelandang asal Spanyol ini bisa dibilang memiliki peran yang bebas, tapi beberapa kali kita bisa melihatnya bergerak ke tengah untuk memenuhi lini tengah Real, menciptakan bentuk berlian bersama tiga gelandang Real, sehingga mampu mengantisipasi pressing lateral Atlético.

Tekanan Atlético terhadap Carvajal dan Marcelo, ditambah dengan Isco yang bergerak bebas, juga justru membuat Atlético seolah lupa dengan kehadiran Toni Kroos. Kedua full-back Real memang tidak memberikan dampak melalui umpan silang (hanya dua umpan silang Marcelo, itupun keduanya tidak tepat sasaran), tapi Kroos malah berhasil mencatatkan 10 crossing dari total 15 crossing yang dibuat oleh seluruh pemain Real.

Umpan-umpan silang ini sangat berpengaruh bagi Madrid karena mereka membangun serangan melalui cara ini. Umpan silang juga yang mampu memaksimalkan Ronaldo (sebagai ujung tombak, bukan sebagai winger) sehingga ia bisa mencetak hat-trick meskipun gol pertama berbau offside.

Perdebatan offside Ronaldo pada gol pertama

Kecurigaan offside-nya Ronaldo ini terjadi pada umpan silang pertama di gol pertamanya. Saat umpan silang pertama itu, Ronaldo memang berada pada posisi offside. Bola juga sebenarnya mengarah kepada Ronaldo meskipun tidak berhasil sampai menyentuh Ronaldo.

Tapi ia tidak dianggap offside (meskipun berada pada posisi offside) karena wasit tidak menganggap aksi lompatannya memiliki dampak atau tidak dianggap mengganggu permainan. Hal ini yang menimbulkan perdebatan. Karena jika wasit menganggap Ronaldo mengganggu permaianan (artinya ia offside), perdebatan lainnya juga sebenarnya akan terjadi.

Gol Ronaldo sendiri hadir saat umpan silang pertama itu berhasil dimentahkan oleh pertahanan Atlético (disapu melalui sundulan), tapi kemudian sapuan tersebut mendarat di kaki Casemiro yang kemudian mengirimkan umpan silang kedua kepada Ronaldo (pada saat ini baru posisi Ronaldo onside) yang menyundul bola masuk ke gawang Jan Oblak.

Tidak ada perdebatan sengit lagi setelah gol pertama itu. Papan skor yang menunjukkan hasil akhir 3-0 juga membuat perdebatan tersebut sebenarnya tidak terlalu berpengaruh. Sama seperti aksi Ronaldo yang dianggap oleh wasit tidak memiliki dampak kepada permainan, perdebatan kitapun tidak memiliki dampak kepada papan skor.

Rencana taktik yang tepat dari Simeone, tapi eksekusi taktik yang buruk dari para pemain Atlético

Banyak yang mengira jika Atlético akan bertahan dengan garis pertahanan rendah dan mengandalkan serangan balik di kandang Real ini. Kenyataan bahwa mereka melakukan pressing lateral untuk kemudian mencuri serangan balik (output-nya sama) adalah taktik yang berani dari Simeone; dan kalau boleh jujur, itu adalah taktik yang jitu.

Namun eksekusi mereka yang buruk membuat Simeone harus kecewa. Banyaknya operan gagal di sepertiga akhir lapangan membuat Griezmann dkk harus kecewa karena hanya berhasil mencatatkan satu tembakan tepat ke arah gawang (dari total 4 percobaan), dan itupun baru terjadi di menit ke-90 dari Diego Godín. Padahal Real mampu mencatatkan 17 tembakan (7 on target). Jumlah operan Atlético juga hanya dua yang tepat sasaran sampai ke kotak penalti Real.

Taktik Simeone ini sebenarnya dirancang untuk menekan dan menyerang, bukan bertahan dan menyerang. Oleh karena itu, penghakiman yang tepat untuk taktik ini memang bukan dari baiknya pertahanan (seperti pertandingan-pertandingan Atlético pada umumnya), melainkan dari efektivitas peluang. Simeone berhak kecewa dengan anak-anak asuhannya.

Di lain pihak, Zidane dianggap bisa memaksimalkan para pemainnya. Ia merancang kesebelasannya untuk memadati lini tengah dengan mengorbankan Carvajal dan Marcelo "dimatikan" oleh tekanan lateral Atlético di sisi lapangan, tapi sambil juga membuat Isco bergerak bebas mengacak-acak lini tengah dari dalam sementara Kroos melepaskan crossing dan bola-bola panjang.

Di akhir babak kedua, permainan Real sempat berubah kembali dengan mengandalkan sayap setelah Zidane memasukkan Asensio dan Vázquez, sekaligus membuat lini tengah menjadi "bolong". Ia berani melakukan ini karena melihat Atlético juga sudah frustrasi dengan tidak bisa menjaga bentuk formasi mereka untuk mengejar defisit gol.

Risiko yang diambil Zidane ini ternyata mampu membuat Real mencetak gol ketiga, lagi-lagi melalui umpan silang tapi kali ini umpan silang datar. Kemampuan merespon taktik Simeone dengan tepat yang membuat Ronaldo bisa dimanjakan dengan umpan-umpan silang Real tersebut. Membalikkan skor 3-0 di leg kedua tentunya akan sangat berat bagi Simeone dan Atlético.

Nantikan analisis selengkapnya di About the Game.

Komentar