Pratinjau Man City vs Man United: Pertarungan Kebugaran dan Mentalitas

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Pratinjau Man City vs Man United: Pertarungan Kebugaran dan Mentalitas

Pertandingan derby Manchester antara tuan rumah Manchester City dan tamunya, Manchester United, akan digelar dini hari nanti (28/04). Meskipun tidak beraroma gelar juara, pertemuan antara Josep Guardiola dan José Mourinho tetap akan selalu dinantikan.

Setelah disingkirkan 2-1 oleh Arsenal di semi-final Piala FA akhir pekan lalu, Man City hanya tinggal berlaga di Liga Primer Inggris. Sebelumnya, mereka disingkirkan dari Liga Champions UEFA oleh Monaco dan disingkirkan dari Piala Liga (EFL Cup) oleh Man United. Apakah ini akan menjadi musim tanpa gelar pertama bagi Guardiola? Jika kita realistis, maka selalu ada yang pertama kali, tanpa kecuali untuk Guardiola sekalipun.

City sendiri seperti habis kalah perang melawan Arsenal pada pertandingan Piala FA tersebut. David Silva, Sergio Agüero, dan Fernandinho harus ditarik keluar karena cedera. Mereka bahkan melakukan pergantian pemain keempat.

Selain ketiga pemain di atas, Guardiola juga harus kehilangan Bacary Sagna, John Stones, Gabriel Jesus, dan Ä°lkay GündoÄŸan.

Di sisi lainnya, Mourinho bisa sedikit berbangga karena meskipun sudah terlempar dari perburuan gelar juara Liga Primer (secara realsistis, bukan secara matematis), setidaknya tidak nirgelar seperti guardiola. United telah berhasil meraih gelar Community Shield dan Piala Liga (EFL Cup) musim ini. “Setan Merah” juga masih berpeluang meraih gelar Liga Europa UEFA.

Namun sama seperti City, United juga mengalami badai cedera, bahkan lebih parah. Juan Manuel Mata, Marcos Rojo, Phil Jones, Chris Smalling, dan James Wilson masih tidak bisa merumput. Begitu juga dengan dua pemain andalan Mourinho, Zlatan Ibrahimović yang menderita cedera lutut, serta Paul Pogba. Ander Herrera juga sempat diragukan tampil.

Banyaknya kasus cedera bagi kedua kesebelasan patut disayangkan, karena di saat derby menjelang akhir musim sedang panas-panasnya, kita justru tidak bisa menyaksikan tontonan yang maksimal, apalagi kedua manajer juga memiliki sejarah pertemuan yang selalu menarik.

Badai-badai cedera ini juga secara tidak langsung, seperti blessing in disguise, akan menjadi panggung utama bagi Leroy Sané dan Kevin de Bruyne di Manchester City, serta Marcus Rashford dan Henrikh Mkhitaryan di Manchester United.

Hal positifnya selain itu juga, badai cedera ini bisa saja memaksa kedua manajer untuk menyuguhkan perang taktik, asalkan taktiknya bukan parkir bus saja.

Pertarungan menuju zona Liga Champions

Jika faktor kebugaran pemain dan taktik akan menjadi sedikit tidak maksimal, tidak demikian dengan faktor mental.

United berada di peringkat kelima di klasemen sementara, hanya tertinggal satu poin dari City di peringkat keempat, dan tertinggal tiga poin dari Liverpool di peringkat ketiga. Namun “Setan Merah” masih memiliki dua pertandingan lebih banyak dibandingkan Liverpool, termasuk pertandingan derby nanti.

Sebuah kemenangan melawan City tentunya bisa menguntungkan mereka dalam perburuan lolos ke zona Liga Champions UEFA atau peringkat empat besar.

Namun, United masih memiliki beberapa pertandingan lagi yang tergolong berat di Liga Primer, yaitu bertamu ke Arsenal (07/05, bertamu ke Spurs (14/05), dan bertamu ke Southampton (17/05). Belum lagi mereka juga harus bermain dalam dua leg semi-final Liga Europa menghadapi Celta de Vigo.

Dilema antara Liga Primer dan Liga Europa ini tentunya memecahkan konsentrasi Mourinho. Ia harus memilih karena peringkat empat besar di Liga Primer atau juara Liga Europa sama-sama akan membuat kesebelasannya lolos ke Liga Champions musim depan.

Kemudian, apakah terpecahnya konsentrasi Mourinho dan Manchester United ini kemudian akan menguntungkan Manchester City?

Tidak seperti United, City memiliki sisa pertandingan di Liga Primer yang lebih bersahabat. Jadi, kalaupun mereka kalah di derby nanti, mereka masih bisa menebusnya di lima pertandingan sisa sambil berharap United tertahan di kandang Arsenal, Spurs, ataupun Southampton.

City sendiri memang mengalahkan United di paruh musim pertama, tapi mereka sedang dalam penampilan yang tidak baik, dengan hanya meraih tiga kemenangan dari sembilan pertandingan terakhir mereka (kalah tiga kali dan imbang tiga kali).

Sementara itu, “Setan Merah” tidak terkalahkan dalam sembilan pertandingan terakhir mereka (enam kemenangan dan tiga kali imbang). Kekalahan terakhir yang mereka alami adalah saat kalah 1-0 dari Chelsea di Piala FA (13/03). Kemudian kekalahan terakhir mereka di Liga Primer juga sudah terjadi sangat lama, yaitu saat dikalahkan 4-0 oleh (lagi-lagi) Chelsea pada Oktober 2016.

The Citizens juga terlihat selalu kesulitan pada pertandingan besar, terutama saat melawan tujuh kesebelasan teratas (termasuk Everton dan Arsenal). Di musim ini saja, mereka hanya berhasil menang melawan Man United (10/09/2016) dan Arsenal (18/12/2016) meskipun kemudian kedua kesebelasan tersebutlah yang berhasil menyingkirkan mereka di Piala Liga (kalah dari United) dan Piala FA (kalah dari Arsenal).

Mentalitas akan menjadi kunci

Dari faktor cedera pemain, klasemen, dan rentetan penampilan-penampilan terakhir kedua kesebelasan, kedua manajer sepertinya tidak akan puas dengan hasil imbang kecuali salah satu kesebelasan sudah tertinggal dua atau tiga gol terlebih dahulu.

Ketika kondisi kebugaran akan menjadi kunci, United sebenarnya mengalami badai cedera yang lebih parah daripada Man City. Namun, United memiliki penampilan yang lebih baik dibandingkan City. Meskipun bermain di kandang City, ini adalah keunggulan yang paling berpengaruh bagi Mourinho.

Pada akhirnya, berpengaruh atau tidaknya pada gelar juara, kita harus ingat jika ini adalah Manchester derby antara Guardiola melawan Mourinho pula, jadi akan sangat menarik untuk memprediksi hasil akhir

Komentar