Son Heung-min Bukan Wing Back, Pochettino

Analisis

by Redaksi 33 57318

Redaksi 33

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Son Heung-min Bukan Wing Back, Pochettino

Chelsea sukses melaju ke babak final Piala FA 2016/2017. Menghadapi Tottenham Hotspur di babak semifinal Piala FA di Stadion Wembley, Sabtu (22/4/2017) malam, The Blues sukses mengalahkan The Lilywhites dengan skor 4-2.

Awalnya pertandingan ini berjalan dengan seru. Strategi mirroring yang diterapkan oleh manajer Spurs, Mauricio Pochettino membuat Chelsea sempat sulit menembus pertahanan Spurs, sekaligus direpotkan pula oleh Spurs. Dua kali unggul lewat Willian, dua kali pula Spurs mampu menyamakan kedudukan lewat Harry Kane dan Dele Alli, lewat umpan dari Christian Eriksen (Eriksen dalam pertandingan ini mencetak dua asis).

Namun, walau Spurs mampu menyamakan kedudukan, ada beberapa hal yang membuat mereka akhirnya kalah dari Chelsea dalam pertandingan tersebut. Selain karena kesalahan-kesalahan sendiri yang kerap mereka lakukan di lini pertahanan sendiri, ada satu strategi yang akhirnya menjadi blunder bagi The Lilywhites, yaitu memasang Song Heung-min menjadi wing back.

***

Dalam pertandingan melawan Chelsea, strategi mirroring Spurs menempatkan seorang pemain di posisi yang cukup unik sekaligus aneh. Son Heung-min, pemain yang biasa menempati posisi sebagai gelandang serang ataupun posisi penyerang, pada pertandingan ini ditempatkan sebagai seorang wing back. Ini adalah sebuah kejutan tersendiri yang dilakukan oleh Mauricio Pochettino.

Son memang memiliki kemampuan dribel yang baik serta berani menusuk masuk ke lini pertahanan lawan lewat kemampuan dribelnya itu. Mungkin karena alasan inilah Pochettino menempatkannya sebagai wing back. Ia diharapkan dapat memberikan tekanan kepada Victor Moses, wing back Chelsea sehingga ia tidak bisa banyak maju ke depan dan terkunci di lini pertahanannya sendiri.

Memang pada akhirnya Son cukup banyak membantu penyerangan Spurs dari sisi sebelah kiri. Ia cukup agresif dalam menyerang dan menekan pertahanan Chelsea, sehingga Moses pun kerap kesulitan maju membantu penyerangan Chelsea. Namun pada akhirnya ada satu atribut yang tidak dimiliki Son tapi dimiliki oleh Moses yang notabene sebagai fullback murni: kemampuan trackback.

Jika Son kerap terlalu maju menyerang, atau malah dalam beberapa kesempatan tertarik ke tengah, lain hal dengan Moses. Ia menunjukkan stamina yang luar biasa dan kemampuan trackback nya ini membuatnya menjadi lebih dinamis di sisi kanan. Pada suatu waktu, ia bisa membantu pertahanan Chelsea. Pada kesempatan yang lain, ia bisa memanfaatkan kelengahan Son yang terlalu banyak berada di depan untuk maju membantu penyerangan Chelsea.

Kemampuan trackback inilah yang membuat Son kerepotan. Meski pada awalnya ia mampu menahan pergerakan Moses, pada akhirnya ia dibuat kerepotan oleh stamina luar biasa Moses. Akhirnya ia menjadi penyebab munculnya gol kedua Moses kala jegalannya terhadap Moses (yang disebut oleh komentator pertandingan sebagai jegalan a la penyerang) membuat Spurs diganjar hukuman penalti.

Pochettino pun menyadari kesalahannya ini. Pada menit ke-68, ia pun memasukkan Kyle Walker untuk menggantikan Son. Walker beroperasi di kanan, dan Kieran Trippier dipindahkan ke posisi wing back kiri. Tapi apa yang dilakukan oleh Poch ini terhitung sudah terlambat, karena sesaat sebelumnya, tepatnya pada menit ke-61 Chelsea sudah memasukkan Eden Hazard dan Diego Costa untuk meningkatkan menciptakan keseimbangan sekaligus meningkatkan tekanan ke lini pertahanan Spurs.

Beroperasinya Walker dan Trippier dengan baik menjadi bumerang tersendiri. Serangan Spurs memang meningkat, tapi ada celah-celah yang bisa dimanfaatkan oleh Hazard maupun Nemanja Matic untuk membawa Chelsea unggul menjauhi Spurs.

***

Son bukanlah satu-satunya pihak yang patut dipersalahkan atas kekalahan Spurs atas Chelsea pada babak semifinal Piala FA ini. Banyaknya pelanggaran serta kesalahan yang dilakukan oleh lini pertahanan Spurs pada pertandingan ini dapat dieksploitasi dengan baik oleh Chelsea. Dua gol awal Chelsea lahir dari proses set-piece yang bermula dari kesalahan para pemain Spurs yang melakukan pelanggaran di area pertahanan.

Kesimpulannya, memang ada satu hal yang membedakan Spurs dengan Chelsea dalam pertandingan babak semifinal Piala FA ini. Walau mereka pernah mengalahkan Chelsea dalam ajang Liga Primer, tapi kualitas pemain yang lebih berpengalaman dan lebih mumpuni akhirnya menunjukkan bahwa The Blues lebih baik daripada The Lilywhites dalam laga genting dan penuh tensi macam semifinal Piala FA.

foto: @HotspurHacker

Komentar