Serangan Monoton, Persib Gagal Taklukkan Arema

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Serangan Monoton, Persib Gagal Taklukkan Arema

Persib Bandung mengawali gelaran Liga 1 2017 dengan hasil yang kurang memuaskan. Menjamu Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu (15/4/2017), Persib meraih hasil imbang 0-0.

Tidak ada satu gol pun yang sukses dicetak baik itu oleh tuan rumah maupun oleh tim tamu dalam laga ini. Arema FC sebenarnya berhasil mencetak gol lewat Cristian Gonzales pada menit ke-38, namun gol tersebut dianulir oleh wasit karena Gonzales dianggap sudah berada di dalam posisi offside.

Secara keseluruhan, pertandingan berjalan cukup menarik. Arema yang tampil di kandang Persib menunjukkan bahwa mentalitas mereka itu cukup baik. Di tengah sorakan dari bobotoh yang memadati Stadion GBLA, Arema tetap bisa bermain tenang. Sedangkan Persib, sebagai tim tuan rumah cukup sering mengambil inisiatif penyerangan

Namun ada beberapa faktor yang membuat pertandingan ini berakhir imbang. Salah satunya adalah Persib yang terlalu banyak menyerang dari sayap, sehingga serangan dari Maung Bandung ini dapat dengan mudah dimentahkan oleh para pemain Arema.

***

Persib cukup menguasai pertandingan ini. Walau hanya berbeda sedikit dengan Arema, Persib unggul dalam hal ball possession (51,7% berbanding 48,3%, dilansir dari laman resmi Persib) di pertandingan kali ini.

Namun, keunggulan ball possession ini tidak dibarengi dengan sebuah modifikasi serangan yang variatif. Sepanjang pertandingan, bola lebih banyak dialirkan ke sayap. Baik itu Essien maupun Zola (terkadang juga Hariono) yang menjadi distributor bola dalam pertandingan tersebut sering mengalirkan bola ke wilayah sayap, ke wilayah yang dihuni Atep di kiri atau pun Febri di kanan.

Seringnya Persib menyerang dari sayap ini pun terlihat dari rataan umpan silang yang mereka lepaskan. Total ada 24 kali umpan silang yang dilepaskan Persib ke arah kotak penalti Arema (lebih banyak dari Arema yang hanya mencetak 11 kali umpan silang).

Kebanyakan umpan silang ini dilepaskan dari sisi kanan pertahanan Arema, yaitu sisi yang dihuni Syaiful Indra. Mereka jarang melepaskan umpan silang dari sisi Johan Alfarizie di kiri karena pemain ini pun jarang terlihat naik untuk membantu serangan, kecuali pada babak kedua di mana ia juga mulai ikut naik menyerang dan menekan wilayah kanan Persib yang dihuni Supardi dan Atep.

Kebiasaan lama Persib, yang terakhir juga ditunjukkan dalam laga uji tanding melawan Bali United dan juga dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya, ternyata masih terlihat. Hal ini pun mempermudah Arema untuk mengatasi serangan tersebut, dengan menempatkan banyak pemain bertahan di dalam kotak penalti sehingga bola lebih mudah untuk dihalau, baik itu oleh Jad Noureddine, Bagas Adi, maupun Artur Cunha da Rocha.

Hal ini pun diakui oleh Djajang Nurjaman dalam jumpa pers seusai laga. Ia mengakui ketiadaan Raphael Maitimo, yang bisa berperan sebagai kreator sekaligus penghubung lini tengah dan depan lewat sektor tengah, membuat Persib akhirnya lebih banyak menyerang dari sayap.

Tidak efektifnya Persib dalam menyerang ini juga didukung dengan tidak efektifnya Arema dalam menyerang. Walau mereka kerap melakukan transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya dengan baik, mereka sulit untuk mencetak gol. Hal ini tak lepas dari ditempelnya Cristian Gonzales sebagai pemantul bola yang membuat peluang-peluang Arema akhirnya lebih banyak terjadi di luar kotak penalti dan tidak begitu membahayakan.

***

Laga perdana memang kerap berjalan sulit bagi tuan rumah. Hal tersebut terlihat dari penampilan Persib kemarin. Namun selain karena faktor laga perdana, serangan Persib terlalu monoton, hanya melakukan perubahan posisi di lini depan dan pergantian pemain. Kebiasaan lama yang masih belum berubah inilah yang dengan mudah diantisipasi oleh Arema, tim tamu yang tampil lebih tenang dan lebih siap secara mental walau ditekan oleh bobotoh sepanjang pertandingan.

Masih ada banyak waktu bagi Djanur untuk menemukan variasi serangan Persib yang lain. Hadirnya Maitimo bisa menambah opsi serangan Persib di lini serang, sehingga kelak serangan tidak akan melulu tertumpu pada pemain sayap. Tapi itu pun tak lepas dari bagaimana Djanur memfungsikan Maitimo, yang mewariskan nomor punggung 10 yang pernah dipakai Makan Konate saat masih di Persib.

Komentar