Benarkah Barcelona Menang Karena Wasit?

Analisis

by Dex Glenniza 242057

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Benarkah Barcelona Menang Karena Wasit?

Lanjutan dari halaman sebelumnya

Mereka terlihat “menghalalkan segala cara”. Kalimat tersebut sebenarnya tidak harus memiliki arti yang negatif.

Dari pertandingan yang berlangsung lebih dari 90 menit tersebut, terutama dengan 5 menit tambahan waktu di babak kedua, saya bisa menyoroti delapan kejadian yang terjadi di dalam kotak penalti. Delapan kejadian tersebut melibatkan keputusan wasit Deniz Aytekin.

Wasit asal Jerman tersebut memberikan dua hukuman untuk PSG sekaligus penalti untuk Barcelona, yaitu pada menit ke-47 dan 89. Tapi jika kita melihat secara keseluruhan, ada total delapan kejadian yang berpotensi menjadi penalti, satu untuk PSG dan sisanya untuk Barcelona.

Kejadian-kejadian berpotensi penalti

Kejadian pertama terjadi pada menit ke-10 ketika Javier Mascherano kedatapan melakukan handball. Mascherano yang bermaksud melakukan sliding tackle untuk menutup jalur bola dari julian Draxler ke mulut gawang, justru berhasil menahan bola dengan tangannya.

Meskipun tidak disengaja, wasit juga sedang tidak berada dalam sudut pandang yang baik untuk memutuskan kejadian tersebut (1). Apalagi kejadian tersebut terjadi di awal laga, yaitu ketika pertandingan baru berjalan 10 menit.

Sementara asisten wasit di garis gawang sebenarnya bisa saja menganggap Mascherano menyentuh bola melihat kemungkinan sudut pandangnya (2), karena ia tahu bola berubah arah tanpa mengenai bagian bawah (pinggang ke bawah) Mascherano.

Kemudian kejadian kedua juga masih melibatkan handball. Pada menit ke-26, sepakan bebas Lionel Messi mengenai kepala Marquinhos yang menjadi pagar betis (pagar terletak di dalam kotak penalti PSG), sundulan tersebut kemudian mengenai tangan Edinson Cavani.

Tidak sampai di situ, bola yang terpental ke atas kemudian terkena tangan (handball) kembali, kali ini Marquinhos. Tapi kalau boleh jujur, dua handball di tendangan bebas tersebut merupakan handball tidak aktif, jadi wajar jika wasit tidak memberikan penalti.

Selanjutnya, kejadian ketiga terjadi pada menit ke-33 ketika Neymar terjatuh setelah tersentuh oleh Thomas Meunier. Neymar terlihat ingin mengambil kesempatan, tapi sudut pandang wasit bisa menjelaskan jika Aytekin telah mengambil keputusan yang tepat untuk tidak memberikan penalti untuk Barcelona.

Kejadian keempat adalah kejadian yang agak janggal, ketika Barcelona mendapatkan penalti di menit ke-47. Saat itu Barcelona sudah unggul 2-0, Neymar kembali “dijegal” oleh Meunier.

Meunier sendiri sebenarnya tidak dengan sengaja melanggar Neymar. Ia kehilangan keseimbangan sehingga membuatnya terjatuh. Saat itu, bahasa dan posisi tubuhnya memang terlihat salah, tapi jika kita melihat tayangan ulang, mata Meunier selalu terfokus ke bola, bahkan ketika berbenturan dengan Neymar (1).

Begitu tahu Meunier jatuh meluncur, Neymar dengan cerdiknya agak mendekati Meunier sehingga Neymarpun terjatuh. Wasit awalnya tidak menganggapnya sebagai pelanggaran, jika ia melihat dari sudut pandangnya (2), tapi setelah berkonsultasi dengan asisten garis gawang (3), ia menunjuk ke titik putih.

Kejadian kelima lagi-lagi melibatkan Neymar dan Meunier. Saat mendapatkan bola terobosan, Meunier sepertinya bisa menguasai bola. Neymar yang mencoba menyalipnya mungkin merasa ia kurang cepat, sehingga ia kemudian menyangkutkan kakinya ke kaki Meunier.

Tapi kali ini ia tidak berhasil membuat Barcelona mendapatkan penalti. Neymar terlalu cepat terjatuh, yaitu ketika badannya tertahan oleh Meunier. Neymar juga mengulangi cara yang sama pada kejadian keenam di menit ke-64. Bedanya, ia justru yang mendapatkan pelanggaran dan harus menerima kartu kuning.

Jika kejadian kelima dan keenam tersebut tidak bisa terdefinisi sebagai diving oleh wasit, tidak demikian dengan kejadian ketujuh. Pada menit ke-66, saat kedudukan adalah 3-1, Luis Suarez terjatuh setelah hanya tersentuh oleh tangan Marco Verrati.

Suarez dianggap melakukan diving, Aytekin kemudian menghukum Suarez dengan kartu kuning.

Kejadian terakhir, atau kejadian kedelapan, adalah pada saat Barcelona mendapatkan penalti di menit ke-89. Saat itu Barcelona sudah unggul 4-1 tetapi masih membutuhkan dua gol lagi jika mereka ingin lolos.

Suarez yang mendapatkan umpan jauh, terlihat memperebutkan bola yang akan terjatuh dengan Marquinhos. Bisa kita lihat jelas jika Marquinhos tidak melihat bola, ia hanya berusaha menahan Suarez karena melihat di depannya ada Kavin Trapp yang bersiap menangkap bola. Maka, iapun menahan Suarez dengan tangannya.

Pada gambar di bawah, kita bisa melihat jika sekitar pundak dan leher bagian kanan Suarez adalah bagian yang tertahan oleh tangan Marquinhos. Suarez kemudian langsung terjatuh, tapi setelah ia terjatuh, ia terlihat memegangi daerah sekitar pundak dan leher kirinya alih-alih kanan.

Suarez juga masih memegangi bagian tubuhnya tersebut setelah ia terbangun. Jadi kita bisa curiga jika Suarez memanfaatkan kesempatan, dan Barcelonapun mendapatkan penalti yang berujung gol kelima mereka.

Pada gol penalti Neymar, kita juga bisa melihat jika ada satu pemain Barcelona dan tiga pemain PSG yang masuk ke dalam kotak penalti padahal bola belum disepak oleh Neymar dari titik putih.

Jika bola tersebut tidak masuk, bisa jadi wasit akan mengulang penalti Neymar karena dianggap telah terjadi intervensi dari pemain PSG untuk menggagalkan penalti Neymar. Namun, hal tersebut tidak terjadi.

***

Selain delapan kejadian di atas, tidak ada lagi kejadian yang terlalu mencolok atau mencurigakan. Seluruh gol sisanya adalah gol yang dianggap sah dan tidak terlalu janggal, bahkan pada gol pertama.

Salah satu yang bisa saya soroti dari cara bermain Barcelona dini hari tadi adalah bagaimana mereka benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan penalti, terutama pada enam kejadian non-handball (kejadian tiga sampai delapan dari contoh di atas) karena pemain-pemain Barcelona terlihat terlalu ringkih untuk terjatuh di dalam kotak penalti PSG.

Tapi, kecurigaan tersebut berhasil ternetralisir jika kita melihat angka pelanggaran yang mencapai 15 kali untuk Barcelona dan 25 kali untuk PSG. Pertandingan dini hari tadi memang berlangsung keras dan kasar.

Barcelona berhasil memanfaatkan hal tersebut dengan enam kali terjatuh di dalam kotak penalti PSG: dua menghasilkan penalti, satu menghasilkan diving, sementara tiga sisanya adalah nihil.

Tidak heran juga setelah pertandingan berakhir, Unai Emery, manajer PSG, berkata jika “keputusan wasit menentang kami (PSG)”. Namun jika Emery lebih jeli, mungkin Barcelona tidak akan mendapatkan dua penalti jika mereka tidak “berusaha” terjatuh sebanyak enam kali tersebut.

Usaha memang sebanding dengan hasil. Meskipun pernyataan ini seolah adalah pernyataan yang negatif, tapi saya menganggap Barcelona, terutama Neymar, sudah bermain dengan cerdik karena berhasil memanfaatkan hal ini. Barcelona dan Neymar menunjukkan jika mereka benar-benar ingin menang.

Kecerdikan ditambah dengan determinasi (termasuk dengan protes kepada wasit) tersebut ternyata bisa menghasilkan “comeback terbaik sepanjang sejarah Liga Champions”. Suka atau tidak suka, keputusan tidak bisa diubah.

Pada subuh ini, saya kembali merenungkan tentang krisis di Barcelona. Setelah melihat mereka menang besar dengan cara seperti itu, serta mendapatkan comeback luar biasa, akhirnya saya sadar jika Barcelona memang sedang mengalami krisis. Tapi, siapa yang peduli.

Percayalah, saya tidak sedang menulis sarkasme. Meskipun sedang krisis sekalipun, dengan penekanan pada kecerdikan dan determinasi, Barcelona adalah kesebelasan yang luar biasa.

Komentar