Rico Simanjuntak, Pembeda Laga Semen Padang vs Arema

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Rico Simanjuntak, Pembeda Laga Semen Padang vs Arema

Semen Padang berhasil memanfaatkan status mereka sebagai tim tuan rumah dalam laga leg pertama babak semifinal Piala Presiden 2017. Menjamu Arema FC di Stadion H. Agus Salim, Padang, kesebelasan berjuluk Kabau Sirah ini memenangkan pertandingan 1-0 lewat gol tunggal Marcel Silva Sacramento pada menit ke-58 lewat tendangan penalti.

Kemenangan yang diraih oleh Semen Padang ini setidaknya memudahkan mereka dan menjadi bekal tersendiri untuk leg kedua babak semifinal Piala Presiden 2017 yang akan mereka jalani di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang. Jalan untuk menuju final pun sedikit lebih terbuka untuk Semen Padang.

Dalam pertandingan tersebut, ada beberapa hal yang menjadi kunci kemenangan Semen Padang atas Arema, walau sebenarnya pada babak pertama, pertandingan sempat berjalan cukup alot.

Masuknya Rico Simanjuntak Mengubah Jalannya Pertandingan

Pertandingan antara Semen Padang melawan Arema berjalan cukup alot pada babak pertama. Walau sempat mengambil inisiatif serangan pada 15 menit babak pertama, perlahan dengan semakin berjalannya pertandingan, Semen Padang pun kesulitan untuk menjebol gawang Singo Edan.

Kedua sayap Semen Padang, dalam formasi dasar 4-4-2, terlihat begitu hidup. Di kiri, ada Boas Atururi dan Kevin Ivander. Di kanan, ada Novan Sasongko dan Adi Nugroho. Keduanya menjadi poros penyerangan Semen Padang dalam pertandingan ini. Dalam 15 menit awal, mereka begitu aktif menyerang dari kiri dan kanan, memanfaatkan aliran bola yang diberikan oleh Ko Jaesung dan dibantu oleh Vendry Mofu, gelandang dengan peran box-to-box.

Tapi selama babak pertama, kedua sayap ini mampu dihentikan dengan baik oleh barisan pertahanan Arema. Jon Alfaridzie sebagai fullback kiri maupun Syaiful Indra sebagai fullback kanan mampu menangkal serangan sayap ini sepanjang babak pertama. Semen Padang kesulitan dalam mencetak gol dan juga cukup sulit menembus lini pertahanan Arema yang digalang Artur Cunha dan Bagas Adi.

Perubahan pun dilakukan oleh Nil Maizar pada babak kedua. Ia mulai memasukkan dua winger andalannya, Irsyad Maulana dan Rico Simanjuntak. Jika Irsyad tidak terlalu menonjol karena kerap mendapatkan pengawalan dari Syaiful, lain hal dengan Rico. Masuknya pemain yang pernah membela Persegres ini semakin menghidupkan penyerangan Semen Padang di sisi kanan. Memanfaatkan kelengahan Alfaridzie yang kerap telat turun membantu pertahanan, ia berani melakukan dribel di wilayah tersebut beberapa kali.

Aktifnya Rico di sayap kanan inilah yang membuat Semen Padang, akhirnya mendapatkan penalti pada menit ke-58. Pergerakan aktifnya di sayap kanan juga beberapa kali mengancam gawang Arema.

Sosok Marcel Silva, Pengacau Lini Pertahanan Arema

Marcel Silva adalah andalan Semen Padang dalam urusan mencetak gol. Tapi kemampuan Marcel bukan hanya sekedar mencetak gol semata. Pemain yang didatangkan oleh manajemen Kabau Sirah pada gelaran ISC 2016 ini juga punya kemampuan untuk mengacaukan lini pertahanan lawan. Ini tak lepas dari mobilitas yang ia miliki di lini serang.

Ia acap bergerak dari kiri ke kanan, kanan ke kiri, tengah ke depan, depan ke tengah, untuk menimbulkan kebingungan di lini pertahanan lawan. Gerakan aktifnya ini pula yang sempat membingungkan duet Artur Cunha dan Bagas Adi, sehingga beberapa pemain lain macam Vendry maupun Rudi (masuk pada babak kedua) mampu menembus lini pertahanan Arema, terutama sejak babak kedua.

Ia juga berperan menjadi pemantul yang baik dalam pertandingan ini bagi para pemain yang muncul dari second line. Rajinnya ia dalam turun menjemput bola, juga membuatnya kerap menjadi titik serangan awal Semen Padang dari area sepertiga akhir lawan.

Poros Serangan Arema yang Bisa Dibaca oleh Semen Padang

Arema bukannya tidak memiliki kesempatan untuk menyerang. Meski sempat berada di bawah tekanan Semen Padang selama 15 menit pertama, mereka akhirnya mampu keluar dari tekanan setelah para fullback berani untuk maju membantu penyerangan, terutama Jon Alfaridzie di sisi kiri. Ia bahkan sering beberapa kali berkolaborasi dengan Nasir, membuat poros serangan seperti halnya Dendi-Lopicic di masa Milomir Seslija.

Cristian Gonzales pun masih sering turun menjemput bola, menjadi pemantul bagi rekan-rekannya yang muncul dari second line. Serangan Arema sempat begitu hidup, setidaknya sampai 10 menit babak kedua. Seusai Marcel Silva mencetak gol, tampak bahwa para pemain Singo Edan kesulitan dalam mencetak gol.

Poros-poros serangan yang mereka miliki mulai mampu dibaca pergerakannya oleh para pemain Semen Padang. Poros kiri Alfaridzie-Nasir (dan Dendi Santoso) bisa dibaca gerakannya. Begitu juga dengan poros kanan Syaiful Indra-Fellipe Bertoldo (dan Arif Suyono). Ditambah dengan Gonzales yang kerap mendapatkan pengawalan ketat dari Cassio de Jesus, Arema semakin sulit dalam membangun serangan.

Akhirnya sampai pertandingan selesai, Singo Edan pun kesulitan menembus pertahanan Semen Padang, apalagi ketika Kabau Sirah menerapkan garis pertahanan yang lebih rendah usai mencetak gol. Arema pun harus menuntaskan pekerjaan berat di Kanjuruhan nanti jika ingin melaju ke babak final.

Komentar