Fleksibilitas Formasi dan Kedalaman Skuat, Kunci Juventus Untuk Juarai Liga Champions

Analisis

by Randy Aprialdi 57861

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng!

Fleksibilitas Formasi dan Kedalaman Skuat, Kunci Juventus Untuk Juarai Liga Champions

Jika berbicara tentang perebutan gelar juara Serie-A 2016/2017, Juventus masih menunjukkan bahwa mereka berpeluang besar memilikinya. Faktor pertama adalah skuat mereka sangat dalam untuk sekadar mengarungi liga domestik. Kemudian mereka memiliki jarak tujuh poin dengan AS Roma di peringkat dua klasemen sementara.

Juventus memang dikalahkan AC Milan dan Internazionale Milan pada putaran pertama. Namun pada putaran pertama itu juga mereka berhasil mengalahkan pesaing lainnya seperti Roma dan Napoli. Kemudian Juventus berhasil melampiaskan dendam kekalahannya dari Inter ketika bertemu pada putaran dua.

Kedalaman skuat yang dimiliki Juventus jugalah yang membuat mereka bisa mengalahkan Dinamo Zagreb di laga penutup grup H Liga Champions 2016/2017. Padahal waktu itu situasi Juventus sedang tidak bisa diperkuat enam pemainnya. Tapi di sisi lain Juventus juga dikejutkan karena gagal menjuarai Piala Super Coppa Italia karena dikalahkan Milan pada Desember 2016.

Namun tetaplah trofi Liga Champions, trofi yang cukup menjadi tabu bagi kesebelasan Italia dalam beberapa tahun terakhir ini. Begitu juga bagi Juventus. Mereka cuma mampu menggapai posisi runner-up pada Liga Champions 2014/2015. Final yang dilakoni Juventus adalah yang pertama kalinya dijalani kesebelasan Italia dalam kurun lima tahun terakhir.

Kegagalan Juventus meraih gelar juara Liga Champions itu semakin membuat Gianlugi Buffon kecewa. Sebab Liga Champions adalah satu-satunya gelar yang belum pernah diangkat Buffon, "Tidak ada yang akan lebih indah daripada memenangkan sesuatu yang telah gagal dalam beberapa kali (Liga Champions). Terutama orang-orang yang mengalami saat-saat penting dalam sejarah Bianconeri (julukan Juventus)," imbuhnya seperti dikutip dari Football-Italia.

Sebelum menjalani pertandingan 16 besar, Juventus memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki lini tengahnya. Sebab tenaga mereka di sektor gelandang sedikit terkuras karena keterlibatan Mario Lemina di Piala Afrika 2017. Bahkan Lemina harus istirahat lebih lama karena mendapatkan cedera. Namun kegagalan Juventus mendapatkan Blaise Matuidi dan Axel Witsel untuk menggantikan Lemina pada bursa transfer Januari lalu, ditebus dengan perekrutan Tomas Rincon dari Genoa.

Rincon adalah pembelian yang cerdas bagi Juventus. Sebab pemain itu tergolong versatile yang bisa dipergunakan sebagai gelandang bertahan, box-to-box, bahkan full-back karena Juve baru saja ditinggalkan Patrice Evra pada bursa transfer Januari lalu. Kecerdasan transfer Juventus ini dipadukan dengan kekayaan taktik milik Massimiliano Allegri.

Pelatih yang pernah membawa Milan juara Serie-A itu menemukan formula baru dalam formasi dasar 4-2-3-1 dengan memberikan tugas anyar kepada Mario Mandzukic sebagai wide target man, "Semua tahu dan kemudian saya datang dengan ide gila dan mencobanya di lapangan," ujar Allegri usai mengalahkan Lazio.

Formasi itu pun digunakan untuk menghadapi FC Porto di babak 16 besar Liga Champions. Allegri perlahan mulai melupakan formasi 3-5-2 dengan dasar kekuatan pertahanan trio Andrea Barzagli, Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci. Akhirnya tes sebenarnya untuk formasi dasar 4-2-3-1 di Liga Champions terjadi pada babak 16 besar menghadapi Porto.

Walau skuat Porto tidak berisikan pemain-pemain mewah seperti halnya klub-klub Eropa yang lain, tapi Porto memiliki catatan tangguh di kandangnya, Stadion Do Dragao. Terakhir Porto kalah di kandangnya sendiri terjadi pada Mei 2016. Kekalahan itu pun didapatkan melalui adu penalti pada ajang Piala Portugal.

Leicester City pernah dibantai dengan skor 5-0 di stadion ini pada pertandingan fase grup Liga Champions. Musim lalu Bayern München dan Chelsea merasakan kekalahan di stadion berkapasitas sekitar 50.000 tersebut. Di tempat angker itulah, formasi dasar 4-2-3-1 milik Juventus di Liga Champions akan pertama kali diterapkan.

Dengan situasi Juventus yang tidak mengenakkan saat laga tandang ke Porto karena adanya perselisihan antara Allegri dengan Bonucci, Juventus masih mampu tampil baik dan menunjukkan bahwa mereka memiliki kedalaman skuatn yang luar biasa. Kealpaan Bonucci tidak menjadi masalah karena Allegri masih bisa menduetkan Chiellini dengan Barzagli. Juventus pun bisa masih bisa menang dengan skor 2-0 melalui gol yang dicetak Marko Pjaca dan Dani Alves.

Hasil itu memberikan keuntungan gol tandang bagi Juventus pada pertemuan kedua nanti, sekaligus menegaskan bahwa Juventus sangat berpeluang mewujudkan mimpinya menjuarai Liga Champions musim ini. Dengan kedalaman skuat dan kekayaan taktik dari Allegri, impian meraih gelar Liga Champions pun akan semakin dekat bagi Juve musim ini.

Sumber: Football Italia.

Komentar