Indonesia Berhasil Manfaatkan Kelengahan Thailand

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Indonesia Berhasil Manfaatkan Kelengahan Thailand

Tim nasional Indonesia berhasil mengalahkan Thailand di final leg pertama Piala AFF 2016. Skor 2-1 berhasil dicatatkan kesebelasan asuhan Alfred Riedl. Meskipun sempat tertinggal lewat gol Teerasil Dangda di babak pertama, Indonesia mampu membalasnya lewat gol Rizky Pora dan Hansamu Yama.

Sebelumnya, Indonesia dan Thailand sudah bertemu 64 kali. Thailand berhasil menang sebanyak 30 kali, imbang 17 kali, dan Indonesia menang 17 kali, dengan Thailand memasukkan 109 gol dan kebobolan 76 gol dari Indonesia.

Pertandingan ini dipimpin oleh wasit asal Jepang, Jumpei Iida. Ia adalah wasit berlisensi FIFA yang sudah banyak memimpin pertandingan di Piala AFC maupun J-League.

Sejak babak semi-final, masalah wasit menjadi masalah yang cukup disoroti, terutama dalam pertandingan Indonesia melawan Vietnam. Pada leg pertama babak semi-final di Pakansari, wasit asal Australia, Jarred Gillett, menjadi sorotan. Meski bergelimang prestasi, ia menjadi salah satu orang yang cukup dibenci dalam pertandingan leg pertama babak semifinal akibat keputusan-keputusan yang ia buat di lapangan.

Lalu pada leg kedua babak semifinal di Hanoi, ada nama wasit asal Tiongkok, Fu Ming, yang menjadi kekhawatiran para pemain Vietnam (meski pada akhirnya Fu Ming juga menganulir penalti Indonesia, dan itu diperbolehkan).

Ini adalah final ke-5 Indonesia, sementara untuk Thailand adalah yang ke-8 di Piala AFF. Dari 8 final tersebut, Thailand berhasil menjadi juara dalam 4 kesempatan. Indonesia belum pernah menjuarai Piala AFF.

Banyak yang menyamakan Indonesia dengan Portugal di Piala Eropa 2016, mulai dari warna bajunya sampai statusnya sebagai kuda hitam yang sempat terseok-seok di fase grup. Cederanya Andik di awal laga juga disamakan dengan Cristiano Ronaldo yang bernasib sama di final Piala Eropa 2016. Tapi bedanya, saat itu final hanya satu pertandingan, bukan dua leg seperti di Piala AFF. Ada-ada saja memang.

Thailand berhasil mencetak gol pertama di menit ke-33 melalui sundulan Teerasil, berawal dari umpan silang Theerathon Bunmathan dari sisi kiri penyerangan Thailand. Dengan ini, Teerasil menambah koleksi golnya menjadi 6, mantap di puncak daftar top skor. Theerathon juga menjadi pencetak asis terbanyak dengan 4, bersama dengan Rizky Pora yang pada pertandingan ini juga mencatatkan satu asis.

Skema pressing Thailand berjalan lebih mantap daripada Indonesia. Saat salah satu pemain Indonesia mendapatkan bola, setidaknya ada tiga pemain yang menekan, dengan satu mencoba merebut, dan dua lainnya membayangi. Hal ini membuat adanya pemain Indonesia lainnya yang tak terjaga, tapi ini tidak banyak bisa dimanfaatkan oleh Indonesia.

Indonesia yang memasang Manahati Lestusen dan Bayu Pradana di tengah sebenarnya cukup bagus untuk menjaga pertahanan Indonesia. Tapi hal ini justru mengurangi kreativitas serangan Indonesia pada pertandingan ini.

Arah serangan Indonesia kebanyakan berakhir di kanan. Sementara Thailand berimbang membangun serangan dari sayap kiri dan kanan. Namun, gol Teerasil berasal dari sayap kiri.

Serangan Indonesia di babak pertama kebanyakan mengalami kebuntuan di Rizky Pora. Pora juga sebelumnya melakukan dua kali blunder di awal laga. Ia memang sering mendapatkan bola pada babak pertama, tapi ia tidak bisa mengaliri bola untuk menghasilkan tembakan, baik untuknya maupun untuk rekan-rekannya.

Dalam skema Riedl juga terlihat Indonesia tidak terlalu lancar menerapkan pressing seperti biasanya. Meskipun begitu, Boaz Solossa yang berposisi sebagai penyerang menjadi pemain yang paling rajin turun, bahkan rata-rata posisinya lebih rendah daripada Stefano Lilipaly yang berposisi sebagai gelandang serang.

Melalui pemilihan skema awal (yang sepertinya terlihat) 4-2-3-1, Riedl terlihat berniat untuk membuat Indonesia bermain lebih bertahan dengan menyerap serangan Thailand. Tapi pada babak pertama, Indonesia belum memiliki skema menyerang yang baik, lewat serangan balik misalnya. Indonesia justru beberapa kali kedapatan melakukan bola-bola panjang.

Namun tidak disangka-sangka, melalui cara inilah Indonesia bisa menghasilkan peluang terutama di babak kedua. Dengan bola panjang, meskipun banyak gagalnya, Indonesia berhasil menciptakan setidaknya tiga peluang di babak kedua.

Selain itu, Thailand yang sudah unggul juga terlihat bermain lebih berhati-hati. Situasi ini berhasil dimanfaatkan pada gol pertama pada menit ke-65 ketika salah satu pemain Thailand melakukan eror dengan salah mengoper. Bola yang berhasil diterima Rizky Pora berhasil ia manfaatkan.

Bola sepakan Pora dari luar kotak penalti mengenai Tristan Do, bola berubah arah dan mengecoh Kawin yang tidak berkutik melihat bola masuk perlahan ke gawangnya.

Lima menit berselang, Indonesia mendapatkan situasi sepakan sudut. Bola sepakan pojok Rizky Pora diarahkan ke sisi jauh gawang, dan berhasil disundul oleh Hansamu. Lagi-lagi, untuk ketiga kalinya, Thailand berhasil dibobol lewat bola atas (dua sebelumnya terjadi di fase grup).

Setelah gol kedua itu, Indonesia terlihat terkurung terus. Riedl tidak mengubah skema bermain timnya, yaitu tetap bertahan dan mengincar sesekali serangan balik.

***

Setelah tertinggal satu gol, Indonesia bisa menang. Indonesia kembali bisa mencetak dua gol pada satu pertandingan, meneruskan tren sebelumnya di Piala AFF 2016 ini. Thailand sendiri memang hanya bisa kebobolan oleh Indonesia. Tapi Indonesia masih belum bisa mencatatkan clean sheet. Untuk ketiga kalinya, Thailand kebobolan lewat umpan silang.

Pertandingan ini sebenarnya jauh lebih dikuasai Thailand, baik lewat penguasaan bola (55% berbanding 45%) maupun jumlah tembakan (8 berbanding 6) dan sepak pojok (8 berbanding 3). Namun, Indonesia berhasil memanfaatkan kelengahan Thailand yang sebenarnya tidak terlalu sering terjadi pada laga ini.

Kemenangan ini menjadi modal berharga, namun Indonesia tidak boleh bersantai. Pertandingan final leg kedua akan dilangsungkan Sabtu, 17 Desember 2016, akhir pekan ini, di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand. Dalam enam final Piala AFF terakhir, kesebelasan yang menang di leg pertama selalu menjadi juara. Semoga sejarah ini berulang di Piala AFF 2016.

Analisis selengkapnya baca di kolom About the Game (Detiksport) yang berjudul "Respons Tepat Riedl Antar Indonesia Kalahkan Thailand di Babak Kedua"

Foto: Randy Prasatya/Pandit Football Indonesia

Komentar