Barca vs Man City: Pertarungan Mendapatkan dan Memanfaatkan Ruang

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Barca vs Man City: Pertarungan Mendapatkan dan Memanfaatkan Ruang

Pertandingan Grup C di Liga Champions UEFA mempertemukan pemuncak klasemen sementara Liga Spanyol dan pemuncak klasemen sementara Liga Inggris, FC Barcelona dan Manchester City. Salah satu sorotan utama pada pertandingan besar ini adalah kembalinya Pep Guardiola ke Camp Nou, ke kesebelasan yang sudah membesarkannya sebagai pemain dan manajer.

Khususnya untuk manajer, Guardiola juga yang membesarkan nama Barcelona karena ia sukses membawa kesebelasan asal Katalan ini menjuarai Liga Champions dua kali. Setelah ia pernah kembali ke Camp Nou sebagai manajer Bayern Munich, dini hari nanti ia kembali lagi sebagai manajer City.

Untuk Luis Enrique, manajer Barcelona, pertandingan nanti datang pada saat yang paling tepat. Ia sudah bisa memainkan Lionel Messi dan juga kedua full-back-nya sudah kembali berlatih. Barcelona juga sedang dalam penampilan yang menggembirakan, dengan memuncaki klasemen grup C dan menang 4-0 pada pertandingan terakhir mereka di La Liga menghadapi Deportivo de La Coruña.

Pertarungan antara Enrique dan Guardiola di atas kertas berpotensi berjalan sangat menarik. Kedua manajer selalu bisa melakukan adaptasi kepada taktiknya. Namun, sepertinya Barcelona sedikit lebih diunggulkan dari tamunya dini hari nanti.

Enrique sepertinya sudah tahu cara paling efektif untuk menghentikan City adalah dengan menekan mereka di daerah yang tinggi, yaitu mendekati wilayah pertahanan City. Jika Barcelona bisa melakukan ini, mereka akan memaksa City untuk memainkan tempo yang tinggi.

The Citizens selalu kerepotan jika ditekan dan juga jika menerima serangan balik cepat dari lawannya. Ini yang membuat mereka diimbangi Celtic, kalah dari Tottenham Hotspur, dan terakhir adalah diimbangi oleh Everton pada akhir pekan lalu.

Guardiola adalah manajer yang jenius. Ia sempat memainkan skema tiga bek (3-4-2-1) dan juga skema utamanya, yaitu 4-3-3. Perubahan demi perubahan bisa ia lakukan di lapangan untuk merespon lawannya. Namun sejujurnya, ia masih dalam proses yang panjang untuk membuat City menjadi “mesin yang mengontrol penguasaan bola”, sama seperti kutipannya mengomentari Barcelona baru-baru ini.

Melihat Pep ketika di Bayern saat menghadapi Barcelona pada semi-final Liga Champions 2014, ia menginstruksikan kesebelasannya untuk lebih bersabar, meladeni Barcelona sambil sedikit menekan, untuk kemudian mencuri bola dan melakukan break sesegera dan semengejutkan mungkin. Di situ ia menunjukkan keunggulannya dalam mendapatkan ruang di lini tengah.

Dari refleksi hal di atas, kami merasa Guardiola tidak akan memainkan pola 4-3-3, atau dengan kata lain, ia tidak ingin meniru taktik Barcelona (yang sebenarnya ia sendiri yang merancangnya sebelum Enrique datang). Ia juga kemungkinan besar tidak akan berani menerapkan formasi tiga bek.

Kemungkinan Guardiola akan memainkan “sistem aman”-nya, yaitu 4-1-4-1. Dalam sistem ini, ia menitikberatkan tekanan pada pertahanannya. Kedua full-back akan bergerak ke dalam, ke arah tengah, ketika City sedang menguasai bola.

Hal ini akan membuat City memiliki double pivot dari kedua bek sayapnya tersebut, kemungkinan besar adalah Aleksandr Kolarov dan Pablo Zabaleta. Namun, jika ia merasa sistem ini terlalu berisiko jika dipakai melawan Barcelona di Camp Nou, ia bisa saja langsung menggunakan double pivot dengan dua gelandang bertahan.

Tugas utama City dini hari nanti adalah untuk mengimbangi Barcelona di beberapa area di lini tengah. Pastinya Pep ingin mencetak gol terlebih dahulu. Jika ia kebobolan terlebih dahulu, bisa jadi permainannya akan lebih kacau.

Saat di Barcelona, Guardiola memiliki Sergio Busquets (dini hari nanti ia akan menghadapinya). Saat di Bayern, ia memiliki Xabi Alonso. Sedangkan di City, Fernandinho adalah sosok yang sudah banyak berkembang sejauh musim ini bersama Guardiola.

Tapi jika ia tidak didukung oleh pemain-pemain di depannya, Fernandinho pasti akan kerepotan menghadapi para pemain Barcelona, terutama ‘trio MSN’ (Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar) yang sudah mencetak 24 gol musim ini. Raheem Sterling, David Silva, dan Kevin de Bruyne juga dituntut harus bisa melakukan track back sesering mungkin.

Melihat penampilan kedua kesebelasan sejauh ini, pertandingan nanti tidak akan ditentukan dari pertarungan penguasaan bola. Kuncinya adalah mendapatkan dan memanfaatkan ruang.

Satu pertanyaan yang harus dijawab oleh Guardiola adalah, bisakah Manchester City menutup atau meminimalisasi opsi operan Barcelona? Jika Messi, Suarez, atau Neymar diberikan ruang dan waktu untuk masuk dari lini tengah ke lini depan, Pep tahu sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya.

Baca selengkapnya: City Harus Bisa Menutup Opsi Operan Barca

Saat ini kedua kesebelasan hanya berjarak dua poin. Ini artinya, Guardiola pasti sudah sadar jika ia tidak boleh kalah, karena itu bisa memberatkan tugasnya ke depan. “Saya tidak pernah berpikir pada pertandingan selanjutnya bahwa hasil imbang adalah hasil yang bagus,” kata Guardiola.

“Tentu saja ini rumit. Tidak menang di Glasgow (menghadapi Celtic) berarti kami harus mendapatkan poin menghadapi Barcelona di sana maupun di sini, dan terutama di Jerman (melawan Borussia Moenchengladbach) juga,” lanjutnya.

“Kami masih memiliki empat pertandingan lagi, kami harus memenangkan dua di antaranya. Kami harus mencetak 6 poin untuk bisa berada pada langkah selanjutnya. Kami akan mencoba untuk memenangkan poin pertama di pertandingan selanjutnya (melawan Barcelona). Pastinya.”

Setelah imbang melawan Celtic, kalah melawan Tottenham Hotspur, dan kembali diimbangi dari Everton, sulit melihat City bisa merepotkan Barcelona di Camp Nou. Hasil imbang sudah cukup menggembirakan bagi City dan Guardiola. Sejujurnya Barcelona memang lebih diunggulkan.

Komentar