Serangan Sayap Napoli Lebih Tajam Daripada AC Milan

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Serangan Sayap Napoli Lebih Tajam Daripada AC Milan

Napoli masih ada. Partenopei masih menunjukkan diri sebagai penantang sekaligus penjegal langkah Juventus dalam rangka perebutan scudetto musim ini. Sinyal itu Napoli berikan usai menundukkan salah satu klub penuh tradisi dari kota Milan, AC Milan, dengan skor 4-2. Jose Callejon dan Arkadiusz Milik menjadi dua pemain yang memborong gol bagi Napoli dalam pertandingan kali ini.

Terkhusus untuk Milik, ia menjadi pemain pertama asal Polandia yang mencetak gol bagi Napoli dalam ajang Serie A. Tampil dengan kekuatan terbaik, kedua tim menunjukkan permainan yang, ungkap Gabriele Marcotti dalam akun Twitter nya, sebagai "permainan yang enak untuk dilihat bagi para penonton yang netral", Napoli pada akhirnya mampu meraih kemenangan setelah Milan mengejar ketertinggalan di awal babak kedua.

Salah satu faktor yang memenangkan Napoli atas AC Milan adalah cerdasnya mereka sekaligus tajamnya mereka dalam menggunakan serangan dari sayap. Kenapa demikian?

Pada laga Minggu (28/8/2016) dini hari, baik itu Napoli maupun AC Milan menggunakan formasi dasar 4-3-3. Hal ini memungkinkan mereka untuk melancarkan serangan dari sayap karena ada fullback, gelandang kiri/kanan, dan winger kiri/kanan yang beroperasi di sayap. Ternyata, serangan sayap inilah yang sering dilancarkan oleh kedua tim dalam pertandingan kali ini.

Berdasarkan catatan dari Whoscored, AC Milan melakukan serangan sebanyak 40% dari kiri dan 30% dari kanan. Sedangkan Napoli melakukan serangan sebanyak 38% dari kanan dan 36% dari kiri. Proses-proses gol yang terjadi juga melibatkan serangan dari sayap sebagai akhir/build-up dari proses terbentuknya gol tersebut.

Area pergerakan di sayap Napoli dan Milan. (sumber: whoscored.com)

Dari heatmap di atas, terlihat bahwa serangan dari sayap yang dilakukan oleh kedua tim begitu dominan. Napoli menyerang dari sayap lewat kombinasi Mertens-Hamsik-Ghoulam (kiri), dan Hysaj-Allan-Callejon (kanan). Sedangkan Milan menyerang dari sayap lewat kombinasi Abate-Kucka-Suso (kanan) serta De Sciglio-Bonaventura-Niang (kiri).

Namun, dari heatmap di atas pula, terlihat bahwa Napoli dan Milan memiliki perbedaan dalam menggunakan sayap mereka dalam membangun penyerangan. Jika Napoli mampu menggunakan kedua sayap mereka secara rata, serangan Milan justru malah lebih banyal terfokus di wilayah sayap kiri yang menjadikan serangan-serangan dari Milan mudah dihentikan oleh para pemain Napoli yang menggunakan sistem pertahanan rapat.

Selain itu, kombinasi-kombinasi serangan sayap pun jarang terlihat dilakukan oleh Milan. Bandingkan dengan Napoli yang kerap berkombinasi lewat sayap, dan membuat para fullback Milan ketar-ketir atau malah tertinggal. Contoh sederhananya dapat anda lihat dalam proses gol pertama Milik dan gol pertama Callejon. Semuanya berawal dari kegagalan fullback Milan menjaga seorang pemain asal Belgia bernama Dries Mertens.



Perhatikanlah kejadian gol-gol yang dicetak Napoli, utamanya gol pertama dan gol ketiga. Prosesnya hampir mirip. Semua berawal dari kegagalan fullback Milan mengantisipasi gerakan Mertens, plus dibarengi oleh kesalahan dari Donnarumma dalam menepis bola, sehingga pada akhirnya bola muntah dapat dimanfaatkan oleh Milik dan Callejon menjadi sebuah gol.

Dalam pertandingan ini, Napoli berhasil melakukan kombinasi yang cemerlang dalam melakukan serangan dari sayap. Meski begitu, keberhasilan Napoli ini juga bukannya tanpa sebab. Salah satu faktor utama mudahnya para pemain Napoli melakukan serangan dan juga kombinsai di sayap adalah pertahanan Milan yang longgar.

Jarak antara fullback dan center back yang kadang kelewat jauh membuat ada sebuah ruang sempit yang dapat dimanfaatkan oleh para pemain sayap, baik itu untuk menerobos atau melakukan kombinasi. Longgarnya pertahanan Milan ini membuat Mertens, Hamsik, Allan, maupun Callejon dengan mudahnya mengacak-acak pertahanan Milan.

***

Vincenzo Montella masih memiliki banyak hal untuk dibenahi. Selain masalah mental yang lemah, salah satu faktor kekalahan Milan yang ia ucapkan dalam konferensi pers seusai pertandingan, Milan masih memerlukan sosok-sosok pemain yang memang memiliki kualitas, utamanya untuk menggalang pertahanan dan sebagai jembatan dari lini belakang ke lini depan.

Sementara itu Napoli, dengan hasil ini, setidaknya mereka masih bisa menunjukkan bahwa mereka akan menjadi pesaing ketat kembali bagi Juventus untuk musim ini. Tangan dingin Maurizio Sarri, yang mendapatkan kartu merah dalam pertandingan ini, masih akan menghadirkan kemenangan-kemenangan lain bagi Partenopei dalam ajang Serie A Italia.

Grafis: AF

Komentar