UEFA Super Cup: Bukti Konsistensi Zidane dan Ujian Awal Sampaoli

Analisis

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

UEFA Super Cup: Bukti Konsistensi Zidane dan Ujian Awal Sampaoli

Laga yang mempertemukan juara Liga Champions dengan juara Liga Europa, Piala Super Eropa, bakal kembali digulirkan. Laga yang bakal digelar Rabu (10/8) dini hari WIB, ini mempertemukan juara Liga Champions, Real Madrid, dengan Sevilla, yang notabene juara Liga Europa.

Jika melihat data pertemuan terakhir kedua kesebelasan, baik di La Liga maupun Super Eropa, Madrid layak diunggulkan. Pasalnya dalam dua laga tersebut, El Real berhasil menang. Masing-masing dengan skor 4-0 di La Liga dan 2-0 di Super Eropa.

Meski diunggulkan, bukan berarti jalan Real Madrid untuk merengkuh gelar Super Eropa-nya yang ketiga akan mudah. Sevilla diyakini belajar dari kekalahan mereka di La Liga musim lalu. Selain itu, Sevilla juga kini berada di bawah arahan sosok baru, Jorge Sampaoli, yang diyakini bakal memimpin Los Rojiblancos dengan cara berbeda.

Uji Konsistensi Zinedine Zidane

Keberhasilan menjuarai Liga Champions musim 2016/17 tampaknya membuat Zinedine Zidane puas dengan skuatnya. Tak heran, di bursa transfer musim panas 2016/17, Zidane hanya membuat satu kebijakan strategis, yakni memulangkan kembali Alvaro Morata, sementara sisanya hanya memulangkan pemain-pemain pinjaman, seperti Fabio Coentrao, Marco Asensio, dan Lucas Silva.

Di satu sisi, tak banyak pembelian yang dilakukan membuat Zidane tak perlu repot-repot melakukan adaptasi untuk skuatnya. Namun di sisi lain, tak adanya penggawa baru membuat kekuatan mereka tak banyak berubah dan membuat lawan tahu sisi lemahnya.

Laga pertama International Champions Cup (ICC) melawan Paris Saint-Germain menjadi contohnya. Dalam laga yang digelar di Ohio Stadium, Marcelo dkk harus rela dibantai oleh anak asuh Unai Emery dengan skor 1-3.

Kekalahan lawan Paris Saint-Germain memang menyakitkan. Tapi, lebih daripada itu, Zidane belajar bahwa ia masih memiliki beberapa nama yang bisa menjadi kekuatan cadangan kesebelasannya. Dalam laga melawan Paris Saint-Germain terlihat beberapa pemain muda, seperti Asensio, Mariano, Martin Odegaard, dan Enzo Zidane bisa menjadi pembeda kesebelasannya.

Hasilnya, dalam dua laga selanjutnya Zidane bisa memanfaatkan potensi pemain muda Madrid yang begitu besar. Dalam laga kedua di ICC, Asensio dan Mariano mampu unjuk gigi dan tampil sebagai pembeda. Sementara di laga ketiga melawan Bayern Munchen, giliran Odegaard yang tampil mencuri perhatian.

Dalam wawancara jelang laga ini, Zidane mengakui bahwa skuatnya siap menampilkan yang terbaik. “Pertandingan adalah duel antara dua kesebelasan yang sama-sama memiliki peluang untuk menang. Jika saya ditanya apakah kita siap menghadapi laga ini, tentu saya akan jawab siap! Pra musim berjalan begitu bagus dan kita sudah menyiapkan segalanya untuk laga ini.”

Meski di atas kertas Madrid memiliki peluang besar untuk menang, namun Zidane punya masalah di laga ini. Lima pemain utama, Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Pepe, Keylor Navas, dan Toni Kroos, dipastikan tidak bisa tampil lantaran cedera. Sementara Karim Benzema diragukan tampil akibat cedera punggung.

Dengan absennya beberapa pemain pilar dan hanya menyisakan pemain muda, apakah Zidane mampu membawa Madrid merengkuh Super Eropa ketiganya dan konsisten memberikan gelar untuk El Real?

Ujian Awal Jorge Sampaoli

Jorge Sampaoli mendapat tugas besar ketika ditunjuk sebagai pelatih anyar Sevilla menggantikan Unai Emery yang memilih melanjutkan kariernya di Paris Saint-Germain. Selain harus meneruskan tren baik kala dipegang Emery, Sampaoli juga diharuskan untuk membawa Sevilla mendapatkan minimal satu gelar tiap musimnya.

Beban Sampaoli untuk mencapai target tersebut bertambah berat saat empat pemain penting Sevilla saat menjuarai Liga Europa musim lalu, Grzegorz Krychowiak, Kevin Gameiro, Ever Banega, dan Coke, harus hengkang di bursa transfer musim panas 2016/17.

Beruntung, presiden Sevilla, Juan Maria del Nido, begitu baik terhadap Sampaoli. Tak rela melihat prestasi tim-nya langsung melorot akibat ditinggal empat pemain pilar, ia memberikan kucuran dana besar bagi Sampaoli untuk membangun ulang Sevilla.

Ke-murah-hati-an del Nido dimanfaatkan dengan baik oleh Sampaoli. Tiga pekan jelang ditutupnya bursa transfer musim panas La Liga, Sevilla telah resmi mendatangkan sembilan pemain dengan nilai transfer total 56,2 juta euro. Kesembilan pemain tersebut diyakini bakal mengubah permainan Sevilla era Emery dengan era milik Sampaoli.

Namun, di sisi lain kedatangan pemain-pemain tersebut tentu tidak akan langsung mengubah kekuatan Sevilla. Ya, Sampaoli tentu butuh waktu dalam menyatukan skuatnya dan hal tersebut adalah masalah besar karena banyak dari mereka, seperti Hiroshi Kiyotake dan Wissam Ben Yedder, yang sempat ditakutkan oleh Sampaoli bermasalah dengan bahasa dan budaya.

“Saya cukup senang kami bermain di Eropa. Meski demikian, kami mengakui kesebelasan ini belum sepenuhnya nyetel. Saya bahkan merasa kami butuh waktu untuk beradaptasi satu sama lain,” ujar Sampaoli.

Dengan skuat yang masih belum sepenuhnya mengerti satu sama lain, membuat tugas Sampaoli di laga ini tidak akan berjalan dengan mudah. Nah, laga ini pun akan menjadi ujian perdana bagi Sampaoli untuk membuktikan bahwa keputusan manajemen Sevilla menunjuknya bukan keputusan yang salah.

Komentar