Menakar Kans Lolos Indonesia dari Grup A Piala AFF 2016

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Menakar Kans Lolos Indonesia dari Grup A Piala AFF 2016

Hasil undian babak grup Piala AFF 2016 sudah rampung. Indonesia, yang baru saja lepas dari sanksi FIFA per 13 Mei 2016, tergabung dalam grup yang terhitung berat. Thailand, Singapura, dan sang tuan rumah, Filipina, menjadi teman satu grup Indonesia dalam gelara Piala AFF 2016 kali ini.

Lalu, setelah resmi tergabung dalam grup yang terbilang sebagai grup neraka (padahal sebenarnya grup B pun sama-sama berat juga dengan adanya Malaysia, Vietnam, dan Myanmar), pertanyaan pun menyeruak; sejauh mana Indonesia bisa melangkah?

Thailand dan Singapura, Dua Negara Pengganjal Indonesia di Babak Final

Ingatkah Anda akan pertandingan final Piala AFF 2004 (kala itu masih bernama Piala Tiger) yang penuh kenangan ketika seorang Boas Salossa, ketika itu masih seorang wonderkid, dihajar oleh lawan sampai harus terpingkal-pingkal dan mengalami cedera? Ya, ketika itu yang melakukannya adalah timnas Singapura, atau tepatnya oleh bek Singapura, Baihakki Khaizan.

Singapura berhasil mengalahkan Indonesia dalam babak final ketika itu, dengan total agregat 5-2. Indonesia kalah di Stadion Gelora Bung Karno 3-1, lalu dihajar kembali di National Stadium, Kallang, dengan skor 2-1. Nama-nama seperti Daniel Bennett, Khairul Amri, Agu Cashmir, Indra Sahdan Daud, Lionel Lewis, Shahril Ishak, Baihakki Khaizan, dan Itimi Dickson menghiasi skuat Singapura.

Selain The Lions, tim lain yang kerap menjadi pengganjal bagi timnas Indonesia adalah Thailand. Tim Gajah Putih adalah momok bagi tim Merah Putih. Dua kali bertemu di partai final, dua kali pula mereka dikalahkan oleh Thailand.

Pada Piala AFF 2000, Indonesia ditaklukkan dengan skor mencolok, 4-1. Sedangkan pada gelaran Piala AFF 2002, Indonesia kalah dalam babak adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 2-2 sepanjang waktu normal. Selain dalam ajang Piala AFF, Thailand memang selalu menyulitkan timnas Indonesia.

Dalam ajang SEA Games 2007 di Thailand, tim Gajah Putih menjadi pembunuh sekaligus penghapus peluang Indonesia untuk meraih emas setelah mengandaskan Indonesia pada babak grup. Sedangkan dalam ajang SEA Games 2013, skor 1-0 yang mereka cetak sudah cukup membuat Indonesia puas hanya meraih medali perak saja.

Bertemu lagi dengan kedua negara ini dalam babak grup Piala AFF 2016, jelas merupakan sebuah tantangan yang cukup besar sekaligus berat bagi timnas. Terkhusus Thailand, yang dari tahun ke tahun perkembangan sepakbolanya terus meningkat drastis, bahkan sekarang sedang berjuang dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2018.

Kenangan Buruk Bersama Filipina di Vietnam

Di grup A ini, lawan berat Indonesia bukan hanya Singapura dan Thailand saja. Filipina pun patut untuk diwaspadai mengingat kapabilitas mereka yang mampu tiga kali menembus babak semifinal Piala AFF (2010, 2012, dan 2014). Bahkan, pada 2014 lalu, Indonesia pernah memiliki kenangan buruk dengan Filipina.

Bertanding di My Dinh National Stadium, Indonesia harus mengakui keunggulan Filipina 4-0 lewat lesakkan gol dari Philip Younghusband, Manuel Ott, Martin Steuble, dan Rob Gier. The Azkals juga pernah memberikan waktu yang sulit bagi Indonesia kala kedua tim bersua dalam babak semifinal Piala AFF 2010.

Filipina sekarang bukan lagi anak bawang Asia Tenggara. Bahkan, dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2018 mereka sempat mengalahkan tim kuat Korea Utara dengan skor 3-2 di Rizal Memorial Stadium, Manila.

Menakar Tiga Lawan Indonesia di Grup A

Indonesia sudah lama tidak terlibat dalam percaturan sepakbola internasional karena mendapatkan sanksi dari FIFA. Saat Indonesia tidak kemana-mana, tim lain sudah bermain dalam ajang internasional untuk beberapa waktu, utamanya dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 2018 dan kualifikasi Piala Asia 2019.

Bahkan, persiapan tim-tim yang lain dalam mengarungi Piala AFF 2016 begitu matang. Singapura bahkan sudah merencanakan enam uji tanding selama tiga bulan ke depan sebagai bentuk persiapan tim. Meski masih sangat mungkin dihiasi nama-nama lama seperti Shahril Ishak dan Khairul Amri, namun, pelatih V. Sundramoorthy juga tidak akan menutup nama pada talenta muda, seperti Taufik Suparno dan Eko Pradana Putra.

Thailand sendiri tampaknya tidak akan menurunkan skuat terbaik karena jadwal dari Piala AFF 2016 sendiri berdekatan dengan jadwal babak kualifikasi Piala Dunia 2018. Namun, nama-nama seperti Charyl Chappuis, Chanatip Songkrasin, dan Sarach Yooyen yang membawa Thailand juara Piala AFF dua tahun lalu akan tetap dipakai. Pelatih Kiatisuk Senamuang pun memiliki banyak pilihan pemain lain yang bersinar di Liga Primer Thailand, seperti Thanasit Siriphala dan Chaowat Veerachat.

Sementara untuk Filipina, selain keuntungan sebagai tuan rumah, liga profesional di sana juga sudah mulai bergulir yang membuat para pemain semakin padu. Mereka akan menjadi penantang serius di grup A ini. Prestasi sebagai semifinalis tiga kali berturut-turut sangat mungkin untuk mereka ulang lagi dalam ajang Piala AFF 2016 ini. Nama-nama senior yang sudah kenyang pengalaman seperti Phil Younghusband, Patrick Reichelt, Manuel Ott, Neil Etheridge, dan Stephan Schrock akan menjadi motor permainan Filipina.

**

Melihat lawan-lawan Indonesia yang terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu (utamanya Thailand dan Filipina), juga sudah mendapatkan jam internasional lebih banyak, akan cukup sulit bagi Merah Putih untuk lolos dari fase grup ini. Dengan kompetisi yang setahun kemarin hanya berbentuk turnamen, dan kompetisi format liga yang belum berjalan selama setahun, butuh kerja keras dari Alfred Riedl untuk mengolah dan menyatukan para pemain sekaligus meracik strategi untuk timnas Indonesia.

Namun, melihat Indonesia yang tidak begitu diunggulkan di grup A ini, juga dalam hal pengocokan karena Indonesia masuk pot 4, maka, dapat dikatakan bahwa Indonesia adalah kuda hitam dalam grup A ini. Lalu, apa yang seharusnya kuda hitam lakukan? Coba tanya timnas Islandia.

Komentar