Penyerangan Persija yang Masih Tumpul

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Penyerangan Persija yang Masih Tumpul

Berada di papan tengah dalam sebuah kompetisi bagi tim besar tentu bukanlah hal yang baik. Itulah yang dialami oleh Persija Jakarta dalam gelaran Indonesia Soccer Championship 2016 kali ini. Sampai pekan ke-9, mereka masih bercokol di peringkat ke-12 dengan total 11 poin yang mereka dapat. Mereka kalah saing dengan tim-tim lain seperti Arema Cronus, Sriwijaya FC, bahkan Madura United.

Meski waktu kompetisi ISC ini masih panjang, terpuruknya Persija sampai pekan ke-9 ini tentu menimbulkan pertanyaan tersendiri. Apa yang terjadi dalam tubuh Persija Jakarta?

Jika dibedah, banyak sekali faktor yang menyebabkan Persija belum mampu berbicara banyak dalam kompetisi TSC A 2016 ini. Faktor-faktor inilah yang membuat Persija sulit bersaing dengan tim-tim lain dalam ajang TSC A 2016 ini.

Mandulnya Lini Penyerangan

Persija Jakarta adalah tim yang cukup kuat dalam bertahan. Total dari sembilan laga, Macan Kemayoran baru kebobolan delapan gol, sama dengan Semen Padang, dan beda lima angka dengan Sriwijaya FC dan Arema Cronus yang kebobolan tiga gol. Dengan catatan ini, Persija termasuk tim yang memiliki pertahanan terkuat dalam ajang TSC A 2016 ini.

Menterengnya performa William Pacheco dan Maman Abdurrahman adalah kunci dari kuatnya lini pertahanan Persija. Selama sembilan laga, mereka tidak pernah melakukan blunder maupun defensive error yang menyebabkan Persija kebobolan. Belum lagi dukungan dari Amarzukih dan Sahroni yang kerap memberikan cover bagi lini pertahanan. Lalu, apa yang menyebabkan Persija kesulitan bersaing dengan tim lain?

Jawabannya ada pada lini penyerangan. Dalam sembilan laga, mereka hanya mencetak lima gol saja. Dengan cetakan gol yang cukup sedikit ini pula, mereka menjadi tim dengan lini serang terburuk di ISC bersama dengan Perseru Serui, PSM Makassar, dan PS TNI. Mandulnya lini penyerangan ini juga yang membuat Persija kerap kali kesulitan meraih kemenangan.

Sulitnya Persija dalam menyerang ini tercermin dari peluang yang mereka ciptakan dalam pertandingan. Dalam pertandingan melawan Pusamania Borneo FC, mereka hanya mencetak empat peluang, dua melalui free-kick dan dua melalui penetrasi dari Amrizal Umanailo dan Novri Setiawan. Sisanya mereka sulit mencetak peluang ke gawang.

Selama gelaran TSC A 2016 ini, total, mereka hanya mencatatkan 72 total tembakan ke gawang sampai pekan kesembilan ini, dengan total tembakan yang on target hanya sebanyak 31 saja. Ini belum menghitung ketidakefektifan serangan Persija karena dari total 31 tembakan tersebut hanya lima saja yang terkonversi menjadi sebuah gol.

Penyerangan yang Terlalu Bertumpu pada Amrizal dan Novri

Karena tidak memiliki pemain dengan peran no. 10, sama halnya seperti PS TNI dan Arema, serangan Persija akhirnya tertumpu pada dua sayap lincah mereka, Amrizal Umanailo dan Novri Setiawan. Kedua pemain ini memiliki teknik dribel dan juga kecepatan yang baik. Namun, disinilah pangkal masalahnya.

Jika Arema mampu mengatasinya dengan cara Serdjan Lopicic dan Esteban Vizcarra yang kerap berkolaborasi dengan dua fullback mereka (Ahmad Nufiandani kanan, Jon Alfarizie kiri), juga Gonzales yang kerap mundur membuka ruang bagi Raphael Maitimo untuk maju, Persija belum menemukan cara lain. Maka, ketika Amrizal dan Novri dimatikan, mereka tidak memiliki opsi serangan lain. Hal ini terlihat jelas dalam pertandingan melawan PBFC.

Cara PBFC mematikan Amrizal dan Novri pun cukup pintar. Mereka membiarkan Amrizal dan Novri bergerak di sayap tanpa memberikan mereka kesempatan untuk penetrasi ke dalam kotak penalti. Dua bek PBFC, dan juga gelandang bertahan PBFC masuk ke dalam kotak penalti untuk mempersempit ruang gerak Amrizal dan Novri ketika mereka akan masuk ke dalam kotak penalti.

Bukan hanya dengan memperketat kotak penalti, mereka juga kerap melakukan jebakan offside yang membuat Amrizal dan Novri mati langkah. Semakin sulit bagi Persija apalagi ketika gelandang yang mereka miliki, seperti Amarzukih, Sahroni, dan Ade Jantra lebih sering membantu pertahanan daripada membantu penyerangan lewat tengah.

Dengan penyerangan yang hanya mengandalkan Amrizal dan Novri semata, maka tak heran Persija sampai sekarang kesulitan untuk menyerang. Suplai bola ke dalam kotak penalti, yang harusnya menjadi milik Bambang Pamungkas ataupun Jose Guerrera menjadi jarang. Hal ini berujung kepada serangan Persija yang jarang sekali berbuah menjadi gol.

Saat Full-back Maju, Di situlah Bahaya Tercipta

Saat Amrizal dan Novri dimatikan, dan dukungan dari lini tengah, maka fullback pun akan maju untuk membantu serangan. Namun, di sinilah masalah baru muncul. Ruang kosong yang ditinggalkan fullback inilah yang sering kali dieksploitasi lawan. Utamanya sisi kiri yang dijaga oleh Rendika Rama.

Pada pertandingan melawan PBFC, total sisi kiri Persija ini menjadi sisi yang paling banyak ditembus. Sembilan kali PBFC menembus dari sisi ini, dengan dua diantaranya yang menjadi gol bagi Persija. Bandingkan dengan sisi kanan yang hanya ditembus lima kali saja. Ataupun dari tengah yang hanya enam kali saja.

**

Paulo Camargo masih memiliki banyak waktu untuk membenahi sisi serang Persija yang ternyata menjadi kelemahan dari Persija sendiri. Dengan sumber daya pemain yang ada dan juga waktu kompetisi yang masih lumayan panjang, Camargo diharapkan dapat menyulap Persija kembali menjadi tim yang disegani.

Komentar