Kroasia dan Setumpuk Masalah yang Harus Diselesaikan

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Kroasia dan Setumpuk Masalah yang Harus Diselesaikan

Masalah datang tak terduga. Memang, kadang masalah datang ketika kita tidak menginginkan masalah tersebut untuk datang. Masalah itu kadang datang ketika kita sedang dilanda sebuah masalah yang lain, yang akhirnya menjadi sebuah tumpukan masalah yang malah membuat kita bukannya menyelesaikan masalah tersebut, malah jadi tertelan oleh masalah itu sendiri.

Kroasia sekarang sedang menghadapi fase tersebut. Timnas Kroasia saat ini sedang dalam fase penentuan. Mereka akan bertanding menghadapi Spanyol dalam laga terakhir Grup D Piala Eropa 2016. Mereka tentu membutuhkan hasil yang positif (minimal seri) agar mampu lolos ke fase knock-out.

Namun, yang terjadi sekarang adalah Kroasia yang sedang ditimpa banyak masalah. Selain masalah Luka Modric yang cedera dan dipastikan tidak bisa turun saat melawan Spanyol, masalah lainnya berhubungan dengan suporter garis keras mereka yang saat laga melawan Republik Ceko kemarin berbuat rusuh dengan melempar suar dan kembang api ke dalam lapangan.

UEFA telah menjatuhkan sanksi kepada Kroasia berupa uang denda sebesar 100.000 euro atas insiden yang terjadi di Saint-Etienne ini. Akibat kejadian ini pula, UEFA memberikan perintah tegas kepada HNS (Federasi Sepakbola Kroasia) agar kelak tidak memberikan tiket masuk stadion secara asal, sehingga tidak jatuh ke tangan para suporter garis keras Kroasia.

“Hukuman yang diberikan kepada HNS dan CEDB akibat kejadian yang terjadi di stadion terkait pelemparan suar dan kembang api, juga perilaku rasis di stadion adalah denda sebesar 100.000 euro, dan juga perintah kepada HNS ataupun CEDB sebagai pihak yang berwenang agar tidak menjual tiket masuk stadion secara asal dalam ajang Piala Eropa 2016 ini, sehingga tidak jatuh ke tangan para hooligan,” ujar pernyataan resmi UEFA seperti dilansir The Guardian.

Kasus ini pun sempat disesalkan oleh para pemain dan juga pelatih Kroasia, Ante Cacic. Ivan Perisic, pemain yang pada saat melawan Republik Ceko mencetak gol, menyatakan bahwa jika kejadian seperti ini terus berlanjut, lebih baik para pemain Kroasia tidak bermain lagi saja.

“Mungkin akan lebih baik jika kami tidak bermain daripada kejadian seperti ini terus muncul,” ujar Perisic usai pertandingan lawan Rep. Ceko.

Sementara itu, Ante Cacic menyuarakan hal yang lebih keras lagi. Ia menyebut bahwa tempat bagi para pengacau pertandingan itu bukan di stadion. “Pelemparan suar itu adalah teror. Mereka adalah seorang pengacau. Tempat mereka bukanlah di stadion,” ujar Cacic.

Masalah ini tentu secara tidak langsung akan memengaruhi mental para pemain Kroasia. Jelang laga lawan Spanyol nanti, bukan tidak mungkin kejadian seperti ini akan kembali muncul, apalagi jika menilik maksud dari pelemparan suar itu sendiri adalah untuk menyuarakan suara para suporter yang kerap terpinggirkan dari percaturan sepakbola Kroasia.

Masalah mental ini hanya satu dari masalah yang akan dihadapi Kroasia. Sudah mental sedikit jatuh, para pemain dan pelatih Kroasia juga semakin dipusingkan dengan cederanya pemain andalan mereka, generator tim Real Madrid sekaligus penyeimbang lini tengah Kroasia, Luka Modric. Modric menderita cedera setelah pertandingan melawan Rep. Ceko.

Hal ini tentunya membuat Cacic bingung. Ia perlu menemukan pemain lain yang harus menggantikan Modric. Apalagi, ketika kemarin Modric ditarik keluar, terlihat keseimbangan Kroasia langsung goyah sehingga Rep. Ceko akhirnya mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Sebenarnya, banyak nama yang bisa menggantikan posisi Modric. Ada nama Mateo Kovacic dan Marcelo Brozovic. Namun, pengaruh keduanya tidak sebesar seorang Modric di lini kedua.

Kovacic memang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengatur tempo, juga memiliki kemampuan dribel yang bagus. Namun, ia buruk jika harus memainkan peran Modric yang mengatur penyerangan dan pertahanan sekaligus, karena memang kemampuan menyerang dan bertahannya tidak seseimbang Modric.

Sementara itu, Brozovic, yang juga kerap memerankan peran sebagai gelandang box-to-box di Inter Milan, sebenarnya memiliki kemampuan yang baik dalam membantu penyerangan dan pertahanan. Ia juga memiliki stamina yang lumayan bagus. Namun, ia memiliki disiplin taktik yang buruk sehingga kerap berada di luar posisinya.

Opsi yang paling mungkin bagi Kroasia, menghadapi lini tengah Spanyol yang rajin membuka ruang adalah dengan menjaga jarak antar pemainnya serapat mungkin. Rakitic kemungkinan besar akan menggantikan peran Modric, dan Brozovic mungkin akan bermain di tengah, karena dibutuhkan tipe gelandang petarung untuk mencegah kreatitvitas dari lini tengah Spanyol.

Tapi, pada intinya, para pemain Kroasia harus siap dengan segala perubahan taktikal yang dilakukan oleh Ante Cacic. Menghadapi Spanyol, yang juga merupakan juara bertahan Piala Eropa 2016, para pemain Kroasia harus adaptif terhadap perubahan strategi yang diterapkan.

Lebih besar lagi, masalah-masalah ini harus segera diselesaikan oleh Kroasia, agar mereka bisa melaju ke babak 16 besar tanpa rasa khawatir.

ed: fva

Komentar