Kemarau Striker Portugal

Analisis

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Kemarau Striker Portugal

Ketika berhasil meraih medali perunggu di Piala Dunia 1966 di Inggris. Portugal mengenalkan kepada dunia sosok seorang striker berbahaya dalam diri Eusebio. Pemain yang kini sudah wafat tersebut mencetak sembilan gol sepanjang kompetisi. Eusebio yang dijuluki “The Black Panther” ini berhasil mengungguli Pele, Francisco Gento, Helmut Haller, dan dua jagoan tuan rumah, Geoff Hurst dan Bobby Charlton.

Eusebio menjadi penanda bahwa Portugal setelahnya akan selalu memiliki penyerang tengah yang bagus. Eusebio bersama generasi emas sepakbola Portugal yang disebut ‘Os Magricos’ menciptakan standar yang begitu tinggi bagi generasi sepakbola Portugal selanjutnya.

Perlu waktu yang cukup lama pasca era Eusebio bagi Portugal untuk memiliki penyerang luar biasa bernama Tamagnini Nene. Namanya asing untuk sebagian besar orang. Tapi Nene adalah salah satu legenda penyerang Portugal. Pemain bernama asli Tamagnini Manuel Gomes ini bermain bagus di Piala Eropa tahun 1984 dan membawa klubnya, Benfica, menjadi runner-up Piala UEFA (kini Europa League) dua tahun sebelumnya.

Berlanjut ke era 90-an ada Joao Pinto. Pernah bermain untuk dua klub besar Portugal yaitu Benfica dan Sporting, Pinto pada masa jayanya adalah penyerang hebat. Bersama Timnas Portugal ia berada di rangking kedelapan pencetak gol terbanyak negara yang dijuluki Brasil-nya Eropa tersebut. Piala Dunia 2002 adalah turnamen internasional terakhir yang dimainkan oleh Pinto hingga akhirnya ia pensiun pada 2008.

Penyerang tengah andalan Portugal pada tahun 2000-an. (Dari kiri ke kanan): Pedro Pauleta, Nuno Gomes, dan Helder Postiga

Di akhir milenium lalu, Portugal seakan diberkahi cukup banyak penyerang hebat. Pedro Pauleta adalah yang terbaik diantaranya. Ia sempat masuk ke dalam nominasi Ballon D’Or pada 2002. Ia adalah pemegang rekor pencetak gol terbanyak Portugal sebelum akhirnya dipecahkan oleh Cristiano Ronaldo.

Selain Pauleta, ada Nuno Gomes yang merupakan kapten Timnas Portugal di Piala Eropa 2008. Ia sebenarnya mampu menjalankan tugasnya ketika didapuk menjadi pengganti Pauleta. Sayang cedera membuat Gomes tidak bisa bermain sering untuk Portugal. Meskipun demikian ia masuk lima besar pencetak gol terbanyak Portugal dengan 29 gol dari 79 penampilan.

Nama terakhir adalah Helder Postiga. Dibandingkan Pauleta dan Gomes yang satu generasi, Postiga adalah yang paling akhir berhenti di turnamen internasional. Mantan pemain Porto dan Spurs ini terakhir bermain di pentas internasional dua tahun lalu, pada Piala Dunia 2014.

Setelah generasi Pauleta,Nuno Gomes, dan Postiga, sempat ada nama Hugo Almeida dan Liedson. Namun, kedua penyerang tersebut tidak banyak mencetak gol seperti penyerang-penyerang pada generasi sebelumnya.

Dan terhitung sejak Piala Dunia 2014. Meskipun bermain dengan skema dua penyerang, Portugal justru memasang sang megabintang Cristiano Ronaldo diduetkan dengan Nani atau Ricardo Quaresma tergantung situasinya, termasuk di laga pembuka Piala Eropa 2016 melawan Islandia. Cristiano dan Nani dimainkan sejak menit pertama oleh pelatih Fernando Santos dalam pertandingan yang berakhir imbang 1-1 tersebut.

Melihat 23 nama pemain dalam skuat yang didaftarkan oleh Santos untuk berlaga di Piala Eropa 2016 kali ini. Tidak akan ditemukan nama pemain yang berposisi sebagai penyerang tengah. Pemain-pemain yang dimasukkan adalah tipe penyerang sayap. Kemudian pertanyaanya kemudian adalah apakah memasang Cristiano dan Nani bukan keputusan yang tepat? Belum tentu.

Baik Cristiano dan Nani punya seluruh kemampuan untuk menjadi juru gedor yang mumpuni. Mereka adalah pelari cepat, bisa menendang melalui kedua kakinya. Dan bisa menyundul. Sebuah “skillset” yang lengkap untuk seorang pemain yang akan ditempatkan sebagai penyerang tengah. Secara taktis, keduanya tidak masalah apabila ditempatkan sebagai penyerang tengah atau striker.

Namun ada dimensi permainan yang berbeda antara penyerang sayap dan pemain yang secara natural adalah seorang penyerang tengah. Sederhananya, Cristiano dan Nani mungkin tidak tahu bagaimana cara untuk benar-benar memanfaatkan peluang meskipun dalam situasi terjepit seperti yang dilakukan oleh Ruud van Nistelrooy dan Filipo Inzaghi. Tentu ada intuisi yang bergerak berbeda ketika terbiasa menyisir lapangan sambil menggiring bola dengan pemain yang bahkan tugas utamanya adalah menciptakan gol.

Ada dua jawaban terkait pertanyaan mengapa Portugal seakan kemarau pemain yang bermain di posisi penyerang tengah. Pertama adalah dependensi kepada sosok Cristiano Ronaldo. Sepakbola Portugal harus diakui memang meng-anak emas-kan bakat terbaik yang pernah muncul dari negara semenanjung Iberia tersebut. Pelatih Timnas akan meracik skema yang bisa mengakomodasi permainan dari seorang Cristiano Ronaldo.

Faktor lain adalah memang para penyerang muda Portugal tidak bermain untuk level tertinggi. Sebagai contoh Nelson Oliveira yang digadang-gadang sebagai penerus Pedro Pauleta kini hanya bermain untuk Nottingham Forest. Pun dengan Lucas Joao yang bermain di Sheffield Wednesday. Tidak ada striker muda Portugal yang bermain di level top.

Maka menjadi sangat wajar ketika akhir Portugal memasang penyerang sayap mereka sebagai penyerang tengah. Skema ini tentu dimaksudkan agar bisa memiliki daya serang yang luar biasa. Karena dengan gaya permainan melebar seperti Nani dan Ronaldo, membuka kesempatan pemain lain untuk masuk ke jantung pertahanan dari lini kedua. Tetapi melihat laga melawan Islandia. Mungkin yang dibutuhkan Portugal adalah memang pemain yang berposisi sebagai penyerang tengah.

ed: fva

Komentar