Olivier Giroud dan Tekanan yang Harus Dihadapinya

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Olivier Giroud dan Tekanan yang Harus Dihadapinya

Menyenangkankah mendapatkan cemoohan sepanjang pertandingan? Bayangkan setiap kali Anda memegang bola, penonton selalu menyoraki Anda. Padahal Anda merasa tak bermain buruk-buruk amat. Pemain manapun, meski ia memiliki mental yang kuat, pasti tidak menginginkan hal itu terjadi. Kecuali pemain yang provokatif, mungkin.

Hal inilah yang sekarang sedang dirasakan oleh seorang Olivier Giroud. Striker yang membela Arsenal ini merasa gundah gulana. Dalam laga persahabatan melawan Kamerun yang digelar pada Senin (30/5) lalu, ia mendapatkan boo dari para penonton yang memadati Stade La Beaujoire, Prancis. Padahal, dalam pertandingan tersebut, ia berhasil mencetak gol yang berhasil mengantarkan Les Bleus memenangi pertandingan 3-2. Sisa dua gol lain dicetak oleh Blaise Matuidi dan Dimitri Payet.

Hal inilah yang mengundang reaksi dari pelatih, sekaligus dari Giroud sendiri. Didier Deschamps menyebutkan bahwa hal yang dilakukan oleh para pendukung Prancis ini adalah hal yang tidak adil bagi seorang Giroud.

"Ia adalah pemain penting bagi kami. Namun, apa yang dilakukan publik dalam pertandingan melawan Kamerun adalah sesuatu yang tidak adil baginya. Mereka tidak tahu kemampuan Giroud yang sebenarnya," ujar Deschamps seperti dilansir oleh Skysports.

Dalam satu kesempatan, Giroud berujar kepada ESPN FC kalau hal ini adalah hal yang lumrah terjadi. Ia tidak bisa menghindar sama sekali dari segala kritikan yang menghujami dirinya.

"Saya manusia biasa. Saya lebih suka untuk mendengarkan hal-hal yang baik tentang diri saya. Namun, seperti yang Anda tahu, kritikan akan selalu menghujami hidup saya. Apalagi dengan tidak dipanggilnya Karim (Benzema), akan ada orang yang membenci saya. Saya tidak bisa menghindari hal itu," ujarnya.

Memang, dengan tidak dipanggilnya seorang Karim Benzema, yang merupakan striker andalan tim nasional Prancis dalam ajang Piala Dunia 2014, mengundang kecaman dari para suporter. Apalagi, musim 2015/2016, Benzema menjadi bagian dari skuat Real Madrid yang meraih Undecima.

Rekor gol Benzema pada musim ini pun cukup bagus. Mantan penyerang Lyon ini mencetak 28 gol dan 8 asis dari total 36 penampilannya bersama Real Madrid. Bersama tim nasional Prancis, ia pun memiliki 27 gol dari 81 pertandingan sejak 2007, unggul delapan gol dari Olivier Giroud (dari 45 penampilan).

Hal ini sekaligus menggambarkan apa yang akan dihadapi Giroud dalam ajang Piala Eropa 2016 nanti. Prancis, yang berlaku sebagai tuan rumah, sudah pasti menargetkan menjadi juara dalam ajang tersebut. Dan, salah satu tekanan itu tentunya akan menghinggapi seorang striker, yang merupakan ujung tombak tim untuk mencetak gol.

Sebelum Piala Eropa dimulai, Deschamps harus menemukan formula yang tepat untuk memanfaatkan kemampuan dari seorang Olivier Giroud ini. Striker yang mencetak 24 gol dan enam asis dari 53 penampilan ini sebenarnya bukan striker yang buruk, meski di Arsenal ia sempat mengalami masa yang buruk dengan tidak mencetak gol selama beberapa bulan.

Kalau Benzema yang ditempatkan di depan, maka Deschamps dapat menerapkan banyak micro tactic yang bisa dipakai. Benzema sudah membuktikan di Real Madrid bahwa ia bisa menjadi striker yang bersifat all-round. Pergerakannya yang cair bersama Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale membuat dirinya mampu beradaptasi dengan bermacam micro tactic yang berbeda.

Sementara itu, pergerakan Giroud tak seluwes Benzema. Ini terlihat dalam pertandingan melawan Kamerun. Semakin terlihat dalam proses gol kedua Prancis dalam pertandingan itu, ketika ia hanya perlu menunggu bola dari Pogba untuk kemudian mampu mencetak gol.

Perhatikan proses gol kedua Giroud dalam pertandingan ini. Ia hanya menunggu saja dan tidak membuat pergerakan berarti. Dibantu dengan bek yang terlalu fokus pada bola, dan jarak antar dua bek yang renggang, Giroud mampu memanfaatkan peluang tersebut.



Sebenarnya, wajar-wajar saja kalau Giroud melakukan hal ini. Seorang striker memang memiliki kecenderungan untuk selalu berada di depan. Apalagi dengan tipikal Giroud yang sebagai seorang finisher, ia pasti lebih suka bergerak dan berada di wilayah kotak penalti lawan.

Namun, Giroud pun perlu lebih mobile seperti menarik bek untuk melakukan post-play dengan pemain lain ataupun sedikit mundur ke belakang untuk menjadi penyedia bola bagi rekan-rekannya yang lain di depan. Bukan tidak mungkin, lawan-lawan Prancis pada Piala Eropa nanti menerapkan garis pertahanan yang rendah untuk meredam kekuatan serangan Les Bleus.

Kalau itu terjadi, tentunya Giroud akan terkurung sendirian di lini depan. Jika malas bergerak, ruang tidak akan muncul bagi seorang Giroud dan hal itu akan mengakibatkan dirinya sulit dalam mencetak gol.

Dukungan pun harus diberikan oleh seorang Deschamps. Formasi dasar 4-3-3 atau 4-2-3-1 dapat diterapkan Deschamps untuk membantu Giroud. Ketika nanti Giroud mampu menjadi striker yang lebih rajin dan mau bergerak, maka ia bisa menyajikan bola untuk para pemain sayap Prancis macam Antoine Griezmann ataupun seorang Anthony Martial.

Jika hal ini terjadi, yaitu ketika Giroud mampu menjadi striker yang sedikit berbeda, ditambah dengan dukungan dari Didier Deschamps dalam menyajikan strategi yang mendukung, setidaknya tekanan yang akan dirasakan Giroud akan berkurang, karena ia bisa saja memberikan kontribusi positif yang lebih banyak bagi Les Bleus.

foto: skysports.com

ed: fva

Komentar