Yannick Carrasco, Pemuda Belgia yang Mendapatkan Panggung di San Siro

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Yannick Carrasco, Pemuda Belgia yang Mendapatkan Panggung di San Siro

Atletico Madrid kalah dari Real Madrid di babak final Liga Champions Eropa 2015/2016 lewat babak adu penalti. Fakta itu tidak dapat terbantahkan dan tidak dapat diubah. Real Madrid mengangkat piala, sementara itu Atletico harus mengakui kekalahn. Si Kuping Besar lepas dari genggaman mereka dua kali berturut-turut dari lawan yang sama, tim satu kota sekaligus kaya raya.

Namun, marilah sejenak lupakan fakta yang sudah tak bisa diubah itu. Masih ada hal lain yang menarik untuk diperhatikan, utamanya adalah salah satu pemain dari kubu Atletico Madrid yang semalam mengundang banyak decak kagum. Pemain itu bernama Yannick Ferreira Carrasco.

Mungkin pada awalnya tidak ada yang begitu tahu tentang pemain ini. Carrasco adalah pemain yang ditransfer Atletico Madrid dari Monaco pada awal musim 2015/2016 dengan banderol sebesar 17 juta euro. Ia menjadi salah satu dari banyaknya pemain asal Belgia yang mendarat di Atletico Madrid setelah nama-nama seperti Toby Alderweireld dan Thibaut Courtois.

Pemain yang pada masa awal-awal karirnya sempat membela youth team Racing Genk sampai 2010 ini sudah menarik perhatian saat ia tiga musim membela AS Monaco. Carrasco menjadi salah satu aktor utama naiknya Monaco dari Ligue 2 ke Ligue 1 Prancis dengan catatan enam gol dan enam asis pada awal dirinya membela Monaco senior, tepatnya musim 2012/2013.

Selama dua musim membela Monaco dalam ajang Ligue 1, Carrasco sempat tidak mendapatkan tempat dalam skuat utama, utamanya karena kedatangan pemain-pemain seperti Joao Moutinho, James Rodriguez, dan Radamel Falcao ke dalam tim yang perlahan mulai menggeser posisinya. Keadaan kembali membaik bagi dirinya pada musim 2014/2015 ketika Monaco dilatih Leonardo Jardim.

Pelatih yang memang gemar mengembangkan bakat-bakat dari para pemain muda ini akhirnya mengendus bakat Carrasco. Di bawah asuhan Jardim, Carrasco banyak mendapatkan kesempatan bermain. Pada musim 2014/2015 dalam ajang Ligue 1, ia mencetak delapan gol dan 14 asis dari total 52 penampilannya bersama Monaco.

Catatan inilah yang mendaratkan dirinya di Vicente Calderon untuk mendapatkan tantangan yang lebih besar. Tidak sembarangan, dirinya pun diplot sebagai pengganti seorang Arda Turan yang hijrah ke Barcelona. Dalam ajang La Liga musim 2015/2016, catatannya pun cukup apik. Mencetak lima gol dan lima asis dari 43 penampilannya bersama Atletico.

Puncak permainan dari pemain asal Belgia berusia 22 tahun ini adalah saat laga final melawan Real Madrid. Ia menjadi pusat perhatian dalam laga tersebut, bukan hanya karena perayaan golnya yang dicetak pada menit ke-79 dengan cara mencium pacarnya Noemie Happart, tapi karena dirinya mengubah secara drastis pola permainan Atletico Madrid menjadi lebih berbahaya kala menyerang.

Pola ini memang cocok dengan tipikal permainan Carrasco yang lebih suka menyisir sayap dan suka membuka ruang untuk rekan-rekannya dengan dribel-dribel berbahaya yang ia lakukan. Ini terlihat saat ia mampu mengacaukan lini pertahanan Madrid lewat dribelnya (enam dribel berhasil, lebih banyak dari Bale dan Ronaldo yang hanya tiga kali), sampai akhirnya mencetak gol penyama kedudukan.

Pada babak kedua, Atletico yang berada dalam posisi tertinggal akibat gol yang dicetak oleh Sergio Ramos pada menit ke-15 begitu sulit menembus pertahanan Madrid yang rapat. Namun, berkat masuknya Yannick Carrasco, yang begitu aktif bergerak di sisi kanan pertahanan Real Madrid, membuat Danilo, fullback yang masuk menggantikan Dani Carvajal karena cedera, begitu kerepotan.

Liarnya pergerakan Carrasco ini akhirnya berujung kepada gol yang ia cetak pada menit ke-79. Berawal dari umpan seorang Juanfran dari sisi kanan, Carrasco yang berlari dari kiri untuk kemudian menusuk ke tengah berhasil melesakkan bola ke dalam gawang seorang Keylor Navas.

Carrasco juga menjadi pencerah bagi lini serang Atletico pada akhir babak kedua sekaligus pada saat babak perpanjangan waktu. Catatan satu gol dari satu tembakan, 88% operan sukses, satu peluang, dua buah umpan silang, dan empat dribel (dua sukses) membuat dirinya menjadi sosok pembeda untuk Atletico yang pada awalnya begitu kesulitan menembus pertahanan Madrid.

Meski pada akhirnya Atletico tidak menjadi pemenang karena kalah lewat babak adu penalti, namun kemunculan dari seorang Yannick Ferreira Carrasco ini cukup menjanjikan bagi Atletico Madrid, dan juga Tim Nasional Belgia yang tak henti menelurkan pemain-pemain berbakat. Bagi yang ingin melihat aksi Carrasco lagi, tak perlu khawatir. Dalam ajang Piala Eropa 2016, dirinya akan tampil bersama timnas Belgia. Aksinya di Prancis nanti patut untuk dinantikan.



foto: independent.co.uk

Komentar