Segalanya Berjalan Baik-baik Saja Sampai Menit ke-35 bagi Atlético

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Segalanya Berjalan Baik-baik Saja Sampai Menit ke-35 bagi Atlético

Barcelona mampu bangkit dan menang setelah tertinggal gol terlebih dahulu dari Atlético Madrid di perempat final leg pertama Liga Champions UEFA. Pasukan Luis Enrique berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 2-1 di hadapan pendukungnya sendiri di Camp Nou, Barcelona.

Gol dari Fernando Torres di pertengahan babak pertama mampu dibalas oleh dua gol dari Luis Suárez di babak kedua.

Pertandingan antara kedua kesebelasan asal Spanyol ini adalah pertandingan yang dicap sebagai yang terbesar di Spanyol saat ini (maaf, ya, El Clásico, habisnya Real Madrid saja sekarang tidak di peringkat kedua, sih).

Sama-sama memakai seragam away

Sebelum pertandingan dimulai, ada hal yang terlihat tidak biasa pada pertandingan dini hari tadi. Kedua kesebelasan sama-sama memakai jersey tandang. Barcelona sebagai tuan rumah memakai seragam kuning-merah khas Catalan mereka, sementara Atlético memakai seragam biru dongker.

Khusus Barça, meskipun memakai seragam away, sebenarnya warna kuning-merah yang mereka pakai ini adalah identitas asli dari catalan di mana mereka bernaung.

Namun, tetap saja secara peraturan bahwa pertandingan dini hari tadi sama-sama menggunakan seragam tandang. Hal tersebut merupakan sesuatu yang janggal sebenarnya. Padahal, kalaupun Atlético mau menggunakan seragam home garis-garis putih-merah mereka, masih bisa diperbolehkan karena warna kedua kesebelasan tidak akan bentrok.

Fernando Torres: dari pahlawan menjadi penjahat

Kembali ke urusan pertandingan, sebenarnya Atlético bisa bermain lebih efisien dari kesebelasan tuan rumah. Dari peluit pertama dibunyikan, pasukan Diego Simeone terlihat bermain lebih humble dengan bersedia saja permainan dini hari tadi dikuasai oleh Lionel Messi dkk.

Sampai sebelum gol pertama, Atlético mampu bermain agak defensif dengan mematikan alur serangan Barcelona dari tengah. Mereka kemudian menyerang dengan serangan balik cepat ke jantung pertahanan Blaugrana.

Semuanya terlihat menggembirakan untuk Atléti sampai Fernando Torres mampu mencetak gol di menit ke-25. Sebagai catatan, gol tersebut adalah hasil dari tembakan mengarah ke gawang (shot on target) pertama Atlético dini hari tadi.

Mantan penyerang Liverpool dan Chelsea ini mampu melakukan pergerakan yang baik dalam menerima umpan dari Koke sebelum menjebol gawang yang dikawal oleh Marc-Andre ter Stegen.

Namun, ia secara cepat bertransformasi dari sosok pahlawan menjadi penjahat dalam sekejap. Hanya dalam 35 menit, ia menerima dua kartu kuning, termasuk tekelnya yang tidak perlu yang membuatnya diusir 10 menit sebelum babak pertama berakhir.

Bermain dengan 10 pemain, Atlético bertahan total

Praktis setelah Torres diusir, taktik Simeone agak terganggu dan tidak bisa berjalan seefisien sebelumnya. Sebelumnya Atlético mampu menahan Barcelona di lini tengah, tapi kemudian mereka lebih mundur lagi dengan menahan serangan Barcelona di wilayah pertahanan mereka sendiri.

Barcelona mampu menguasai pertandingan sepenuhnya setelah itu. Satu hal yang membuat Barça kesulitan adalah dalam menembus lini pertahanan Diego Godín dkk.

Dalam banyak kesempatan, kita bisa melihat 7 sampai 8 pemain Atlético berada di dalam kotak penalti, sehingga sulit bagi Barça untuk menembus pertahanan mereka. Alhasil, banyak tembakan dari luar kotak penalti yang diluncurkan oleh Neymar dkk, yaitu sebanyak 8 tembakan (43%).

Dengan sampai 8 pemain di dalam kotak penalti ini pun membuat Atlético hanya memiliki dua pemain saja untuk melakukan serangan balik. maka, strategi ini pun menjadi tidak efektif apalagi di kubu Barcelona ada Gerard Pique dan Daniel Alves yang berkali-kali mampu meredam ancaman Atlético.

Setelah bermain dengan 10 pemain, Atlético hanya berhasil melepaskan tiga buah tembakan yang semuanya tidak tepat sasaran.

Luis Suárez sebagai faktor pembeda

Trio 'MSN' yang berisikan Messi, Suárez, dan Neymar, sebenarnya mampu diredam oleh Atlético selama 90 menit. Sama seperti yang Real Madrid lakukan, bedanya Simeone meminimalisir ancaman 'MSN' dengan menumpuk pemain di dalam kotak penalti.

Dengan menumpuknya kotak penalti ini memaksa Barcelona untuk lebih kreatif. Secara umum, Messi melakukannya dengan bermain lebih ke dalam, seperti saat El Clásico yang lalu. Ia tidak pernah bisa maksimal jika bermain lebih dalam, ini terbukti dengan Messi yang tidak terlibat di dalam kedua gol Barcelona.

Kemudian, Neymar sebenarnya sangat menonjol dengan kemampuan dribelnya. Ia berkali-kali terlihat mengobrak-abrik pertahanan Atlético, namun ia tidak bisa melepaskan tembakan yang mengancam kecuali dari luar kotak penalti.

Sehingga, semua mata tertuju pada Suárez sebagai faktor pembeda. Penyerang asal Uruguay ini sebenarnya tidak bermain terlalu baik pada babak pertama, di antaranya dengan tidak ada tembakan, tidak ada peluang, dan hanya satu dari tiga dribelnya yang berhasil. Ia juga sebenarnya beruntung karena tidak diusir wasit akibat beberapa ulah nakalnya dini hari tadi.

Namun, pada babak kedua ia mampu bermain lebih baik. Gol pertamanya adalah buah dari kemampuannya dalam membaca ruang. Ia memanfaatkan tembakan melenceng Jordi Alba untuk kemudian melakukan tap-in.

Suárez kemudian menjadi pahlawan Barça dengan gol keduanya memanfaatkan umpan silang Alves setelah sebelumnya ia lah yang mampu membuka pertahanan Atlético dengan kombinasi operannya bersama Sergio Busquets dan Messi.

Tapi Barça tidak boleh lengah di leg kedua

Memenangkan pertandingan dengan mencetak dua gol setelah ketinggalan satu gol adalah cara menang yang menggembirakan. Namun, Luis Enrique tidak boleh lengan di leg kedua nanti di Vicente Calderon.

Kehilangan Fernando Torres memang menjadi bumerang dalam pertandingan dini hari tadi. Atlético bukan lah Atlético yang sama setelah mereka bermain dengan 10 pemain, apalagi melawan Barcelona yang mendekati sempurna.

Namun, Atlético bisa dibilang beruntung karena mereka bisa saja kebobolan lebih banyak gol lagi semalam meskipun mereka menumpuk sampai delapan pemain di dalam kotak penalti.

Satu gol yang Torres cetak adalah modal berharga bagi Diego Simeone di leg kedua nanti. Jika Atlético mampu bermain seperti pada 35 menit awal, bukan tidak mungkin mereka akan berhasil menyingkirkan Barcelona pekan depan.

Percaya tidak percaya, Barcelona melawan Atlético Madrid memang merupakan pertandingan yang lebih besar daripada El Clásico, khusus untuk sekarang ini.

Komentar