Saat West Brom Mencontek Leicester City

Analisis

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Saat West Brom Mencontek Leicester City

West Bromwich Albion berhasil menahan imbang pemuncak klasemen Liga Inggris, Leicester City, dengan skor 2-2. Hasil tersebut jelas mengecewakan; bukan saja karena Leicester gagal menjauh dari kejaran Tottenham Hotspur, tapi karena West Bromwich yang berhasil mencontek permainan Leicester.

Seperti yang kita ketahui, permainan West Bromwich (atau Tony Pulis) umumnya membosankan. Permainan bola-bola panjang sembari menunggu lawan membuat kesalahan, hampir tak menyajikan sesuatu yang menarik. Permainan itu pulalah yang biasa ditunjukkan Leicester City sepanjang musim ini.

Menjadi tidak mengherankan kala Leicester menang dengan selisih gol tipis, tapi jumlah peluang mereka begitu sedikit. Hal serupa juga terlihat pada penguasaan bola yang umumnya kalah jauh.

Ini terlihat saat mereka mengalahkan Manchester City 3-1 di Stadion Etihad, 6 Februari 2016. Leicester cuma mendapatkan penguasaan bola 36%. Jumlah attemps ke gawang City yang dikawal Joe Hart pun hanya 14 kali, berbanding 22 kali yang dilakukan City. Bedanya, 50% attemps Leicester mengarah tepat ke gawang, sementara City hanya empat yang mengarah ke gawang.

Cara bermain Leicester pun dianggap efektif. Mereka bertahan dan menunggu lawan membuat kesalahan untuk melancarkan serangan balik. Para pemain Leicester bukan cuma punya kecepatan, tetapi juga kontrol bola, dan umpan yang akurat. Jamie Vardy dan kolega pun umumnya mencetak gol dari dalam kotak penalti, menandakan kalau bola bisa sampai ke area terdalam pertahanan lawan. Mereka pun enggan membuang-buang peluang dengan terlalu banyak melepaskan tendangan dari luar kotak penalti.

Sayangnya, apa yang biasa dilakukan Leicester justru tidak terlihat kala mereka menjamu West Bromwich Albion. Tidak biasanya, Andy King dan kolega memegang bola begitu lama. Mereka mendapatkan 65% penguasaan bola, dan melepaskan 22 attemps. Di sisi lain, West brom hanya mendapatkan 35% penguasaan bola dan melepaskan 11 attemps.

Hal ini justru seperti membuat bingung; mana Leicester yang betulan? Yang mengenakan kostum putih-biru, atau merah-hitam?

Gol Pertama Leicester
Proses gol pertama Leicester City

Meski memegang bola begitu lama, dua gol Leicester pun terbilang amat khas. Mereka benar-benar memanfaatkan kesalahan lawan. Pada gol pertama yang dicetak Daniel Drinkwater pada menit ke-30, bola sempat memantul dari kaki pemain West Brom. Bola pun melengkung dan tak bisa dijangkau kiper Ben Foster.

Dari gambar di atas, terbilang kecil peluang Drinkwater untuk bisa mencetak gol dari jarak sejauh itu. Terlebih ada dua lapis pertahanan West Brom yang berjaga di depan Foster. Namun, kesalahan Jonas Olsson dalam menghalau bola, membuat Foster justru sulit menjangkau bola.

Gol Kedua Leicester

Hal senada terlihat pada gol kedua. Hampir tidak ada situasi yang mengancam gawang West Brom beberapa detik sebelum terjadinya gol kedua. Bola masih didistribusikan Kasper Schmeichel. Bola lalu dikirimkan ke Riyad Mahrez di sisi kanan. Refleks, dengan tumit, Mahrez memberikan umpan pada Andy King yang berdiri di dalam kotak penalti.

Namun, dua gol West Bromwich pun mirip dengan yang biasa dilakukan Leicester. Pada gol pertama, Salomon Rondon, berhasil menang duel dengan Robert Huth. Padahal, tidak ada kondisi yang mengancam gawang Schmeichel. Pun pada gol kedua di mana West Bromwich mencetaknya lewat tendangan bebas.

Meski ditahan imbang, tapi Ranieri masih percaya diri. "Itu adalah pertandingan yang fantastis dan aku sangat senang dengan penampilan kami. Cuma gol yang hilang dari kami, tapi kami menciptakan banyak peluang. Kami sedikit tidak beruntung, tapi aku menjadi lebih percaya diri ketimbang setelah pertandingan menghadapi Norwich," kata Ranieri dikutip dari The Guardian.

Ranieri senang karena mereka menciptakan banyak peluang, beda dengan saat menghadapi Norwich di mana mereka hanya membuat sedikit peluang. Padahal, bukankah itu justru ciri khas Leicester, yang membuat mereka ada di puncak klasemen?

Bagaimana menurut Anda? Lebih senang dengan penampilan Leicester yang menyerang tapi buntu, atau pernampilan bertahan tapi bisa menang?

Komentar