Adu Sikut Duo Milan di Derby della Madonnina ke-216

Analisis

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Adu Sikut Duo Milan di Derby della Madonnina ke-216

Internazionale Milan berhasil mengalahkan AC Milan pada pertemuan pertama mereka musim ini atau Derby della Madonnina ke-215. Kala itu, Inter berhasil menang tipis 1-0 saat bertindak sebagai tuan rumah di Stadion Giuseppe Meazza, September tahun lalu.

Akan tetapi tampaknya Inter tak akan mudah mengulang kemenangan pada derby kedua musim ini. Pasalnya, Inter mengalami inkonsistensi permainan dalam lima pertandingan terakhir di semua ajang yang diikutinya. Imbasnya, dua kekalahan dari Sassuolo di Serie-A dan Juventus di Coppa Italia harus mereka terima.

I Nerazzurri, julukan Inter, dikabarkan terganggu dengan cedera pergelangan kaki Ivan Perisic. Akan tetapi pemain Timnas Kroasia ini masih berpeluang untuk diturunkan karena cederanya tidak terlalu parah.

Sementara itu, I Rossoneri, julukan Milan, belum terkalahkan dalam lima pertandingan terakhirnya. Apalagi mereka semakin percaya diri dengan kembalinya Kevin-Prince Boateng yang tampil gemilang pada laga melawan Fiorentina (17/1). Di samping Boateng, Milan juga akan tampil dengan skuat utama, hanya minus Diego Lopez dan Rodrigo Ely.

Untuk formasi, Milan tengah nyaman menggunakan formasi 4-4-2, sementara Nerazurri masih bergonta-ganti susunan strateginya tersebut. Namun, mereka berkemungkinan menggunakan formasi 4-3-3 pada laga kali ini.

Inter Wajib Waspadai Serangan Balik Milan

Skuat besutan Mihajlovic memiliki serangan balik yang cukup berbahaya. Yang mana semua serangan balik mereka dimulai dari disiplinnya lini belakang mereka. Full-back Milan yang biasa diisi Ignazio Abate dan Luca Antonelli jarang naik terlalu jauh membantu serangan. Sementara para gelandang Rossoneri aktif melancarkan tekel-tekel agresif dan mencegat aliran bola lawan ke pemain depan.

Setelah bola berhasil didapatkan, Milan kerap memulai serangan balik melalui umpan-umpan panjang dari bek atau gelandangnya. Umpan penjang tersebut kerap diarahkan menuju kedua sayap mereka yang memanfaatkan lebar lapangan.

Jika Inter menggunakan garis pertahanan tinggi, mereka harus siap menyiapkan strategi untuk menangkal serangan balik Milan. Selain itu, kedua full-back Inter harus lebih disiplin menjaga area pertahanannya. Inter pun harus mewaspadai sisi kanan Milan yang menurut Whoscored presentase serangan Milan mencapai 39 % dihasilkan lewat sayap kanan.

Inter Harus Menangkan Duel Lini Tengah

Soal bertahan, Milan sering memaksimalkan sembilan pemainnya dan meninggalkan dua penyerang di depan. Terkadang satu penyerang difungsikan untuk bergerak aktif mengganggu lini tengah lawan dengan membayang-bayangi pemegang bola. Tak hanya itu, Mihajlovic pun kerap menginstruksikan anak asuhnya untuk menumpuk di dalam kotak penalti, yang bertujuan merusak dan menyulitkan skema serangan lawan ketika berada di 1/3 daerah permainan Milan.

Melihat kebiasaan Mihajlovic, para gelandang Nerazzurri wajib tampil maksimal pada laga ini. Geoffrey Kondogbia dan Marcelo Brozovic yang sepertinya akan dimainkan harus pintar-pintar mengalirkan bola di lini tengah. Selain itu, lini tengah Inter juga harus bisa menekan gelandang Milan sedini mungkin agar Milan kesulitan membangun serangan balik dari wilayahnya sendiri.

Tak hanya mengalirkan bola, lini tengah Inter juga harus bisa memanfaatkan peluang melalui tendangan-tendangan jarak jauh, seperti gol Fredy Gaurin di pertemuan pertama. Walau Gianluigi Donnarumma cukup piawai mengantisipasi sepakan jarak jauh, setidaknya hal tersebut bisa menciptakan kemelut yang bisa dimanfaatkan Mauro Icardi atau Eder, serta siapapun yang dipasang di lini depan oleh Mancini pada laga ini.

Milan Bisa Manfaatkan Agresivitas Full-back Inter

Gaya permainan Inter musim ini hampir sama dengan Milan, yaitu mendapatkan poin dari kuatnya lini belakang. Inter pun kerap menumpuk para pemainnya di dalam kotak penalti sendiri. Namun, cara mereka melakukan serangan balik agak berbeda. Jika Milan kerap melancarkan serangan balik melalui umpan-umpan panjang, Inter sering membuat serangan balik lewat operan pendek dan umpan-umpan terobosan.

Tak jarang, kedua full-back Milan sering aktif naik ketika membantu serangan. Hal tersebutlah yang bisa dimanfaatkan oleh Milan untuk memaksimalkan lebar lapangan. Apalagi  full-back kanan Inter lebih sering meninggalkan posnya ketika menyerang dan area tersebut bisa dieksploitasi oleh Giacomo Bonaventura. Namun, hal tersebut tampaknya tak terjadi apabila Yuto Nagatomo dimainkan Roberto Mancini pada posisi itu. Pasalnya, naluri bertahan Nagatomo lebih kuat ketimbang bek Inter lainnya, walau ia sering terburu-buru merebut bola.

Meski harus bermain melebar, Milan nampaknya menghindari umpan-umpan silang yang melibatkan duel udara. Pasalnya, dua bek tengah Nerazzurri bisa dibilang cukup kuat ketika melakukan duel udara. Sementara Carlos Bacca tidak terlalu baik. Kelebihan itu pun menjadi keuntungan Inter, pasalnya mereka menjadi satu-satunya kesebelasan yang belum pernah kebobolan lewat sundulan lawan.

Komentar