Tiga Alasan Mitra Kukar Memenangi Final Piala Jenderal Sudirman

Analisis

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Tiga Alasan Mitra Kukar Memenangi Final Piala Jenderal Sudirman

Mitra Kukar berhasil menjuarai Piala Jenderal Sudirman setelah sukses menundukkan Semen Padang dengan skor 2-1 Minggu (24/01). Mitra Kukar sendiri sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Adi Nugroho pada babak pertama, hingga akhirnya mereka berhasil membalikan keadaan dan mencetak gol kemenangan melalui Yogi Rahadian.

Berikut tiga kunci sukes yang membuat Mitra Kukar akhirnya berhasil memenangkan pertandingan dan keluar sebagai juara.

Kartu Merah Yu Hyun Koo

Banyak yang menilai bahwa titik balik pertandingan ini terjadi pada babak kedua khususnya ketika Semen Padang harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-50. Kartu merah diberikan wasit Thariq Al Katiri pada Yuu Hyun Koo yang dua kali menerima kartu kuning.

Perubahan Skema Serangan Semen Padang
Perubahan Skema Serangan Semen Padang

Bukan saja kalah jumlah, secara taktik peran gelandang asal Korea Selatan ini memang sangat vital dalam tubuh tim berjuluk Kabau Sirah tersebut. Pada awal pertandingan, dalam melakukan penyerangan awalnya Semen Padang yang berformasi dasar 4-4-2 mengubah formasinya menjadi 4-3-3. Yu Hyun Koo menjadi "holding midfielder" di depan dua bek tengah, Handi Ramdan dan Elhadji. Yu menjadi poros permainan sekaligus sebagai penyambung antara lini pertahanan dan barisan penyerang.

Sementara itu, setelah Irsyad Maulana masuk, transisi dari bertahan ke menyerang Semen Padang berubah menjadi 4-1-4-1. Nur Iskandar dan Vendry bermain agak ke dalam di sekitar area tengah. Perubahan skema ini tidak lantas mengubah peran Yu. Bahkan dengan diusungnya skema baru setelah Irsyad masuk, Yu tetap menjadi poros permaianan. Maka ketika Yu harus diusir keluar oleh wasit, lini tengah Semen Padang meninggalkan sebuah lubang besar.

Cederanya Novan Setya

Setelah dikeluarkannya Yu Hyun Koo. Mitra Kukar sempat tetap kesulitan membongkar pertahanan Semen Padang meski unggul jumlah pemain. Pergantian pemain yang dilakukan oleh Nil Maizar dengan mengganti Adi Nugroho oleh Rudi di mana Semen Padang mengubah formasinya menjadi 4-4-1 membuat lini pertahanan Semen Padang tetap terorganisir dengan baik.

Hanya saja kemudian terjadi situasi yang menguntungkan di mana bek kiri Semen Padang, Novan Satya, mengalami cedera. Lantas ia digantikan oleh Ricky Ohorella. Hal inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Jafri Sastra. Pemain-pemain yang baru dimasukan pada awal babak kedua yang tenaganya masih tersisa lebih banyak, difokuskkan untuk mengempur habis-habisan sisi kiri pertahanan Semen Padang.

Jafri yang memang merupakan mantan pelatih Semen Padang mengetahui betul seperti apa Ricky Ohorella yang merupakan bekas anak asuhnya. Bukan saja masih berusia muda dan belum matang pengalaman, berbeda dengan Novan yang bisa ditempatkan di dua sisi  bek sayap, Ricky hanya bisa bermain di sektor kanan.

Masuknya Rodrigo Sebagai Kunci Perubahan Mitra Kukar

Tersengat oleh gol Adi Nugroho, Jafrie kemudian dengan cepat memasukan Rodrigo dos Santos sebelum babak pertama berakhir  untuk menggantikan Syakir Sulaiman. Masuknya Rodrigo awalnya tak begitu terlihat efektif karena Mitra Kukar memainkan banyak umpan panjang ke tengah.

Namun babak kedua ketika hujan mulai mereda yang diikuti kondisi lapangan yang mulai membaik. Kondisi inilah yang dinantikan Jafri Sastra, di mana akhirnya ia  mulai menginstruksikan anak asuhnya untuk lebih banyak memainkan umpan-umpan pendek.

Hal tersebut dapat terlihat dari area bermain Rodrigo pada babak pertama dan babak kedua yang berubah. Jika pada babak pertama ia lebih sering bergerak mendekat kepda Patrick dos Santos untuk memberikan umpan hasil duel udara dari umpan panjang, pada babak kedua ia bermain lebih mendekati Rizky Pellu. Ditambah kondisi lapangan yang lebih baik  membuat gelandang asal Brasil tersebut lebih berani menguasai bola lebih lama, apalagi dengan kelebihannya melewati pemain.

Strategi ini terbukti berhasil dengan membuat para pemain Semen Padang  melakuka banyak pelanggaran-pelanggaran di area tengah lapangan bahkan hingga depan kotak penalti. Pelanggaran yang dilakukan Hyun Koo, yang kemudian berbuah kartu merah, terjadi karena upaya gelandang asal Korea Selatan tersebut untuk menghentikan Rodrigo.

Komentar