Lazio Melamban, Lazio dalam Ancaman

Analisis

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Lazio Melamban, Lazio dalam Ancaman

Kekalahan Lazio dari Juventus 0-2  tadi malam jelas menyakiti pendukung Lazio, Laziale. Tak hanya sekadar kalah dari salah satu lawan terberat di Serie A, kekalahan ini juga membawa Lazio ke tren buruk: gagal menang di enam pertandingan terakhirnya.

Penampilan Lazio pun lantas menuai kritik. Bisa kembali finish di urutan ke-3 layaknya musim lalu mulai memunculkan keraguan. Apa yang terjadi?

Musim lalu, Stefano Pioli yang jadi pelatih Lazio gemar menggunakan pola 4-3-3, di mana bisa berubah menjadi 4-2-3-1 ketika bertahan. Selain masalah taktikal, dua pemain baru, Stefan de Vrij yang didatangkan dari Feyenoord dan Filip Djordjevic  dari Nantes, juga langsung nyetel dengan permainan rekannya. Faktor taktik yang cocok dan kedatangan pemain baru pun disebut sebagai awal kebangkitan Si Elang.

Sedangkan musim ini, Lazio hanya sempat terbang di awal. Mereka begitu mengecewakan karena hanya tidak memperoleh poin penuh tiga kali dari sembilan pertandingan awal. Namun di sisa pertandingan, Lazio tidak pernah menang. Bahkan rekornya adalah lima kekalahan dan satu hasil imbang dari enam pertandingan.

Banyak yang menyebut kekalahan-kekalahan yang diderita oleh Lazio adalah karena faktor taktik yang dikembangkan oleh Pioli. Meski tak memiliki gelandang serang murni, Pioli kerap memaksakan memainkan 4-2-3-1, dengan memasang Sergej Milinkovic-Savic yang belum memiliki pengalaman bermain di Serie A. Hasilnya, dari 12 pertandingan Serie A ia hanya membukukan umpan sukses 71.5 % per pertandingan dan hanya melepas 0.8 umpan kunci per pertandingan.

Alasan kedua yang dianggap menurunkan kualitas Lazio musim ini adalah menurunnya kualitas permainan pemainnya. Menurunnya kualitas permainan terjadi berkat penurunan performa Miroslav Klose, Dusan Basta, Antonio Candreva, Federico Marchetti, dan Stefano Mauri. Hampir semua pemain tersebut merupakan pemain inti Lazio musim lalu.

Candreva yang musim lalu jadi tumpuan di sisi sayap bersama Felipe Anderson tak banyak berpengaruh musim ini. Dari 11 pertandingan Serie A yang dijalaninya, ia hanya mampu mencetak 1 gol tanpa pernah membuat assist. Musim ini, Candreva hanya membukukan 2.7 shots per game dan melepas umpan kunci 1.8 per game. Ia juga hanya melepas umpan sebanyak 29 kali, menurun dibandingkan musim lalu yang sebanyak 33.3 kali per pertandingan. Akurasi umpannya juga menurun, di mana tahun lalu akurasi umpannya sebesar 82.6 % dan tahun ini sebesar 78.7 %

Sementara, lupakan Candreva yang masih dalam usia emas. Nama lainnya yang disebutkan tadi semuanya berusia diatas 30. Hal ini pun memengaruhi Lazio karena hampir semua pemain uzur berada di posisi yang membutuhkan kecepatan. Selain itu, masih ada alasan cederanya Stefan de Vrij. Palang pintu terbaik Lazio musim lalu ini kini sedang dirawat di meja operasi karena mengalami cedera lutut.

Pertandingan lawan Juventus menggambarkan, bagaimana permainan Lazio yang sangat lambat, terutama sayap kanan kerap dimanfaatkan Juventus untuk menembus lini pertahanan mereka. Sedangkan pada posisi tersebut ditempati Dusan Basta dan Antonio Candreva. Pioli tentunya perlu mencari akal sebelum Si Elang turun rendah dan terlambat terbang tinggi.

Sumber : BBC, La Gazetta Dello Sport

Komentar