Messi yang Tidak Latihan, Messi yang Cetak Kemenangan

Analisis

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Messi yang Tidak Latihan, Messi yang Cetak Kemenangan

Semestinya, kita tidak lagi perlu terheran-heran dengan momen-momen yang sering ditampilkan oleh Lionel Messi ketika membela Barcelona. Gol-gol apik, liukan-liukan indah serta operan-operan ajaib seharusnya sudah menjadi tontonan rutin sendiri bagi para penggemar sepakbola, khususnya liga Spanyol dan Barcelona.

Toh, jika mengutip tulisan Ardi Kurniawan yang berjudul Messi dan Ronaldo Sebagai Representasi Posmodernisme beberapa hari yang lalu yaitu “Messi dan Ronaldo juga perwujudan ideologi posmodernisme mengenai tidak adanya pusat keduanya menghapus peran penyerang sebagai pusat permainan sekaligus penanggung jawab utama terciptanya gol.” Saya, secara pribadi, sependapat dengan ulasan tersebut dan sudah semestinya kita terbiasa dengan hal-hal seperti itu.

Namun, pujian memang tak ada tenggat waktunya. Saya, atau siapapun boleh memuji orang kapanpun ia ingin, dengan cara apapun. Karena, memuji itu hak masing-masing.

Sergi Roberto yang notabenenya rekan setim dari Messi sempat berujar seperti ini setelah pertandingan “Tidak akan ada lagi pemain seperti Messi, ia sangat unik. Messi yang baru saja menjadi ayah, dia tidak berlatih bersama kita dan akhirnya ia memenangkan pertandingan untuk kita (Barca).”

Nah, jika Sergi Roberto saja turut memuji dan “terheran-heran”, maka orang awam mana yang tak memuji Lionel Messi berbuat sedemikan rupa?

Ya, saya dan kita tahu, dia Messi yang mampu melakukan sesuka hatinya di lapangan. Tapi jangan lupa, yang ia hadapi bukan “kesebelasan semenjana” macam Almeria, Eibar atau lainnya. Tapi ini adalah kesebelasan Atletico Madrid di kandangnya sendiri, Vicente Calderon. Iya, Atletico Madrid yang menaklukkan Barcelona di perebutan juara liga dua musim yang lalu. Meski tampil dengan skuat yang sangat berbeda, rasa bermain mereka teteaplah sama.

Mungkin saja, cara pandang penonton dan Messi sendiri sangat berbeda ketika melihat Vicente Calderon & Atletico Madrid. Para penggemar melihat Atletico Madrid sebagai momok mengerikan bagi Barca dan Messi hanya melihat pertandingan Atletico Madrid adalah pertandingan sepakbola biasa yang setiap minggunya ia jalani. Itu hanya kemungkinan saja, ya.

Kemudian, bagaimana peran Messi selama ia bermain di 30 menit terakhir di Vicente Calderon kemarin malam?

Masuk menggantikan Ivan Rakitic pada menit ke-60, Messi yang biasa berposisi di sayap kanan (yang kemudian sering kali menjelajah lini tengah) kini ia tak banyak berdiam diri di posisi tersebut. Dengan menggunakan kapabilitas Rafinha, Messi bertukar posisi dengan Rafinha dan menjadikan dirinya sebagai gelandang serang di belakang Luis Suarez yang bergerak membuka ruang di kotak penalti. Rafinha, yang sedari awal bermain di sisi kanan, melanjutkan tugasnya bermain di posisi tersebut.

Skor yang sudah imbang 1-1 sebetulnya menjadi faktor utama mengapa Barcelona terus menyerang dan pelan tapi pasti kian berada di atas angin. Ini semua tak lain dan tak bukan karena faktor Neymar yang sepanjang pertandingan menjadi pusat penyerangan. Juga tak lupa gol tendangan bebasnya yang mampu mengubah alur pertandingan tepat tiga menit setelah Fernando Torres mencetak gol awal di pertandingan tersebut.

Neymar, dalam hal ini, mesti diberi apresiasi yang tinggi berkat gol balasan dan kemampuannya menjadi pusat permainan sepanjang pertandingan saat Messi masih duduk di bangku cadangan. Pun jika karena akhirnya Messi akan menjadi headline-headline media massa karena kejeniusannya menjadi pemain pengganti, toh Neymar mulai mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai pemaimpin baru dalan generasi serangan Blaugrana dalam beberapa musim mendatang.

areaMESSI
Grafis aksi Messi yang masuk di 30 menit terakhir [Statszone]
Jika menilik grafis di atas, Messi yang biasa bermain melebar kini bergeser lebih ke tengah untuk mengacaukan kompaksi pertahanan Atletico yang sangat rapat. Pasalnya, jika ia tetap beroperasi di sisi kanan, kompaksi pertahanan 4-4-2 atau 4-5-1 ala Atletico tak mampu digoyahkan karena hanya akan menggeser garis pertahanan tersebut tanpa mampu merusaknya.

Pergerakan Messi di tengah ini selaiknya para trequartista yang terus mengalirkan bola ke penyerangnya tersebut. Suarez yang bergerak di kotak penalti kemudian Neymar dan Rafinha yang terus mencari ruang kosong untuk mengakomodasi pergerakan Messi ternyata mempermudah La Pulga untuk melakukan aksi-aksi take-ons untuk merusak pertahanan garis rendah milik Atletico dengan total delapan kali dribel sukses.

Bahkan, total delapan kali dribel sukses milik Messi ini lebih banyak daripada seluruh pemain Atletico sepanjang 90 menit pertandingan yang hanya mampu menciptakan empat kali dribel sukses. Bahkan dalam 30 menit, ia mampu membuat tiga kali tendangan, lebih sedikit dari Neymar yang melakukan empat kali tendangan sekaligus terbanyak di pertandingan tersebut.

Imbasnya, gol kedua Barcelona yang memanfaatkan celah area half space yang dibuka oleh Luis Suarez nyata-nyatanya mampu mengakomodasi kejeniusan Lionel Messi dalam mencetak gol. Meski dari posisi kanan gawang, Messi tetap mampu mengecoh Jan Oblak dengan kaki kiri untuk menempatkan bola ke tiang jauh. Skornya, Atletico satu, Barcelona dua dan terus bertahan higga peluit panjang dibunyikan.

prosesgolMESSI
Skema gol kedua Barcelona lewat kaki Lionel Messi

Foto: Getty Images

Komentar