Rating dan Kinerja Pemain Indonesia U-22 vs Brunei Darussalam

Analisis

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Rating dan Kinerja Pemain Indonesia U-22 vs Brunei Darussalam

Indonesia kembali meraih kemenangan di babak kualifikasi AFC U-23 2016. Setelah menumbangkan Timor Leste dengan skor telak 5-0, anak asuhan Aji Santoso berhasil menumbangkan Brunei Darussalam dengan skor akhir 2-0.

Di pertandingan kali ini pelatih Adi Santoso melakukan banyak rotasi pemain di jajaran starting line-up. Sebagian karena faktor kebugaran yang tak terhindarkan (Evan Dimas dan Abduh Lestaluhu cedera), sisanya karena faktor pertimbangan taktikal dengan memasukkan Anthoni Putra menggantikan Muchlis Hadi Ning.

Keputusan Aji  merotasi pemain nyaris menjadi sebuah kesalahan. Di babak pertama para pemain Indonesia terlihat miskin kreativitas saat menghadapi lawan yang bermain bertahan total. Lini depan menjadi sorotan ketika Antoni Putra bermain buruk. Pemain SAD tersebut bermain terlalu kaku. Ia tidak aktif mencari dan membuka ruang saat diapit dua pemain bertahan Brunei .

Namun Indonesia akhirnya dapat memecahkan kebuntuan setelah Aji melakukan beberapa pergantian pemain. Masuknya  Muchlis Hadi dan Wawan Febrianto membuat daya gedor Indonesia menjadi lebih berkembang dan makin variatif. Kedua pemain ini sangat rajin bergerak melalui sisi lapangan untuk kemudian melakukan tusukan kedalam kotak penalti lawan.

Deden Natsir - 7,5

Penjaga gawang kedua Persib Bandung ini sukses menggagalkan eksekusi penalti Aidil Rahman di menit ke-4.  Penyelamatan yang dibuat Natsir itu pun menjadi satu-satunya hasil kerja kerasnya di pertandingan ini. Selanjutnya, Natsir nyaris tidak terlihat memegang bola dan bahkan bisa dikatakan ia menjadi pemain yang tidak banyak mengeluarkan keringat.  Ia sulit diberi nilai lebih besar karena memang tak mendapatkan ancaman apa pun setelah tendangan penalti itu.

Hansamu Yama – 6

Kali ini Hansamu menjadi pemain belakang yang paling banyak melakukan kesalahan dibandingkan tiga koleganya di lini belakang. Ia menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang mendapatkan kartu kuning di pertandingan ini. Hal itu terjadi ketika Hansamu mengangkat kaki terlalu tinggi dalam perebutan bola dengan Nur Syazwan yang sialnya kakinya itu mengenai dada Syazwan. Wasit pun akhirnya menunjuk titik penalti setelah kaki Hansamu mendarat di dada Syazwan. Beruntung Natsir mampu membaca arah tendangan dengan baik dan menghindarkan Indonesia dari ketertinggalan secara dini yang bisa jadi akan melahirkan kepanikan dan ketergesa-gesaan dalam menyerang.

Putu Gede – 7

Pemain berdarah Bali ini bermain sangat baik dalam membantu serangan Indonesia. Bergerak di sisi kanan, Putu acap kali memenangkan duel sprint dengan pemain Brunei dan rajin melepaskan umpan silang. Di babak pertama, Putu juga mampu melapisi Bayau di sisi kanan yang terkadang sering masuk ke kotak penalti. Umpan-umpan pendek di sisi kanan juga memudahkan para gelandang serang yang muncul untuk membuka ruang. Di babak kedua, setelah masuknya Wawan yang sering mampu menarik fullback Brunei bergerak ke tengah, Putu menjelma menjadi wingback yang sangat aktif membongkar sisi kiri Brunei yang terbuka.

Manahati Lestusen – 6,5

Di pertandingan kali ini, Manahati tidak terlalu terlihat perannya dalam membantu serangan, bahkan saat Indonesia mendapatkan tendangan sudut.  Berbeda seperti saat melawan Timor Leste. Manahati rajin berada di kotak penalti untuk menyambut umpan dari bola mati. Untuk kali ini terlihat sangat wajar. Sebab Brunei hampir bermain bertahan selama 90 menit. Tetap menjaga lini pertahanan menjadi pilihan yang tepat untuk menghindari serangan balik dari Brunei. Dan Manahati tak banyak bekerja karena Brunei praktis memang tidak pernah mengganggu pertahanan Indonesia.

Andika Rendika - 6

Bermain sebagai fullback kiri, dia jarang dan kurang aktif membantu serangan, terutama untuk menopang agresifitas Ilham (di babak pertama) atau Noviandani (di babak kedua). Padahal tidak terlalu berbahaya serangan Brunei sehingga berani lebih menyerang mungkin bisa membantu Indonesia yang sedang butuh mencetak banyak gol. Di babak kedua, ketika Putu Gede sangat agresif dan berperan lebih mirip seorang wingback ketimbang fullback, Andika juga tidak aktif menyerang. Dia lebih sering berhenti hingga garis tengah membentuk skema tiga bek di babak kedua bersama Manahati dan Hansamu.

Paulo Sitanggang – 7

Mantan polesan Indra Sjafri ini bermain baik dalam menjaga ritme permainan di lini tengah menggantikan peran Evan Dimas yang mengalami cedera. Sitanggang menjadi pemain yang menentukan ke mana arah serangan yang akan dibangun Indonesia dan mampu memenangkan perebutan bola. Bahkan Sitanggang juga piawai dalam melakukan umpan-umpan pendek dan kemampuan menggiring bolanya dipertandingan ini sangat baik. Ia bisa dikatakan sebagai jendral di lini tengah Indonesia di pertandingan barusan.

Ahmad Noviandani – 7,5

Pemain Arema Malang ini sukses memecah kebuntuan Indonesia setelah mencetak gol di menit 71. Pergerakan Noviandini di sisi tengah pertahanan Brunei dan sisi kanan Brunei juga cukup baik. Ia memang kurang berkembang di babak pertama, posisinya terlalu rapat dengan Adam Alis dan cenderung statis. Kemampuan individu Noviandini seringkali membuat pertahanan Brunei kerepotan ketika memasuki babak kedua seiring ditempatkannya dirinya sebagai pemain sayap kiri. Gol yang dicetaknya membuat ponten pemain Arema Cronus ini sedikit lebih baik dari rekan-rekannya di lini tengah.

Adam Alis – 6,5

Permainan Adam Alis bisa dikatakan tidaklah sebaik di pertandingan pertama. Di pertandingan melawan Brunei ini, Adam Alis terlalu sering melakukan keputusan yang tergesa-gesa, seperti melepaskan tendangan ke gawang berkali-kali dari jarak yang jauh. Pergerakannya di lini tengah juga monoton. Di babak pertama dia sering terlalu rapat dengan Noviandani, di babak kedua dia malah lebih sering sejajar dengan Paulo Sitanggang di kedalaman. Padahal, dengan kendornya serangan Brunei, inisiatif Adam mestinya bisa lebih maksimal dan lebih agresif lagi.

Ilham Udin – 6,5

Di babak pertama dan sisa waktunya di babak kedua, Ilham cenderung bermain sendirian. Ia terlalu melebar dan jarang melakukan pergerakan ke dalam kotak penalti. Dengan pergerakan Anthoni Putra yang statis di lini depan, ada jarak antara dirinya di sisi lapangan dengan target-man. Relatif mudah mengisolasi Ilham, apalagi ia juga tak mendapatkan bantuan yang memadai dari Andik Rendika yang menempati posisi fullback kiri.

Hendra Bayauw – 6,5

Hampir sama dengan kinerja Ilham. Bedanya, ia lebih banyak mendapatkan bantuan dari Putu Gede sebagai fullback kanan yang lebih aktif membantu serangan ketimbang Andik Rendika di fullback kiri.

Anthoni Putra – 7

Bermain buruk sebagai target-man di babak pertama. Ia gagal memerankan diri sebagai tembok yang bisa menahan bola guna membuka ruang rekan-rekannya. Pergerakannya statis, ajeg melulu di dalam kotak penalti, sehingga memudahkan center back lawan mengisolasinya. Di babak pertama, hanya sekali ia berhasil membongkar pertahanan lawan dengan pergerakannya mengejar bola ke sisi lapangan. Ia juga buruk menyelesaikan peluang emas di babak pertama. Kinerjanya agak membaik di babak kedua, terutama setelah sisi kiri pertahanan Brunei kerap terbuka berkat pergerakan Wawan Febrianto. Ponten 7 yang ia terima (mestinya sih hanya 6,5) berkat asist yang dibuatnya untuk gol Muchlis Hadi.

target man ind

Wawan Febrianto (masuk mengganti Ilham Udin) – 7,5

Wawan memberi dimensi yang berbeda dalam penyerangan Indonesia. Berbeda dengan Ilham-Bayauw yang mengisi posisi sayap di babak pertama, Wawan berani melakukan penetrasi ke dalam kotak penalti dan tidak melulu menyisir lebar lapangan. Berkat pergerakannya yang berkali masuk ke tengah pertahanan lawan, dengan atau tanpa bola, membuat organisasi back-four Brunei kerap berantakan, terutama menyisakan lubang di sisi kiri pertahanan yang kelak terbukti mengawali gol kedua Indonesia. Saat Ada Alis terlalu turun ke bawah sejajar dengan Paulo, Wawan pula yang memainkan peran sebagai jembatan penghubung antara lini tengah dengan lini serang. Ia kadang berperan sebagai “gelandang serang” yang berada di belakang Muchlis-Anthoni

dipen brunei serangan ind

Muchlis Hadi Ning (masuk mengganti Hendra Bayauw) – 7,5

Kehadiran Muchlis membuat Anthoni tak sendirian berada di pertahanan Brunei. Dan Muchlis memperlihatkan kemampuannya yang lebih baik ketimbang Anthoni dalam membuka pertahanan lawan. Ia banyak bergerak ke dua sisi lapangan. Kadang di kanan dan kadang di kiri (agak berhimpitan dengan Noviandani). Muchlis juga paham bagaimana dan kapan ia harus masuk ke dalam kotak penalti ketika Anthoni bergerak melebar. Inilah yang memungkinkan ia mencetak gol menyambut asist Anthoni yang bergerak melebar menyambut umpan terobosan. 2 gol dan 3 asist yang ditorehkan Muchlis dalam dua laga membuatnya menjadi pemain terpenting sejauh ini bagi Indonesia. Kami tahbiskan Muchlis sebagai Man of the Match laga ini.

Aji Santoso – 7

Di babak pertama, Aji terlihat tak berkutik menghadapi strategi pertahanan Brunei. Ia seperti kehabisan akal untuk memecahkan pertahanan Brunei. Mantan kapten tim nasional ini membiarkan anak asuhnya bermain statis (dari menit pertama hingga turun minum) dengan cara dan strategi yang itu-itu saja. Barulah di babak kedua ia memperlihatkan bahwa ia bukan pelatih yang tak bisa berpikir. Memasukkan Muchlis dan Wawan, dengan detail perubahan strategi baru terutama melalui peran yang dimainkan Wawan, membuat anak asuhnya bermain lebih variatif dan tidak semonoton babak pertama.

Baca juga:

Analisis Pertandingan Indonesia U-23 vs Brunei

Komentar