Gairah Timor-Leste di Bulan November

AFF

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Gairah Timor-Leste di Bulan November

Tergabung di Grup B bersama Indonesia, Singapura, Thailand, dan Filipina membuat Timor-Leste jadi tim dengan peringkat FIFA paling rendah, yakni peringkat ke-191. Secara pengalaman, Timor-Leste juga kalah dari para pesaingnya, sebab Timor-Leste baru dua kali mencicipi Piala AFF yakni pada 2018 dan 2004. Sementara Indonesia, Singapura, dan Thailand selalu berpartisipasi sejak turnamen ini dihelat pada 1996. Lantas Filipina baru sekali absen yakni pada 2008.

Perlu diketahui, pada 2004 Timor-Leste adalah negara yang diundang oleh panitia Piala Tiger (nama sebelum Piala AFF). Sehingga baru tahun inilah perjuangan Timor-Leste untuk tampil di Piala AFF berbuah manis. Pasalnya Timor-Leste tidak pernah lolos kualifikasi Piala AFF sejak pertama kali mengikutinya pada 2007. Pada ajang kali ini, sejarah telah mereka ukir dan patut berbangga karena tampil sebagai negara peserta bukan negara undangan.

Pelatih Berpengalaman dan Pemuda Harapan

Pada masa-masa awal terbentuknya sepakbola Timor-Leste, Federacao de Futebol de Timor-Leste (PSSI-nya Timor-Leste) melakukan kerja sama dengan beberapa klub sepakbola Portugal. Kerja sama itu dalam bentuk program kepelatihan bagi talenta-talenta muda berbakat di bekas provinsi Indonesia ke-27 itu. Tidak hanya itu, kerja sama juga terjalin dalam hal manajemen klub dan liga sepakbola. Tidak heran klub-klub lokal di sana namanya terinspirasi oleh klub-klub asal Portugal. Seperti contoh FC Porto Taibessee, Sporting de Timor, dan Benfica Laulara.

Namun bukan orang Portugal yang kini melatih Timor-Leste, melainkan orang Jepang bernama Norio Tsukitate. Nama ini tidaklah asing bagi masyarakat Timor-Leste. Norio adalah pelatih yang sudah berpengalaman melatih Timor-Leste U-19 dan U-23. Pada ajang Piala AFF U-19 tahun 2013 di Sidoarjo, Norio adalah otak di balik lolosnya Timor-Leste ke semifinal. Perjuangan mereka harus terhenti oleh tuan rumah yang akhirnya keluar sebagai juara.

Pada Asian Games 2018 lalu, Norio juga didaulat sebagai pelatih yang mayoritas skuat dihuni para pemain di bawah 23 tahun. Sehingga pengalaman Norio adalah bekal untuk mengarungi Piala AFF 2018. Secara prestasi, mungkin dia kalah dengan Sven-Gorran Eriksson (pelatih Filipina). Namun pengetahuannya tentang peta kekuatan negara-negara Asia Tenggara jelas melampaui wawasan Eriksson sehingga faktor ini tidak boleh diremehkan oleh para seterunya di grup B.

Seperti halnya negara-negara lain, Timor-Leste juga punya pemain istimewa. Dia adalah Henrique Wilsons Da Cruz Martins. Menurut keterangan AFF, Henrique merupakan penyerang masa depan Asia yang punya gocekan maut. AFF membandingkannya dengan Egy Maulana Vikri, gelandang asal Indonesia dan striker asal Thailand, Supachai Jaided.

Di usianya yang masih 20 tahun, Henrique tak hanya harapan masyarakat Timor-Leste, tetapi juga pahlawan sepakbola. Berkat gol semata wayang ke gawang Kamboja pada menit ke-51, pemain bernomor punggung 10 itu sukses mengantarkan Timor-Leste menjuarai Piala Hassanal Bolkiah 2018. Itulah gelar perdana Timor-Leste di bidang sepakbola sejak negara itu merdeka.

November = Perjuangan

Bicara kemerdekaan Timor-Leste, maka tidak bisa tidak kembali ke peristiwa sepanjang November 1975. Pada saat itu, wilayah Timor-Leste masih dikuasai Portugal karena secara hukum Timor-Leste baru berintegrasi dengan Indonesia pada 1976. Pada 1974, Portugal mengalami transisi kekuasaan dan pemerintahan yang baru ini punya sikap politik untuk memberikan kemerdekaan kepada Timor-Leste.

Atas dasar itulah penduduk Timor-Leste boleh mendirikan partai politik. Secara garis besar, terbentuk tiga partai politik yang ketiganya punya arah perjuangan masing-masing. Partai pertama Uni Demokrasi Timor (UDT) yang ingin Timor Timur punya pemerintahan sendiri tetapi masih di bawah naungan federasi Portugal. Partai kedua bernama Apodeti yang menganggap wilayah Timor Timur adalah bagian dari Republik Indonesia sehingga tujuan mereka agar Timor Timur kelak bersatu dengan Indonesia. Lalu partai terakhir bernama Fretelin yang secara terang-terangan memilih merdeka seratus persen tanpa di bawah kendali Portugal apalagi Indonesia.

Perbedaan kepentingan di antara ketiganya menimbulkan perang saudara. Dalam hal ini, partai Fretelin yang unggul jumlah massa keluar sebagai pemenang. Kemenangan itu ditandai dengan jatuhnya wilayah Dili ke dalam pangkuan mereka. Perlu diketahui Dili adalah simbol pemerintahan Timor Timur karena selama di bawah kendali Portugal, Dili merupakan daerah administrasi pemerintahan.

Dengan penuh percaya diri, beberapa petinggi Fretelin memproklamasikan berdirinya sebuah Republik Demokrasi Timor Timur pada 28 November 1975. Kabar ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tersengat pengumuman sepihak itu, partai-partai lainnya juga melakukan hal serupa dua hari kemudian. Isinya sangat bertolak belakang, karena proklamasi pada 30 November menyatakan Timor Timur siap untuk berintegrasi dengan Republik Indonesia.

Untuk meredam ketegangan itu, Indonesia merasa perlu mengirimkan “bantuan” ke sana. Bala bantuan di tengah perang saudara kala itu adalah tentara terlatih lengkap dengan peralatan militer mereka. Sehingga misi tentara Indonesia di bumi Timor kala itu menjadi bias kepentingan, karena lebih mengutamakan kepentingan nasional alih-alih kemanusiaan.

Tepat lima belas tahun setelahnya, terjadi peristiwa kekerasan terhadap penduduk sipil sepanjang November 1990. Adapun peristiwa itu dikenal dengan sebutan “Peristiwa November di Dili” atau ”Peristiwa Loro Sae” yang merupakan tragedi paling berdarah sejak Timor Timur jadi provinsi Indonesia ke-27. Di situlah rakyat Timor Timur sadar bahwa mereka harus pisah dengan Indonesia yang kita semua tahu akan mengalami puncaknya sembilan tahun berselang.

Di bulan November pula, Timnas sepakbola Timor-Leste meraih kemenangan pertama mereka. Sejak bergabung ke FIFA pada 2005, Timor-Leste selalu jadi bulan-bulanan sang lawan. Namun mereka berontak pada 5 November 2011. Tepatnya saat ajang SEA Games di Jakarta-Palembang, Timor-Leste tampil melawan Brunei di partai pertama babak penyisihan grup. Sempat tertinggal 1-0 di babak pertama, pada babak kedua tim berjuluk O Sol Nascente itu sanggup membalikkan kedudukan menjadi 2-1. Itulah kemenangan internasional pertama mereka sepanjang sejarah.

Kini, Timor-Leste kembali mengukir sejarah di bulan November 2018 dengan tampil di Piala AFF untuk kali pertama sebagai negara peserta. Perjuangan untuk dapat tampil di panggung ini pun tak mudah karena harus melewati hadangan Brunei dengan skor agregat. Masyarakat tentu berharap sejarah itu dapat terus berlanjut paling tidak dengan mengakhiri Piala AFF tanpa berstatus juru kunci.

Dengan kombinasi pelatih yang mengenal betul kekuatan negara-negara Asia Tenggara, pemuda berbakat berusia 20 tahun, dan semangat perjuangan di bulan November, Timor-Leste siap mengejutkan lawan-lawannya di Piala AFF 2018.

Komentar