Mengintip Kekuatan Filipina dan Cara Mengatasinya

AFF

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Mengintip Kekuatan Filipina dan Cara Mengatasinya

Indonesia akan menghadapi Filipina pada pertandingan kedua Piala AFF 2014. Filipina diprediksi akan menjadi lawan yang cukup berat bagi ‘Garuda Jaya’ setelah pada laga pembuka, skuat asuhan Thomas Dooley ini mencukur Laos dengan skor 4-1.

Kekuatan Filipina cukup merata pada segala lini. Dimulai dari lini pertahanan, di mana duet bek tengah Luis Guirado dan Amani Aguinaldo tampil disiplin sehingga pekerjaan kiper Patrick Deyto relatif lebih mudah. Pada laga melawan Laos, Deyto hanya melakukan satu save.

Aguinaldo dan Guirado tetap menjaga area depan kotak penalti ketika Filipina menerapkan garis pertahanan tinggi. Berbeda dengan Daisuke Sato dan Simone Rota yang mengisi bek sayap, di mana keduanya lebih sering berada di area dekat garis tengah lapangan untuk mengantisipasi serangan balik Laos yang mengandalkan sayap.

Adanya Rota dan Sato di sisi sayap membuat pemain Laos yang sering kalah jumlah pemain saat melakukan serangan balik, menggiring bola ke arah tengah secara diagonal. Dalam beberapa kesempatan, Sato maupun Rota acapkali mampu memenangi duel satu lawan satu. Karenanya, para pemain Laos lebih sering memilih untuk menggiring bola secara diagonal ke tengah, di mana ini menjadi santapan empuk bagi Aguinaldo atau pun Guirado.

Postur tubuh Aguinaldo dan Guirado pun memudahkan keduanya memenangi duel-duel bola atas. Aguinaldo memiliki tinggi 190cm, sedangkan Guirado 180cm. Ini artinya, Indonesia harus meminimalisir serangan lewat umpan panjang yang dikirimkan langsung Achmad Jufrianto ataupun M. Roby langsung ke Sergio van Dijk di lini depan.

Pada dasarnya, para pemain Filipina memang memiliki postur di atas rata-rata pemain Asia Tenggara. Maka tak heran, serangan yang mereka lancarkan pun lebih sering mengandalkan bola-bola udara. Mark Hartmann di lini depan memiliki tinggi 183cm, sedangkan Phil Younghusband yang berdiri di belakangnya, 180cm. Pun begitu dengan Patrick Reichelt penyerang pengganti Hartmann.

Area tengah menjadi kekuatan utama serangan Filipina. Manny Ott dan Jerry Lucena yang mengisi pos gelandang tengah memliki visi bermain yang cukup mumpuni. Ott melepaskan 63 umpan dengan 88% tingkat keberhasilan, sementara Lucena, 60 umpan dengan 90% tingkat keberhasilan. Bahkan keduanya pun ikut berperan membantu lini pertahanan dengan mencatatkan total 5 tackle saat menjungkalkan Laos.

Kemampuan individu para pemain bertahannya memang cukup diandalkan para pemain Filipina saat menghadapi Laos. Tengok saja statistik yang menunjukkan bahwa Filipina berhasil memenangkan 23 kali tackle dengan presentasi 91.3% tanpa menerima satu pun hukuman kartu dari wasit.

Maka dari itu, pelatih Alfred Riedl perlu memasang pemain yang bisa menguasai lini tengah dan menandingi Lucena dan Ott. Firman Utina yang memiliki pengalaman dan visi bermainnya bisa dibilang terbaik di Indonesia perlu ditandemkan bersama salah satu dari Raphael Maitimo dan Manahati Lestusen.

Kelebihan Firman Utina sudah terlihat pada laga melawan Vietnam. Masuk pada babak kedua, umpan-umpan gelandang Persib Bandung ini kerap merepotkan pertahanan Vietnam. Misalnya saja umpan Firman yang mengirimkan umpan daerah di antara Van Dijk dan dua pemain bertahan Vietnam yang nyaris menjadi gol.

Jangan lupakan jug lini pertahanan Filipina yang menaikkan garis pertahanan mereka ketika bertahan. Firman jelas memiliki kapabilitas untuk memanjakan M. Ridwan dan Zulham Zamrun untuk beradu lari dengan Rota dan Sato yang posisinya lebih naik dibanding dua bek tengah, Aguinaldo dan Guirado. Dengan kecepatan yang dimiliki Zulham dan Ridwan, tampaknya bisa mengeksplotasi lini pertahanan Filipina.

Untuk sektor pertahanan, Indonesia patut mewaspadai pemain sayap kiri Filipina, Misagh Bahadoran. Pemain naturalisasi asal Iran ini menjadi pemain yang cukup membahayakan bagi pertahanan Laos, khususnya Ketsada Souksavanh.

Bahadoran berkombinasi dengan Sato yang juga sering naik hingga mendekati area kotak penalti. Dengan Bahadoran yang rajin melakukan penetrasi ke kotak penalti, Sato sering mendapatkan ruang kosong di mana ia bisa melepaskan umpan silang dengan leluasa.

Zulkifli Sukur yang sepertinya masih akan tetap dipercayakan mengisi pos bek kanan tampaknya akan cukup sibuk pada laga ini. Apalagi bek kanan Mitra Kukar ini pun sering naik hingga mendekati area kotak penalti lawan, transisi dari menyerang ke bertahan Zulkifli perlu lebih disiplin agar tak meninggalkan lubang.

Tak hanya Zulkifli memang, karena harusnya, ada seorang pemain gelandang bertahan yang juga bisa meng-cover area yang ditinggalkan Zulkifli. Dengan Immanuel Wanggai yang cedera, peran ini sejatinya lebih cocok dimainkan oleh Hariono. Namun jika pada pertandingan melawan Vietnam saja namanya tak masuk dalam daftar pemain cadangan, maka sepertinya peran ini akan diperankan oleh Maitimo.

Tapi siapa pun gelandang yang akan diturunkan Riedl, ia harus bisa menandingi lini tengah Filipina yang cukup kreatif. Pasalnya, serangan Filipina sering bermula dari tengah, di mana Lucena dan Ott berada. Jika lini tengah Indonesia didominasi keduanya, Indonesia bisa saja jadi korban kedua Filipina pada Piala AFF kali ini.

Namun jika melihat stastik Indonesia kala melawan Vietnam, di mana Indonesia menciptakan 61% keberhasilan duel udara, tampaknya Indonesia bisa menandingi lini serang Filipina yang mengandalkan umpan silang dan duel udara.

Tinggal bagaimana cara Indonesia untuk mengeksploitasi lini pertahanan Filipina. Pemain yang tepat harus Riedl turunkan sejak menit pertama. Jika pelatih asal Autria ini berani, pasangkan Evan Dimas dan Firman Utina dengan mengorbankan Manahati dan Boas Salossa agar bisa lebih mendominasi lini tengah.

Komentar