Gianluca Zambrotta, Pahlawan dari Como

Advetorial

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Gianluca Zambrotta, Pahlawan dari Como

Como hanyalah sebuah kota kecil yang berada di ujung utara Italia yang berbatasan dengan Swiss. Berdasarkan sensus pada April 2015, kota ini dihuni oleh kurang lebih 84.400 jiwa. Pegunungan Alpen dengan Danau Como mengelilingi kota indah ini. Di kota ini pula, lahir seorang pesepakbola kenamaan yang dikenal sebagai seorang full-back yang tangguh.

Tepat pada 19 Februari 1977, lahir seorang pria yang kelak akan menjadi legenda dari tanah Como. Pria itu diberi nama Gianluca Zambrotta. Sejak kecil, ia memang sudah suka bermain sepakbola dan itu terbukti dengan bergabungnya ia bersama kesebelasan lokal daerahnya, Como Calcio, pada 1994 ketika ia masih berusia 17 tahun.

Tiga tahun membela Como, akhirnya pada 1997, salah satu klub kenamaan Serie A saat itu, Bari, berhasil mengendus bakatnya dan menariknya untuk bergabung bersama Bari yang dilatih oleh Eugenio Fascetti. Dua musim bersama Bari, ia semakin moncer dan bersinar dengan total mencetak enam gol dari 59 penampilannya bersama Bari. Hal ini membuatnya dipanggil untuk membela tim nasional Italia pada 1999, sekaligus menjadi pemain Bari pertama yang membela timnas selama 50 tahun terakhir.

Pada 1999, ia melakukan gebrakan besar dalam kariernya setelah memutuskan untuk bergabung bersama Juventus yang saat itu berada di bawah asuhan Carlo Ancelotti. Bersama Juventus, banyak trofi bergengsi yang ia raih seperti trofi Scudetto Serie A, Supercoppa Italiana, dan UEFA Intertoto Cup. Ia juga menjadi bagian dari skuat Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006.

Selama membela Juventus inilah ia mengalami sebuah transformasi posisi. Setelah mengalami cedera yang cukup lama setelah pertandingan Piala Dunia 2002 melawan Korea Selatan, ia melewatkan beberapa pertandingan bersama Juventus pada awal musim 2002/2003. Saat inilah, posisi biasanya sebagai seorang winger terebut oleh Mauro Camoranesi yang bermain apik.

Namun, pelatih Juve saat itu, Marcelo Lippi, tidak kehabisan strategi. Ia pun akhirnya mencoba menempatkan Zambrotta sebagai seorang full-back kiri. Luar biasanya, Zambrotta berhasil beradaptasi di posisi barunya ini dengan cepat. Ia pun menjadi tulang punggung pertahanan Juventus, utamanya di posisi fullback.

Sebagai seorang pemain yang versatile dengan kemampuan taktikal yang tinggi, ditambah dengan staminanya yang kuat yang membuatnya mampu membantu tim dalam menyerang maupun bertahan, ia tetap menjadi andalan di lini pertahanan Juve. Saat tonggak kepelatihan Juve beralih ke tangan Fabio Capello sekalipun, Zambrotta tetap menjadi andalan lini pertahanan Juventus.

Tapi, kasus calciopoli yang membelit Juventus pada akhir musim 2005/2006 membuat dirinya pindah ke Barcelona dengan biaya 14 juta euro. Ia pindah ke Barca bersama pemain Juve yang lain, Lillian Thuram. Bersama Barcelona, ia sama sekali tidak meraih trofi La Liga. Ia hanya meraih trofi Piala Super Spanyol pada awal kedatangannya dan juga mengantarkan Barca menjadi runner-up Piala Dunia Antarklub.

Pada 2008, menjelang akhir-akhir kariernya sebagai seorang pesepakbola, ia bergabung bersama AC Milan dari Barcelona dengan durasi kontrak selama tiga tahun. Di Milan, ia masih bisa menunjukkan sisa-sisa ketangguhannya dengan mengantarkan Milan meraih scudetto musim 2010/2011 sekaligus mengantarkan Rossoneri menjuarai Piala Super Italia pada 2011.

Lepas itu, usia sudah tidak dapat membohongi dirinya. Pada 2012, kontraknya tidak diperpanjang oleh AC Milan dan ia pun berstatus free transfer. Sembari berlatih bersama Como, ia menanti tawaran yang hadir. Tawaran pun muncul dari tim asal Swiss, Chiasso. Selama satu tahun, ia membela Chiasso. Di sini pun ia sempat menjalani peran sebagai player-manager dan berhasil menyelamatkan Chiasso dari jurang degradasi.

Pada 2014, ia resmi mengumumkan bahwa dirinya pensiun dari dunia sepakbola sebagai pemain. Ia melanjutkan pekerjaan sebagai manajer Chiasso. Namun, ia dipecat pada April 2015 karena dianggap tidak mampu mengantarkan Chiasso meraih prestasi bergengsi.

Terlepas dari apapun yang pernah ia raih selama berkarier sebagai pesepakbola, ia tetap menjadi kebanggaan masyarakat Como. Hal ini terbukti dari tanda kehormatan yang banyak ia raih, seperti Knight of the Order of Merit of the Italian Republic pada 2006 dan Collar of Merit Sports pada tahun yang sama. Hal ini tentunya membuat Como bangga, pun dengan Italia.

Bagi Anda yang merindukan aksi-aksi dari seorang Gianluca Zambrotta, Anda bisa datang ke Stadiou Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Sabtu (21/5) malam. Zambrotta akan menjadi bagian dari Best XI Lippi yang akan menghadapi eks Primavera Baretti dalam rangkaian acara Grande Evento Italian Legend. Di sana, Anda akan bisa melihat kembali manuver sang pahlawan dari Como ini di sisi kiri lapangan.

ed: fva

Komentar