Erik Ten Hag Membuat Pertahanan Man. City Kepayahan

Analisis

by Bayu Aji Sidiq Pramono

Bayu Aji Sidiq Pramono

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Erik Ten Hag Membuat Pertahanan Man. City Kepayahan

Manchester United merebut tahta penguasa Kota Manchester setelah menundukan Manchester City dengan skor 2-1 Sabtu (14/1) di Old Trafford. Tim tamu unggul lebih dulu melalui gol Jack Grealish (60’) sebelum keadaan berbalik berkat gol dari Bruno Fernandes (78’) dan Marcus Rashford (82’). Hasil ini membawa The Red Devils naik ke peringkat ketiga klasemen sementara dengan torehan 38 poin.

Erik Ten Hag menurunkan pemain yang sedikit berbeda. Ia memasang Fred dan Casemiro sebagai dua jangkar di depan lini belakang. Christian Eriksen digeser lebih ke depan sebagai gelandang serang. Bruno Fernandes ditempatkan lebih melebar sekaligus mengistirahatkan Antony di bangku cadangan.

Di kubu lawan, Rodrigo, Bernardo Silva, dan Kevin De Bruyne mengisi lini tengah. Keputusan ini mengindikasikan bahwa Josep ‘Pep’ Guardiola ingin meningkatkan kreativitas untuk menciptakan peluang sebanyak-banyaknya. Di lini belakang, Pep memasang Akanji dan Ake yang sedikit lebih cepat dibanding Laporte.

Gambar 1 - Sebelas Pertama Manchester United dan Manchester City

Sumber : SofaScore

Casemiro dan Fred

Meski mendominasi penguasaan bola, Manchester CIty kesulitan membongkar pertahanan tim tuan rumah. Mereka mencatatkan 70,1 persen penguasaan bola namun hanya menghasilkan lima tembakan dan hanya satu tembakan yang mengarah ke gawang. Sementara United melepaskan tiga tembakan meski hanya 20,9 persen penguasaan bola. Fakta tersebut menunjukan bahwa Manchester United memiliki pertahanan yang rapat.

Keputusan Ten Hag memasang dua gelandang bertahan untuk mempertebal unit pertahanan berjalan sukses. Fred dan Casemiro memiliki pembagian tugas yang jelas. Mantan pemain Real Madrid tersebut bertugas untuk mengawal ruang di depan barisan pertahanan sementara Fred ditugaskan khusus untuk menjaga pergerakan Kevin De Bruyne.

Rencana tersebut menyulitkan City untuk menciptakan peluang. De Bruyne kehilangan kenyamanan sehingga umpan yang ia coba arahkan ke kotak penalti tidak akurat. Bernardo mencoba memecah kebuntuan dengan mempercepat aliran bola. Inisiatif tersebut terlalu mudah terbaca sehingga tim tamu selalu gagal memasuki kotak penalti United. The Citizens membutuhkan lebih dari 20 menit untuk dapat menyentuh bola di kotak penalti David De Gea.

Tidak Ada Akses untuk Haaland

Manchester City dengan kehadiran Erling Haaland secara tidak langsung mengubah pola pikir pemain yang tercermin di atas lapangan. Semua pemain City seperti memiliki kewajiban untuk “melayani” Haaland. Sebagai seorang penyerang, Haaland lebih sering berperan sebagai ujung tombak yang tidak banyak menjemput bola sehingga membutuhkan suplai untuk bisa mencetak gol. Dari segi mobilitas, mantan pemain Borussia Dortmund tersebut cenderung rendah. Situasi ini yang membuat gelandang City kesulitan mengakses posisi Haaland.

Selain itu, unit pertahanan Manchester United menerapkan taktik zonal marking. Keputusan tersebut diambil karena gaya serangan City mengandalkan pergeseran ruang. Taktik tersebut berjalan sempurna sepanjang pertandingan. Varane yang memimpin barisan pertahanan berhasil menjaga kedisiplinan rekan-rekan nya sehingga tidak terpancing dengan rencana City yang beberapa kali menarik bola ke belakang untuk merenggangkan unit pertahanan tuan rumah.

Sepanjang pertandingan, Haaland hanya menyentuh bola sebanyak 19 kali. Catatan ini merupakan yang terburuk diantara semua pemain yang bermain 90 menit. Haaland yang terisolasi membuat Pep harus mencari cara alternatif agar mampu mencetak gol.

Keputusan Pep memasukan Grealish ternyata berbuah satu gol. Gol tersebut berawal dari Fred yang terpancing di sisi kiri pertahanan United sehingga membuat De Bruyne tidak terkawal. Meski dari celah sempit, teknik dan kreativitas kapten tim nasional Belgia tersebut masih mampu mengirimkan umpan ke tiang jauh yang sangat akurat.

Respon Cepat Erik ten Hag

Sebelum gol Grealish tercipta, United sebetulnya berhasil mengancam gawang Ederson melalui serangan balik. Rashford mendapatkan dua tembakan ke gawang namun masih berhasil dihalau kiper timnas Brazil tersebut. Bruno yang beroperasi sedikit melebar mendapatkan satu kali ruang tembak namun tembakan nya terlalu melebar.

Ten Hag menyadari situasi tersebut sehingga ia mencoba mempertajam senjata andalan nya. Ketika Antony masuk menggantikan Martial di awal babak kedua, terlihat jelas bahwa maksud Ten Hag adalah menambah kecepatan di lini depan. Tujuannya adalah menambah opsi pemain yang mampu berlari mengakses ruang di belakang garis pertahanan City.

Setelah Antony, Ten Hag menambah lagi aspek kecepatan dengan memasukan Alejandro Garnacho. Dengan demikian, kini United bermain dengan tiga penyerang yang unggul dalam kecepatan yaitu Antony, Rashford, dan Garnacho. Pergantian tersebut berjalan sangat efektif. Gol pertama dan kedua berasal dari proses serangan balik yang cepat.

Akanji dan Ake Kepayahan

Tulisan sebelumnya menyoroti pertahanan Manchester City yang memburuk pasca jeda Piala Dunia 2022. Pada pertandingan ini, kelemahan tersebut terlihat sangat jelas terutama pada situasi transisi.

Ketika menyerang, Pep membentuk struktur 2-3-6-1 dengan bek sayap yang masuk ke tengah mendekat ke arah Rodri. De Bruyne dan Bernardo mengisi ruang antar lini sementara Foden dan Mahrez memanfaatkan area flank. Dengan struktur ini, City memungkinkan untuk menyerang dari segala arah dengan risiko yang cukup besar.

Praktis struktur tersebut hanya menyisakan dua bek tengah di belakang. Rodri ditugaskan memutus serangan balik agar beban Akanji dan Ake sedikit berkurang. Cancelo dan Walker memegang peran penting karena United memulai serangan balik dari area sayap. Jika dua pemain ini terlambat kembali ke posisi natural nya, maka situasi akan merugikan tim tamu.

Pada babak pertama, City mampu mengendalikan serangan balik meski beberapa kali membahayakan gawang Ederson. Tapi, tidak ada gol yang tercipta. Hal ini disebabkan karena Akanji dan Ake masih mampu menyaingi kecepatan Martial dan Rashford sebagai eksekutor rencana tersebut.

Cerita berbeda ketika Antony dan Garnacho masuk. Mereka kepayahan menghadapi tiga pemain dengan kecepatan tinggi. Ketika United memulai serangan balik, tiga pemain tersebut dengan cepat telah sampai ke lini pertahanan City sehingga menciptakan situasi tiga lawan dua. Wajar jika City kebobolan dua gol dari situasi yang sama.

Komentar