Kembali ke Stadion Setelah Tragedi Kanjuruhan

Cerita

by Evans Simon

Evans Simon

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kembali ke Stadion Setelah Tragedi Kanjuruhan

Ada dua pemandangan berbeda ketika penyerang Malaysia, Safawi Rasyid, mencetak gol keduanya ke gawang Indonesia yang dijaga kiper M. Ridho pada 23 November 2019. Di tribun Zona B, kelompok Ultras Malaya bersorak-sorai kegirangan tanpa gangguan. Sementara, di tribun Zona E yang berada di seberangnya, tensi antara suporter Indonesia dengan suporter Malaysia semakin panas.

Sejak Safawi mencetak gol pertamanya pada menit ke-30, suporter Indonesia dan Malaysia memang hampir tak henti-hentinya saling lempar provokasi dan barang. Saya masih ingat dengan jelas ketika sebuah flare melayang dari tempat suporter Malaysia dan jatuh di tribun suporter tandang, tempat saya berada.

Alih-alih fokus pada aksi di atas lapangan, kebanyakan dari suporter Indonesia yang ada di Stadion Bukit Jalil lebih sibuk meladeni suporter Malaysia hampir sepanjang pertandingan. Barangkali, satu-satunya momen yang membuat atensi kami teralihkan adalah ketika Indonesia mendapat penalti tujuh menit jelang laga berakhir. Namun, eksekusi Osas Saha ditepis Farizal Marlias. Harapan selebrasi di tribun Bukti Jalil pun kandas. Sial.

Selepas waktu penuh, situasi tidak langsung mereda. Kami sempat ditahan selama beberapa jam di dalam stadion untuk menghindari bentrok dengan suporter Malaysia. Tetapi, tetap saja, ada suporter Malaysia yang menunggu dan memperhatikan gerak-gerik kami meski baru diizinkan keluar stadion jelang tengah malam.

Sudah keluar biaya pribadi hingga jutaan rupiah untuk transportasi dan akomodasi, mendapat teror fisik dari suporter tuan rumah, dan pulang dengan langkah gontai karena sedih dengan permainan timnas. Itulah pengalaman terakhir menonton langsung Timnas Indonesia sebelum pandemi COVID-19 melanda.

Meski kurang menyenangkan, hal tersebut tidak membuat saya kapok mendukung timnas. Justru, sensasi dan dinamika inilah yang membuat pengalaman menonton timnas secara langsung di stadion menjadi seperti candu.

---

Baru pada 23 November 2022 saya kembali berkesempatan menyaksikan Indonesia di stadion. Dibanding tiga tahun lalu, kondisi Skuad Garuda sekarang jauh berbeda.

Laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Kuala Lumpur itu merupakan laga terakhir Timnas Indonesia sebelum ditangani oleh pelatih Shin Tae-yong. Sejak itu, performa timnas berangsur-angsur membaik.

Ada semangat baru dan perubahan positif yang dibawa STY ke Skuad Garuda. Dengan barisan pemain muda, kita menjadi runner-up Piala AFF 2020 (kendati tidak diunggukan) dan lolos ke Piala Asia untuk pertama kalinya sejak 2007.

Maka, sewajarnya, saya menantikan pertandingan pertama timnas di Piala AFF 2022 dengan menggebu-gebu. Faktanya, tidak demikian.

Ada perasaan kurang nyaman jelang laga melawan Kamboja kemarin. Alasannya tak lain karena ini adalah pertandingan pertama timnas pasca Tragedi Kanjuruhan. Ini adalah pertandingan resmi sepakbola di Indonesia yang dihadiri penonton pasca tragedi yang menewaskan 135 orang tersebut.

Sulit rasanya menikmati pertandingan tanpa beban ketika di negara yang sama, tak sampai tiga bulan sebelumnya, 135 orang merenggang nyawa akibat menonton sepakbola. Apalagi, dalam kurun waktu tersebut, hampir tidak ada perbaikan signifikan dalam tata kelola sepakbola ataupun upaya pengusutan kasus.

Sepakbola kita masih dijalankan oleh orang-orang yang sama, sedangkan jumlah tersangka belum bertambah. Alih-alih menjadikan Tragedi Kanjuruhan sebagai pelajaran untuk memperbaiki sepakbola nasional secara serius, para pemangku kepentingan lebih cepat bergerak untuk menyelamatkan muka masing-masing dengan kembali menggelar sepakbola secepat mungkin.

Segalanya terasa kejar tayang dan seadanya; yang penting jalan dulu. Izin berlanjutnya putaran pertama Liga 1 baru turun di hari H. Izin keramaian Piala AFF juga baru turun beberapa hari sebelum laga.

Memang, beberapa perubahan diterapkan di Piala AFF 2022. Misal, jam sepakmula diubah dari malam menjadi sore, jumlah tiket dibatasi hanya 25.000, hingga dilarangnya aparat kepolisian masuk ke area stadion. Namun, tetap saja tetap ada beberapa problem ketika hari pertandingan.

Pagar di sekitaran GBK baru dibuka satu jam jelang sepakmula. Hal ini membuat para suporter, yang terpantau sudah mulai berada di lokasi beberapa jam sebelumnya, harus menunggu cukup lama dan mengantre cukup panjang. Hasilnya, diketahui sempat terjadi ketegangan di beberapa titik antara suporter dan pihak keamanan.

Di dalam stadion, beberapa suporter di Tribun VIP B sempat kebingungan mencari tempat duduk karena tidak ada petugas di lokasi untuk membantu mengarahkan, bahkan setelah pertandingan dimulai. Alhasil, tidak sedikit yang kemudian memutuskan duduk di tribun khusus media.

Ketika babak kedua berlangsung, saya melihat ada beberapa suporter di Tribun Selatan yang turun ke setelban. Mereka bereaksi setelah spanduk "Justice for Kanjuruhan" yang dipasang di kaca pembatas diambil oleh pihak keamanan.

Di momen tersebut, saya menyadari bahwa bahkan setelah Tragedi Kanjuruhan, masih belum ada jaminan riil saya tidak akan menjadi angka berikutnya.

---

Keberadaan suporter di SUGBK sendiri diapresiasi oleh STY yang sejak beberapa hari sebelumnya meminta izin kepada kepolisan lewat media sosial agar mengizikan suporter hadir. Laga melawan Kamboja adalah laga resmi pertama STY sebagai pelatih Indonesia di SUGBK.

Dalam konferensi pers pasca pertandingan, pria asal Korea Selatan tersebut berterima kasih kepada para suporter yang hadir. Setelah itu,ia langsung mengatakan bahwa dirinya "marah dan kecewa" terhadap permainan tim.

Indonesia memang menang vs Kamboja, tetapi permainannya terasa kurang memuaskan, terutama di depan gawang. Witan Sulaeman dkk melepaskan 16 tembakan dan delapan di antaranya mengarah ke gawang, tetapi hanya dua yang bersarang di jalan gawang lawan. Salah satu alasan kurang padunya permainan, menurut STY, adalah ketiadaan uji coba dan liga yang sempat vakum.

"Ini adalah pertandingan pertama (kami). Sudah lama tidak ada pertandingan (di Indonesia). Selain itu, juga tidak ada laga uji coba jelang turnamen ini,” kata Shin dalam konferensi pers.

Kita semua sama-sama tahu, tidak adanya uji coba dan terhentinya liga selama beberapa bulan adalah akibat Tragedi Kanjuruhan. Artinya, situasi ini sebenarnya sangat bisa dihindari seandainya saja sepakbola Indonesia dikelola dengan baik sejak awal.

Terkait performa timnas sendiri, tentu memang masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Setelah "bertandang" ke Kuala Lumpur untuk menghadapi Brunei Darussalam, laga kandang selanjutnya di fase grup adalah melawan juara bertahan Thailand.

Melihat peta persaingan di Grup A (diisi Indonesia, Kamboja, Thailand, Brunei, dan Filipina), laga melawan sang juara bertahan akan krusial bagi timnas untuk lolos ke semifinal sebagai juara grup.

Di pertandingan vs Thailand pada 29 November 2022 nanti, jumlah suporter yang boleh hadir di SUGBK kabarnya akan bertambah menjadi sekitar 40.000. Jika benar, maka atmosfer seharusnya akan semakin meriah dan menguntungkan bagi timnas.


Secara pribadi, saya cukup menantikan kembali ke SUGBK. Saya ingin kembali meresapi energi dan dinamika di dalam stadion. Misalnya, seperti ketika vs Kamboja, para penonton di tribun melakukan mexican wave. Sementara, di sudut stadion lain, spanduk "Justice for Kanjuruhan" disita oleh pihak keamanan.

Komentar