Kebahagiaan Orang Tua dan Cerita Lain tentang Si Kepala Alpukat

Piala Dunia

by Arienal A Prasetyo

Arienal A Prasetyo

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kebahagiaan Orang Tua dan Cerita Lain tentang Si Kepala Alpukat

Pada 2021, hubungan Halilhodzic dan Hakim Ziyech tidak harmonis. Pelatih asal Bosnia itu menganggap Ziyech berkelakuan buruk dan berpura-pura cedera. Pemain Chelsea itu pada akhirnya tidak dibawa ke AFCON 2021.

Walid Regragui baru menggantikan Vahid Halilhodzic menjadi pelatih Maroko pada Agustus lalu. Waktu persiapan sekitar dua bulan rasanya terhitung pendek jelang ajang sebesar Piala Dunia.

“Saya sangat bangga bisa menjadi pelatih kepala tim nasional senior negara saya. Ini adalah sebuah tanggung jawab besar, dan kami akan berjuang untuk membuat masyarakat Maroko bangga,” ujar Regragui dikutip dari AP.

Regragui membuktikannya dengan keberhasilan Maroko menjadi juara grup dan menumbangkan Spanyol di babak 16 besar. Maroko pun berhasil melaju ke babak perempat final Piala Dunia untuk yang pertama kalinya.

Kiprah Pelatih Terbaik di Maroko

Semasa masih menjadi pemain, Regragui mengoleksi 45 caps untuk Maroko. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari karirnya sebagai pemain. Regragui hanya pernah juara Ligue 2 2002/03 bersama AC Ajaccio. Berbeda saat menjadi pemain, prestasinya sebagai pelatih sangat mentereng.

Pelatih berjuluk “Si Kepala Alpukat” itu pernah menjadi asisten Rachid Taoussi yang menangani Maroko pada 2012/13. Setelah itu, petualangannya melatih klub dimulai. Pertama, ia melatih FUS Rabat (2014-2019), Al Duhail (2019-2020), dan Wydad SC (2021-2022). Di tiga klub tersebut, Regragui selalu berhasil mempersembahkan trofi.

Pada 2014, juara Piala Maroko berhasil dipersembahkan untuk FUS Rabat. Dua tahun berselang, gelar Botola Pro 1 (Liga Maroko) berhasil diraih, yang merupakan gelar liga pertama bagi klub tersebut. Gelar itu makin spesial karena Regragui dianugerahi pelatih terbaik liga Maroko.

Regragui kemudian menerima pinangan klub Qatar, Al Duhail, pada Januari 2020. Kebersamaannya dengan Al Duhail hanya sampai pada bulan Oktober. Namun, ia berhasil mempersembahkan gelar Qatar Stars League.

Pelatih berusia 47 tahun itu kemudian kembali ke Maroko, dengan melatih Wydad SC, salah satu raksasa Liga Maroko. Regragui mulai menangani Wydad SC pada Agustus 2021. Di bawah arahan Regragui, tim berjuluk Wydad Al Oumma itu berhasil meraih gelar Botola Pro 1 dan Liga Champions Afrika. Si Kepala Alpukat pun kembali terpilih sebagai pelatih terbaik Liga Maroko.

Kontrak Regragui bersama Wydad SC hanya satu musim. Maka, ketika Presiden Federasi Sepakbola Maroko (FRMF), Fouzi Lekjaa memberi isyarat bahwa Ziyech akan menjadi bagian Maroko dalam Piala Dunia 2022, posisi Halilhodzic pun berada di ujung tanduk.

Membela Pemain Sehingga Siap Bertarung Untuknya

Ia segera melakukan langkah penting ketika menjadi Pelatih Maroko. Yaitu dengan memanggil Ziyech dan Regragui mengerti betul bagaimana pemainnya itu harus diperlakukan.

“Banyak orang mengatakan bahwa Ziyech sulit dihadapi, seolah-olah dia adalah anak yang bermasalah. Tapi jika Anda memberinya cinta dan kepercayaan diri, dia siap mati untuk Anda. Saya memberinya itu, dan dia membayarnya setimpal di lapangan," ujar Regragui dalam konferensi pers pasca Maroko berhasil mengalahkan Belgia.

Selain itu, Regragui juga mengubah pola permainan Maroko. Ketika masih dilatih oleh Halilhodzic, Maroko bermain dengan formasi 5-3-2. Regragui mengubah itu, dengan menggunakan formasi 4-3-3 yang terbukti berhasil mengantarkan Maroko ke perempat final.

Taktik yang diterapkan oleh Regragui cenderung reaktif tapi efektif. Ketika bertahan, Maroko membentuk struktur pertahanan yang rapat dengan membentuk pola 4-5-1. Ia tidak mengejar penguasaan bola tapi lebih banyak menunggu di babak sendiri untuk mengincar serangan balik.

Selama gelaran Piala Dunia 2022, Maroko memiliki dua tipe serangan balik yang digunakan sesuai situasi di lapangan. Jika posisi menguntungkan untuk serangan balik, maka begitu bola berhasil direbut, bola akan diarahkan ke sayap kanan dengan syarat Ziyech dan Hakimi memiliki momentum yang tepat untuk mengakses ruang yang ditinggalkan lawan.

Sisi kiri pun tidak kalah berbahaya atas keberadaan Sofiane Boufal dan Noussar Mazraoui. Tapi jika tidak memungkinkan, Maroko mampu untuk mempertahankan penguasaan bola dan menurunkan tempo permainan berkat kehadiran Amrabat di lini tengah.

Pemain Fiorentina itu berhasil membuat lini tengah Maroko sangat solid, sekaligus filter pertama serangan lawan yang akan dihadapi oleh Roman Saiss dan Nayef Aguerd yang bertugas menjaga jantung pertahanan.

Regragui berhasil menanamkan motivasi yang kuat kepada para pemainnya. Meski lahir di Perancis, Regragui tahu betul bagaimana cara untuk menyatukan para pemain Maroko, di mana 14 dari 26 pemain yang ia bawa ke Qatar merupakan pemain yang tidak lahir di Maroko.

“Pada saat saya tinggal di pinggiran Prancis, dan ketika Maroko mengalahkan Portugal di Piala Dunia 1986 dengan skor 3-0, itu adalah hal paling bahagia yang pernah saya alami dalam hidup saya,” kenang Regragui.

Ia tahu betul bagaimana budaya Maroko dan Eropa. Hal tersebut sangat membantu pendekatannya dengan para pemain Maroko. Terbukti saat Ziyech kembali ke performa terbaiknya bersama Maroko.

Regragui juga membuat Hakimi tetap tampil maksimal hingga babak 16 besar. Meski pemain Paris Saint-Germain (PSG) itu menderita cedera kala menghadapi Kroasia di pertandingan pembuka grup F.

“Achraf adalah seorang pejuang yang harus Anda puji setiap hari," kata Regragui, dilansir dari ESPN. "Saya bertanya apakah dia ingin melanjutkan, dan dia berkata, `untuk negara, saya akan bermain,” terang Regragui.

Apa yang dilakukannya memang sangat berkesan sehingga para pemain menaruh hormat kepadanya. “Dia (Regragui) membela para pemainnya dan itu memberi Anda keinginan untuk bertarung untuknya,” komentar Nayef Aguerd tentang pelatihnya itu, dikutip dari The National News.

Mantan pemain Maroko, Nordin Amrabat pun memuji Regragui. Sofyan menganggap bahwa Regragui berhasil membuat para pemain memainkan sepakbola yang terorganisir dengan baik.

"Saya juga mendengar bahwa pelatih (Regragui) mempersiapkan skuad dengan sangat baik dan profesional. Dia juga menggairahkan para pemain untuk setiap pertandingan dan membuat mereka bersemangat. Mereka memasuki lapangan dengan mentalitas bahwa kami tidak takut,” ujar Nurdin, dikutip dari ESPN.

Kebahagiaan Orang Tua Adalah Kunci

Selain itu, modal kesuksesan Maroko di tangan Regragui adalah pemain diizinkan mengajak keluarganya ke Qatar. Ide tersebut dicetuskan oleh Regragui dan Fouzi Lekjaa pun mengizinkannya. Penginapan pemain Maroko di hotel Wyndham Doha West Bay, kata Maher Mezahi dari Al Jazeera, menjadi seperti perkemahan musim panas yang dibuat oleh orang tua yang menggemaskan.

Regragui mengajak ibunya, Fatima, untuk menyaksikan kiprahnya di Qatar. Fatima pun merasa terkesan. Ini kali pertamanya meninggalkan Prancis dan kali pertamanya pula menonton anaknya secara langsung.

“Sepanjang karirnya sebagai pemain dan sebagai pelatih, saya tidak pernah bepergian untuk menontonnya. Saya sudah tinggal di Prancis selama lebih dari 50 tahun dan ini adalah pertama kali saya meninggalkan Paris,” ujar Fatima kepada Al Jazeera.

Inisiatif Regragui dan Lekjaa berhasil membuat spirit pemain Maroko bertambah. Kedekatan antara orang tua dan anaknya menjadi salah satu faktor yang membuat Maroko bisa lolos ke perempat final untuk yang pertama kalinya.

Si Kepala Alpukat pun menganggap bahwa kebahagiaan orang tua merupakan kunci kesuksesan. “Kesuksesan kita tidak mungkin terjadi tanpa kebahagiaan orang tua kita,” kata Regragui.

***

Maroko akan menghadapi Portugal di babak perempat final Piala Dunia 2022. Sejauh ini, kedua tim mempunyai rekor yang bagus. Singa Atlas hanya kebobolan satu gol, menjadi tim yang kebobolan paling sedikit selama babak grup dan 16 besar. Sedangkan Portugal menjadi tim paling produktif, yakni dengan torehan 12 gol.

Dulu, saat masih anak-anak, Regragui menyaksikan Maroko berhasil mengalahkan Portugal di Piala Dunia 1986. Kini, ia adalah pelatih Maroko yang siap untuk kembali mengalahkan Portugal dan bukan tidak mungkin ia akan menjadi pencatat sejarah, sebagai pelatih pertama yang berhasil mengantarkan Maroko (dan tim Afrika) ke babak semifinal untuk yang pertama kalinya.

Komentar