Dua Gol Cepat Membawa Arsenal Ke Puncak

Taktik

by redaksi

Dua Gol Cepat Membawa Arsenal Ke Puncak

Arsenal berhasil mencuri poin penuh dari sang tuan rumah, Bournemouth. Dua gol Martin Odegaard dan satu tembakan keras William Saliba membungkam publik Dean Court selama laga berlangsung. Kemenangan ini membawa Arsenal ke puncak klasemen sementara dengan raihan sembilan poin.

Mikel Arteta tidak mengubah susunan pemainnya. Meskipun beberapa pemain andalan seperti Takehiro Tomiyasu dan Kieran Tierney telah pulih dari cedera. Di kubu tim tuan rumah, Scott Parker turun dengan skuad yang sedikit pincang karena Dominic Solanke masih harus absen.

Artikel sebelumnya Preview Bournemouth versus Arsenal membahas beberapa celah yang bisa dimanfaatkan oleh Bournemouth untuk mengalahkan Arsenal. Mengingat tim asuhan Scott Parker ini memiliki modal yang cukup untuk menahan gempuran tim Gudang Peluru sekaligus punya senjata yang cocok dengan kelemahan The Gunners. Sayangnya, 90 menit laga berjalan mereka tidak mampu memanfaatkan celah tersebut. Mereka justru dipaksa tiga kali memungut bola dari gawang Mark Travers.

Tancap Gas Sejak Awal Laga

Arsenal memulai laga dengan sangat eksplosif. Gabriel Jesus dan Martin Odegaard memimpin agresivitas lini depan ketika bola masih berada di kaki pemain belakang Bournemouth. Tim tuan rumah kewalahan dengan tekanan yang dilancarkan tim tamu. Maka tidak heran jika anak asuh Mikel Arteta berulang kali berhasil merebut penguasaan bola.

Agresivitas di awal laga membawa Arsenal menguasai pertandingan. Dalam 25 menit laga berjalan, mereka berhasil memperoleh 72,2% penguasaan bola, 3 tembakan ke gawang, dan 2 gol. Sementara Bournemouth belum sekalipun mengancam gawang Aaron Ramsdale. Hingga babak pertama berakhir, The Gunners berhasil mempertahankan dominasi dan membuat tim tuan rumah tidak berkutik.

Situasi ini disadari oleh Scott Parker. Ia mengungkapkan pada sesi wawancara pascalaga bahwa babak pertama sama sekali tidak bisa diterima

“Babak pertama sama sekali tidak bisa diterima dalam segala hal”, ujar Parker kepada Scott SkySport.

“Saya pikir dalam konteks bahasa tubuh (di lapangan), kami tidak mendekatinya (tim lawan). Tanpa itu (bahasa tubuh di lapangan) dan ketika anda seperti tim kami (tim promosi) bukan sebuah aib jika kalah dari Arsenal. Tapi, yang tidak dapat diterima adalah permainan kami di babak pertama” pungkasnya. Kebiasaan ini sebenarnya telah terlihat di dua pertandingan awal. Maka tidak heran jika 5 dari 9 gol Arsenal hadir dari babak pertama. Konsekuensinya, tenaga para pemain terkuras banyak padahal laga masih menyisakan 45 menit. Tetapi, berkat aturan 5 pergantian pemain, Arteta bisa beradaptasi dengan leluasa.

Kedisiplinan Unit Pertahanan

Hingga pekan ketiga, Arteta belum pernah merombak susunan lini belakangnya, termasuk peran yang ia tugaskan kepada setiap pemain. Gabriel dan Saliba berperan untuk fokus penuh pada pertahanan. Ben White berperan sebagai bek sayap yang menutup ruang-ruang di lini belakang dan tidak terlalu sering melakukan overlap. Sementara Zinchenko ditugaskan untuk turut terlibat dalam serangan dengan bergeser ke tengah menemani Partey atau merangsak kedepan untuk mendukung Gabriel Martinelli.

Kelemahan Arsenal pada dua pekan sebelumnya ada di sisi Zinchenko. Ruang yang ia tinggalkan bisa dimanfaatkan untuk menjadi target serangan balik karena dalam beberapa momen Gabriel atau Xhaka kurang disiplin dan terlambat menutup ruang tersebut. Pekan lalu, celah ini berhasil dieksploitasi oleh James Maddison menjadi gol.

Tapi, pada pertandingan ini terlihat ada peningkatan dalam hal kedisiplinan pada unit pertahanan Arsenal. Meskipun Zinchenko bahkan Ben White beberapa kali meninggalkan posisinya, selalu ada pemain yang bergerak menutup ruang tersebut untuk antisipasi serangan balik. Entah itu Gabriel, Saliba, Partey, atau Granit Xhaka. Hal ini yang membuat Bournemouth gagal memperkecil kedudukan. Padahal, anak asuh Scott Parker mendapatkan beberapa momen di babak kedua.

Langit cerah masih setia menaungi Arsenal. Tiga kemenangan dan dua clean sheet menunjukan Arsenal memiliki modal untuk bersaing di musim ini. Walaupun, liga baru berjalan tiga pekan. Masih ada 35 pekan yang harus mereka lalui. Jika Arteta berhasil mempertahankan performa fisik dan mental anak asuhnya, bukan tidak mungkin Arsenal musim ini bisa menjadi “kuda hitam” yang mengejutkan.



Komentar