Pelatih Tak Ternama Mendarat di Highbury

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor at Pandit Football Indonesia, head of content at Box2Box Football, podcaster at Footballieur, writer at Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Pelatih Tak Ternama Mendarat di Highbury

Ketika Arsène Wenger datang ke Arsenal pada 1 Oktober 1996, para suporter The Gunners tidak tahu siapa dia. Sebelum Wenger mendarat di Highbury, Arsenal sudah menjadi kesebelasan papan atas. Jadi wajar semua orang heran kenapa kesebelasan ternama bisa-bisanya mendatangkan pelatih tak ternama.

Sebelum menukangi The Gunners, Wenger tak memiliki karier cemerlang sebagai pesepakbola. Ketika menjadi pelatih, ia hanya pernah menukangi Nancy, Monaco, dan Nagoya Grampus Eight. Meski demikian ia pernah meraih gelar juara Divisi 1 Perancis dan Piala Perancis (bersama Monaco) serta Piala Kaisar dan Piala Super Jepang (bersama Nagoya).

Pada akhirnya keraguan tersebut memudar dengan cepat. Para pemain Arsenal menyadari jika Wenger adalah tipe pelatih (atau dalam hal ini adalah manajer) berbeda. Skuat The Gunners mulai terbiasa dengan pola latihan dan nutrisi yang diatur dengan rapi dan rinci.

Dalam sesi latihan, pelatih yang dijuluki The Professor ini membagi skuat menjadi beberapa kelompok, yaitu teknik koordinasi, permainan posisional, dan permainan kecil. Wenger juga terbiasa menghabiskan hari sebelum pertandingan dengan fokus pada pendekatan mental dan taktis.

Soal diet dan nutrisi, Wenger menganggap diet seimbang sebagai bagian penting dari persiapan pemain. Pemikirannya itu banyak dipengaruhi saat ia menjadi Manajer Nagoya di Jepang.

"Gaya hidup di sana terkait dengan kesehatan. Diet mereka pada dasarnya adalah merebus sayuran, ikan, dan nasi. Tanpa lemak, tanpa gula. Kamu perhatikan ketika kamu tinggal di sana, tidak ada orang yang kelebihan lemak (gemuk)," kata Wenger, dikutip dari The Observer.

Para pemain kemudian mengikuti saran nutrisi dari Wenger, padahal saat itu di Inggris tidak terlalu memerhatikan nutrisi. Para pemain biasa mengonsumsi pai dan kudapan. Bukan kebetulan juga tanggal kedatangan Wenger ke Arsenal berbarengan dengan World Vegetarian Day (1 Oktober) meski diet Wenger tidak anti-daging.

Selain soal latihan dan diet, Wenger juga merupakan sosok manajer yang aktif di dalam maupun di luar lapangan. Di luar lapangan, ia menjadi ujung tombak ketika Arsenal merancang tempat latihan dan stadion baru (Emirates Stadium). Semua itu ia lakukan demi keberlanjutan ekonomi kesebelasan asal London Utara tersebut.

Kerja kerasnya sebagai manajer langsung membuahkan hasil pada musim 1997/98. Arsenal menjadi juara Liga Primer Inggris dan Piala FA. Setelah itu ia berhasil menjuarai Liga Primer sebanyak dua kali lagi, yaitu ketika dwigelar pada 2001/02 (bersama Piala FA) dan musim tak terkalahkan alias invincible pada 2003/04.

Arsène Wenger memiliki filosofi permainan sepakbola menghibur. Saat kecil ia banyak terinspirasi oleh permainan Borussia Mönchengladbach dan total football Rinus Michels di Ajax Amsterdam pada 1970-an.

"Para pemain sempurna di mana-mana, itu adalah sepakbola yang ingin aku mainkan," kata Wenger, dikutip dari Daily Mirror. Permainan kolektifnya itu diterapkan pada formasi 4-4-2 yang ia anggap, dikutip dari buku The Italian Job, "formasi yang paling efisien mengaver ruang."

Pada musim invincible, Wenger menerapkan formasi 4-4-2 dengan pemain-pemain seperti Ashley Cole, Patrick Vieira, Gilberto Silva, Robert Pirès, Freddie Ljungberg, dan Thierry Henry.

Walau menganggap 4-4-2 sebagai formasi yang sempurna, Le Professeur tak segan untuk mengubah gaya permainannya sesuai dengan perkembangan zaman. Pada 2009/10, ia menerapkan formasi cair 4-3-3 yang mengakomodasi kreativitas Francesc Fàbregas. Ketika Fàbregas pindah ke Barcelona, ia mengubah bentuk formasi dasar Arsenal menjadi 4-1-4-1 dan 4-2-3-1 (yang saat itu mulai mainstream).

Bahkan ketika menjelang akhir 2016/17, Wenger mulai menerapkan formasi tiga bek yang sukses mengantarkan Antonio Conte dan Chelsea menjadi juara Liga Primer.

Meski 22 tahun tinggal di Inggris, Wenger tetap banyak memercayai para pemain dari tanah kelahirannya, Perancis. Beberapa pemain Perancis yang bersinar di bawah asuhan Wenger adalah Vieira, Henry, Pirès, Nicolas Anelka, Emmanuel Petit, William Gallas, Laurent Koscielny, sampai Alexandre Lacazette.

Sebenarnya masih ada banyak pemain Perancis lagi. Dari total 29 pemain Perancis yang pernah didatangkan Arsenal sampai musim panas 2018, 28 di antaranya didatangkan ketika Wenger menjadi manajer. Matteo Guendouzi menjadi pemain Perancis yang didatangkan setelah Wenger pergi. Bisa dibilang, Wenger adalah pembuka pintu bagi para Frenchman untuk masuk ke Inggris.

Namun bukan hanya pemain Perancis, Wenger juga gemar mempromosikan pemain muda, dari negara mana pun asalnya pemain muda tersebut. Pada interviu yang dimuat di buku Arsène Wenger: The Inside Story of Arsenal Under Wenger, ia mengatakan: "Aku percaya salah satu hal terbaik dari mengatur orang lain adalah ketika kita bisa memengaruhi hidupnya dalam cara yang positif."

Beberapa pemain muda yang diorbitkan Wenger di Arsenal antara lain adalah Fàbregas, Ashley Cole, Kolo Touré, Emmanuel Eboué, David Bentley, Gaël Clichy, Mathieu Flamini, Aaron Ramsey, Theo Walcott, Jack Wilshere, Francis Coquelin, Wojciech Szczesny, Serge Gnabry, Nacho Monreal (revisi—dihilangkan), Héctor Bellerín, dan tentu saja Lord Nicklas Bendtner. Dari nama-nama barusan, banyak yang menjadi pemain ternama, bukan? Mereka semua berutang kepada Wenger.

Akhirnya sampai ia meninggalkan Arsenal pada musim panas 2018, Arsène Wenger sudah menjadi manajer tersukses sepanjang sejarah Arsenal. Semua warisannya ia awali pada 1 Oktober 1996; saat ia menginjakkan kaki di Highbury, di saat belum banyak orang mengenalnya.

Komentar