Satu Persen per Satu Persen

Backpass

by Redaksi 43

Redaksi 43

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Satu Persen per Satu Persen

Dalam rangka International Day of Charity, mari kita mengenal sebuah gerakan yang sederhana sekaligus ambisius tiada dua: Common Goal. “Sesuatu yang aku harap dapat mengubah dunia, walau hanya lewat hal-hal kecil,” ujar Juan Mata, frontman-nya. Gerakan yang dimulai pada awal Agustus 2017 ini memanfaatkan pengaruh dan kekayaan sepakbola untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung di seluruh dunia.

“Ini gagasan yang sangat sederhana,” ujar Mata. “Namun beberapa gagasan hebat adalah gagasan sederhana dan, soal sepakbola, kekuatannya luar biasa. Semua orang yang mengerti sepakbola akan mengerti mengapa kami sangat penuh harapan dan ambisius tentang Common Goal.”

Mata berikrar menyisihkan 1% dari penghasilannya untuk 120 yayasan amal di 80 negara. Untuk menjalankan Common Goal, Mata bekerja sama dengan Streetfootballworld, yang sudah belasan tahun berpengalaman membantu 2,3 juta orang kurang mampu lewat sepakbola.

“Sepakbola menghasilkan banyak uang, tapi harus ada tanggung jawab sosial yang mengiringinya,” ujar Mata. “Sepakbola bisa memengaruhi hidup orang-orang secara positif. Sepakbola bisa membantu masyarakat dan dengannya, sepakbola akan ikut terbantu juga.”

Sepakbola, lanjut Mata, tidak ada bandingannya. “Mungkin hanya musik yang punya kekuatan sama untuk mengubah masyarakat. Kita harus menerjemahkannya menjadi sesuatu yang nyata.”

Mata menegaskan bahwa Common Goal bukan tentang dan tidak berpusat di dirinya. “Seseorang harus memulainya dan aku yang melakukannya. Aku harap banyak dari kita secara penuh bersedia terhadap rencana ini. Tujuan akhirnya adalah semua orang yang berhubungan dengan sepakbola, termasuk media dan fan, dapat membantu dengan cara berbeda. Cara terbaik untuk memulai adalah lewat pemain karena kami menarik perhatian luas.”

Sudah satu tahun lewat sejak peluncuran Common Goal. Lebih dari 50 pemain dari 17 negara telah berikrar untuk menyumbangkan 1% dari setiap penghasilan yang mereka dapatkan. Common Goal tidak terbatas untuk dan berhenti di pemain. Julian Nagelsmann pada Oktober 2017 menjadi pelatih pertama yang bergabung dengan gerakan ini.

Per musim ini, FC Nordsjaelland menjadi klub pertama yang bergabung dengan Common Goal. Setiap 1% dari pendapatan tiket pertandingan kandang mereka sumbangkan. Ikrarnya mereka cetak di tiket pertandingan, sehingga gerakan ini menjangkau para pendukungnya secara langsung. Jangkauan Nordsjaelland lebih luas mengingat bukan hanya tim utama yang mendukung Common Goal, melainkan setiap tim di beragam tahapan, termasuk U12.

Yang paling berpengaruh di antara semua nama yang telah bergabung, barangkali, adalah Aleksander Ceferin. Presiden UEFA itu bergabung pada November 2017. Keterlibatan Ceferin adalah sinyal positif yang menunjukkan bahwa Common Goal berada di jalur yang tepat untuk mencapai ambisi besarnya.

Walau demikian belum ada tanda-tanda kesediaan UEFA (apalagi FIFA) untuk menyumbangkan 1% keuntungan mereka kepada Common Goal. Padahal bergabungnya UEFA dan FIFA akan menjadi kunci keberhasilan Common Goal mencapai tujuan akhir.

“Setiap kali seseorang bergabung dengan sebuah tim, setiap kali gaji mereka dibayarkan, untuk setiap dana yang masuk di klub, federasi, agen, dan asosiasi, satu persennya langsung menuju proyek sosial,” harap Mata. “Tidak akan ada lagi yang akan melihatnya dan bertanya: ‘Hey, satu persen ini untuk apa?’ karena semua orang sudah tahu.”

The new normal, Mata menyebut tujuan akhir dari Common Goal. Tidak akan mudah dicapai dan akan membutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun, tentu saja, tapi Mata tetap optimis.

“Tidak jadi soal berapa lama waktu yang dibutuhkan,” ujarnya. “Cepat atau lambat, aku rasa tujuan akan tercapai.”

Komentar