Aktivitas Transfer Fiorentina Merusak Reputasi Paulo Sousa

Taktik

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng!

Aktivitas Transfer Fiorentina Merusak Reputasi Paulo Sousa

Fiorentina memang tidak boleh melupakan apa yang sudah dimiliki saat ini. Dengan keberhasilannya mengamankan pemain-pemain penting seperti Matias Vecino, Milan Badelj, dan Federico Bernardeschi dari kesebelasan lain, Fiorentina masih memiliki skuat yang mengesankan. Tapi hal yang tidak disadari sejak musim lalu oleh Paulo Sousa, pelatih Fiorentina, adalah kesalahan rotasi yang membuat skuatnya bergantung kepada Borja Valero.

Ia merupakan gelandang yang hampir menjalani 90 menit di setiap partai Fiorentina. Pada musim ini, Valero baru satu kali ditarik keluar di tengah pertandingan dan dua kali absen membela Fiorentina. Tapi ketika menghadapi Qarabag di ajang Liga Europa UEFA 2016/2017, Fiorentina sudah bisa menang tanpa Valero dengan skor 5-1. Meskipun begitu, jika berkaca dari pertandingan lain, Fiorentina masih bergantung kepada kreativitas Valero untuk mengatur tempo permainan.

Memang pesepakbola 31 tahun itu adalah pemain istimewa bagi Fiorentina. Kekurangannya hanya kurang baik ketika melepaskan percobaan tendangan ke gawang. Jika kekurangannya itu bisa diperbaiki, mungkin Valero sudah menjadi pemain penting bagi tim nasional Spanyol saat ini. Sementara sepanjang musim lalu, Sousa seolah lupa untuk menyiapkan pengganti Valero yang sepadan.

Sousa terus memainkan Valero dan melupakan Matias Fernandez yang justru sering dicadangkannya. Alhasil, Matias justru dijual ke AC Milan pada bursa transfer musim panas lalu. Dampaknya, sokongan serangan dan penyelesaian akhir Fiorentina menjadi sorotan sejauh musim ini. Untuk regenerasi, mungkin Sousa mempersiapkan Ianis Hagi yang bermain cukup gemilang dengan timnas Rumania U-18.

Kekurangan suplai itu seolah menjadi cacat bagi Sousa yang telah membuat langkah besar karena meningkatkan pertahanan skuatnya. Sejauh ini, Fiorentina baru kebobolan enam gol dari tujuh laga Serie A dan satu kali di Liga Europa. Dengan skuat yang ada, ini menjadi prestasi yang mengesankan. Tapi perjuangan mereka harus diuji lagi ketika cuma mencetak enam gol dari tujuh laga di Serie A 2016/2017.

Tumpulnya lini depan Fiorentina pun bisa terlihat dari gagalnya eksekusi penalti Josip Ilicic ketika menghadapi Milan. Padahal musim sebelumnya, Ilicic dan Nikola Kalinic telah meledakkan Serie A dengan gol-golnya. Hal itu tidak lepas dari umpan-umpan matang yang diberikan Marcos Alonso. Tapi sejak Alonso pindah ke Chelsea pada bursa transfer musim panas lalu, Kalinic jelas terlihat berjuang lebih keras untuk mencetak gol.

Kemampuannya mencetak gol memang bergantung kepada bagaimana ia menerima bola di dalam kotak penalti. Tapi serangan Fiorentina di sepertiga akhir lawan jarang memberikan apa yang diinginkan Kalinic. Ketika menghadapi Milan, tidak ada yang berhasil menjadi gol dari 20 umpan silang yang dilepaskan.

Persoalan itu tidak hanya menghambat penyerang asal Kroasia tersebut. Tapi memang tidak ada pemain yang bisa mengirim umpan yang baik untuknya. Ketika mengalahkan AS Roma, justru Badelj yang mencetak gol kemenangan melalui tendangan dari luar kotak penalti.

Bahkan, gol dan kemenangan itu diakui Sousa sebagai keberuntungan yang bisa mengalahkan Roma. "Ketika kau bermain dengan keberanian seperti ini, kau pantas untuk beruntung," cetusnya. "Kami tidak membuat banyak peluang karena kami sering melakukan penyelesaian akhir yang salah," sambung Sousa seperti dikutip dari Football Italia.

Sebetulnya, tidak diragukan lagi Fiorentina memiliki dasar tim yang bagus di musim ini. Jika Sousa bisa membuat pemainnya lebih menentukan di sepertiga akhir, mungkin impian kembali tampil di Liga Champions musim depan tidak akan begitu jauh. Tapi pada kenyataannya, Fiorentina sedang terjebak di peringkat 14 klasemen sementara atas hasil dua kali menang, dua imbang, dan dua kekalahan.

Dua Jilid Kabar Pemecatan Paulo Sousa

Musim ini memang diawali Sousa dengan babak belur. Sebelum musim baru dimulai, lima laga uji tanding pra-musim berakhir dengan kekalahan. Atas hasil yang sangat buruk itulah ia mulai dikabarkan akan dipecat sebelum musim baru dimulai. Tapi pada kenyataannya, Sousa masih menjadi pelatih Fiorentina ketika musim 2016/2017 bergulir. Sebetulnya ia sendiri dikabarkan sudah siap mengundurkan diri dari jabatannya, sebab pada bursa transfer musim lalu itu menjadi sesuatu yang konyol bagi Sousa.

Kembalinya Pantaelo Corvino sebagai direktur olahraga telah membuat perbedaan di aktivitas transfer Fiorentina. Kemampuannya untuk mendatangkan pemain berkualitas dengan biaya rendah sudah mulai memberikan hasil. Hal itu terbukti dengan Carlos Sanchez dan Carlos Salcedo yang sudah tampil fantastis sejauh ini. Mereka mampu menjaga para pemain lawan yang berbahaya

Tapi itu masih terlalu jauh untuk persoalan Fiorentina yang seret mencetak gol. Mereka justru menjual Alonso sebagai penyokong utama Kalinic mencetak gol. Padahal pada awalnya, Fiorentina merekrut Hrvoje Milic untuk dijadikan pelapis Alonso pada posisi full-back atau sayap kiri. Tapi karena tidak ada dana untuk membeli pengganti Alonso yang sepadan, Milic terpaksa dijadikan pilihan utama di posisi tersebut.

Tentu aktivitas transfer Fiorentina seperti ini membuat kepanikan yang tak tertahankan bagi Sousa. Maka dari itu ketika beberapa pelatih berpikir bahwa musim panas adalah masa refleksi, tapi mungkin Sousa lebih berpikir untuk memulangkan perabot rumahnya ke Portugal. Mantan pelatih Basel itu hanya memiliki skuat kecil untuk bersaing dengan sesuatu yang baru. Sementara kesebelasan pesaingnya di Serie A terus melakukan pembenahan yang signifikan.

Padahal skuat yang dimiliki Sousa selalu mendapatkan pujian pada musim lalu. Jika Fiorentina terus menjual pemain terbaiknya tanpa sumber pengganti yang memadai, pasti semakin besar rasa kehilangan yang akan dirasakan oleh pelatih mereka tersebut. Padahal Sousa merupakan orang yang tepat untuk menangani pekerjaan sebagai pelatih Fiorentina. Kejatuhan Fiorentina pada akhir musim lalu pun karena skuat terbatas.

Namun memang tanpa suntikan dana yang memadai, Fiorentina sedang berada di dalam bahaya saat ini. Sousa pun sudah mengeluhkan soal kurangnya dana yang digelontorkan para petinggi kesebelasan pada bursa transfer musim panas lalu. Tapi keluhannya justru menjadi pemercik konflik dengan para petinggi kesebelasan.

Sousa pun sudah jarang muncul di front office untuk sekadar berkomunikasi dengan direksi Fiorentina. Alhasil, kabar Sousa akan dipecat jilid II pun dimulai kembali. Dikabarkan kesebelasan berjuluk Viola itu sedang mempersiapkan Stefano Pioli untuk menggantikannya. Jika kepergian Sousa karena berselisih dengan pemilik kesebelasan, ia mengulang cerita ketika meninggalkan Queens Park Rangers (QPR) dan Leicester City.

Tapi atas pengalamannya itu, seharusnya Sousa bisa membuktikan ia memiliki daya tahan lebih untuk menyelesaikan pekerjaannya di Fiorentina. Ia harus mendapatkan ide bagus dalam situasi kesebelasan seperti ini. Setidaknya sampai bursa transfer Januari ditutup, Sousa harus memutuskan apa yang ingin dilakukan. Hal ini tidak hanya mempertaruhkan Fiorentina, melainkan karier dan reputasi Sousa sendiri.

Sumber: Calcio Mercato, Football-Italia, SB Nation.

Komentar