Etrenador yang Tak Bisa Menaklukkan Arena Matador, Pep Guardiola

Cerita

by Redaksi 32

Redaksi 32

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Etrenador yang Tak Bisa Menaklukkan Arena Matador, Pep Guardiola

Nama Pep Guardiola sebagai salah satu pelatih tersukses di dunia tak terbantahkan. Ia pernah menyabet enam gelar dalam setahun bersama Barcelona. Trofi La Liga, Liga Champions, Copa del Rey, UEFA Super Cup, Piala Dunia Antar Klub dan Supercopa de España merupakan bukti kejeniusannya.

Setelah berhasil mendapatkan segalanya di Barca (dan beristirahat sejenak), ia memilih Bayern Muenchen sebagai destinasi selanjutnya. Bergabungnya Pep dengan Bayern diprediksi akan menjadi kekuatan besar di Eropa. Seperti yang diketahui, Bayern Muenchen merupakan klub superpower di Jerman, apalagi semusim sebelumnya mereka berhasil menjuarai Liga Champions bersama Jupp Heynckes.

Seperti yang diramalkan, Pep sukses menyabet trofi Bundesliga dalam dua musim beruntun. Selain itu ia semakin mengukuhkan keperkasaan Bayern atas Borussia Dortmund yang menjadi saingan terkuat dalam lima musim terakhir. Termasuk saat membawa Philipp Lahm dan rekan-rekan mengalahkan Die Borussen di partai final ajang DFB Pokal 2013/2014.

Akan tetapi kesuksesannya di kompetisi domestik tidak berbanding lurus dengan prestasi di kompetisi elit antar klub di Eropa. Dalam tiga kesempatan terakhir, langkah Pep selalu terhenti di babak semifinal. Uniknya klub yang selalu mengganjal ambisinya tersebut adalah klub asal Spanyol, termasuk Barca, klub yang pernah dibesutnya.

Pada Liga Champions musim 2013/2014 ia memimpin Bavarian saat bertandang ke Santiago Bernabeu untuk berhadapan dengan Madrid. Pada laga tersebut timnya kalah dengan skor tipis 0-1 melalui gol yang diciptakan Karim Benzema. Selanjutnya di pertemuan kedua bukannya membalikkan keadaan, Bayern justru dipermalukan di depan pendukungnya sendiri. Mereka kalah dengan empat gol tanpa balas, alhasil Pep gagal menembus babak final dengan agregat 0-5.

Semusim berselang, ia kembali menginjak Camp Nou yang merupakan stadion penuh kenangan saat berhasil mempersembahkan banyak gelar bagi Barca. Akan tetapi kali ini ia datang sebagai musuh, bukan sebagai pelatih seperti beberapa tahun silam.

Blaugrana menunjukkan bahwa kenangan itu tak berarti apapun, musuh tetaplah musuh dan Barca membuktikan kualitasnya sebagai tim kelas dunia. Lionel Messi dan rekan-rekan sukses menyarangkan tiga gol di laga tersebut dan membuat langkah Bayern semakin berat, mereka harus mencetak minimal empat gol tanpa balas untuk lolos.

Seminggu berselang, saat laga digelar di Allianz Arena, Bayern berhasil mengalahkan Barca. Namun sumbangsih gol dari Medhi Benatia, Robert Lewandowski dan Thomas Müller sia-sia kala tim tamu mampu membalas lewat sepasang gol dari Neymar. Hasil tersebut kembali membuat harapan Pep sirna untuk lolos dari fase empat besar.

Puncak kegagalan Pep berlangsung pada Rabu (4/5) dini hari WIB ketika Bayern menghadapi Atletico Madrid di leg kedua. Sebelumnya Die Bayern takluk 0-1 di Vicente Calderón lewat aksi spektakuler Saúl Ñíguez. Untuk itu, meraih kemenangan dengan dua gol tanpa balas merupakan suatu keharusan bagi mereka.

Namun kenyataan berkata lain, Pep untuk ketiga kalinya tak berdaya saat berhadapan dengan wakil Spanyol. Bayern unggul lebih dulu melalui tendangan bebas Xabi Alonso di babak pertama. Akan tetapi tim tamu memperkecil ketinggalan lewat aksi Antoine Griezmann. Satu gol yang disarangkan oleh Robert Lewandowski tak cukup untuk meloloskan mereka ke Milan yang menjadi tempat diselenggarakannya partai final.

Meski menang 2-1 mereka kalah agresivitas gol tandang atas Atleti dan harus tersingkir dari ajang Liga Champions. Ironisnya, laga itu adalah laga terakhirnya bersama Bayern di Liga Champions, pasalnya musim depan ia akan hijrah ke Inggris setelah sepakat untuk melatih Manchester City mulai musim 2016/2017.

Pep merupakan entrenador sukses asal Spanyol namun ia selalu gagal saat menghadapi klub yang berasal dari Spanyol. Dalam tiga laga tandang ia selalu menelan kekalahan, dan hanya mampu meraih kemenangan sebanyak dua kali ketika bermain di kandang. Dalam lawatannya ke Spanyol, total Bayern telah kemasukan lima gol, parahnya timnya belum pernah mencetak satu gol pun.

Seperti layaknya ajang matador yang mempertemukan torero dengan banteng dalam satu arena, Pep yang memimpin timnya yang identik dengan warna merah berhadapan selalu dengan tiga banteng buas dalam tiga kesempatan. Ia berhasil menampilkan gerakan-gerakan cantik yang kerap mengelabui sang banteng, akan tetapi tanduk runcing selalu menusuk badannya dan membuatnya selalu berdarah-darah di arena Liga Champions.

Foto: techweekeurope

Komentar