Mark Schwarzer Sang Jimat Keberuntungan Leicester

Berita

by Redaksi 31

Redaksi 31

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mark Schwarzer Sang Jimat Keberuntungan Leicester

Di balik kesuksesan Leicester City menjadi kampiun Liga Primer Inggris musim 2015/16, tentulah nama-nama penting seperti Jamie Vardy, Riyad Mahrez, N’Golo Kante, hingga pemain lain seperti kapten mereka, Wes Morgan dianggap menjadi sosok yang berpengaruh. Tapi tampaknya semua orang melupakan nama Mark Schwarzer. Padahal kiper gaek berusia 43 tahun ini pun menjadi salah satu ‘kunci’ keberhasilan Leicester City memenangkan titel juara di musim ini.

Alasannya sederhana. Kiper kelahiran 6 Oktober 1972 tersebut menjadi pemain pertama yang memenangkan gelar juara Liga Primer secara beruntun bersama tim yang berbeda, meskipun dirinya tak sekalipun bermain di kompetisi liga saat meraih juara.

Musim lalu, Schwarzer meraih gelar juara bersama Chelsea. Kepindahannya ke Chelsea kala itu menjadi cemoohan banyak pihak, karena ia dinilai hanya makan ‘gaji buta’ dari menjadi kiper ketiga. Maklum, saat itu Chelsea punya dua kiper yang bahkan sulit diputuskan untuk menjadi kiper inti, yakni Thibaut Courtois serta Petr Cech.

Usianya kala bergabung dari Fulham yang nyaris mencapai usia 41 tahun (3 bulan setelah resmi ke Chelsea), menimbulkan banyak spekulasi bahwa kiper timnas Australia tersebut akan mengakhiri kariernya di Stamford Bridge.

Namun, kehadiran eks-penjaga gawang Middlesbrough di King Power stadium, markas Leicester, di musim dingin 2015, menimbulkan pertanyaan besar. Dengan usianya yang menginjak 43 tahun, rasanya sulit bagi Schwarzer untuk bersaing dengan Kasper Schmeichel untuk menempati kiper inti. Kebetulan, Kasper Schmeichel yang mengalami cedera membuat Schwarzer sempat tampil di beberapa pertandingan untuk Leicester dan membantu The Foxes lolos dari degradasi.

Menariknya, di akhir musim lalu kala Chelsea meraih juara Liga Primer, Schwarzer diberi hadiah oleh mantan bosnya, Jose Mourinho, berupa replika medali juara (Premier League medal winners). Medali tersebut diberikan oleh Mourinho berkat dedikasinya selama di Chelsea, walaupun hanya di bangku cadangan. Hal tersebut dilakukan Mourinho karena Schwarzer tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan medali juara yang asli, yaitu minimal bermain sebanyak 5 kali dalam satu musim.

Di musim keduanya bersama The Foxes, Schwarzer lebih banyak menjadi mentor bagi kiper-kiper muda, termasuk bagi Schmeichel. Musim ini 15/16, Schwarzer hanya tampil sebanyak 3 kali saja di ajang Piala Liga. Terakhir ia bermain yaitu di putaran keempat Piala Liga saat Leicester dikalahkan Hull City melalui adu penalti, pada Oktober silam.

Dengan berhasilnya tim asuhan Claudio Ranieri meraih gelar Liga Primer, maka menjadikan seorang Mark Schwarzer menjadi pemain tertua yang berhasil meraih titel juara kompetisi ini.

Sebelumnya, ada nama Eric Cantona yang berhasil memenangkan gelar liga secara beruntun, yakni bersama Leeds United 1991/92 yang masih berformat First Division, kemudian juara kala memperkuat Manchester United di musim berikutnya. Namun, karena format kompetisi yang berbeda, menjadikan Schwarzer pemain satu-satunya di ajang Liga Primer.

Apakah ini hanyalah kebetulan belaka? Ataukah Leicester City berhasil juara akibat mempunyai ‘jimat keberuntungan’ yakni seorang Mark Schwarzer? Tentunya, jawaban dari pertanyaan tersebut pantas ditambahkan selain jawaban bahwa Leicester City memiliki materi tim yang berkualitas dan taktik yang manjur dari Claudio Ranieri, tentunya.

Sumber: Guardian, smh.com
Foto: premierleague, commons.wikimedia.org

Komentar