Chelsea Harus Mewaspadai Lini Tengah Leicester

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor at Pandit Football Indonesia, head of content at Box2Box Football, podcaster at Footballieur, writer at Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Chelsea Harus Mewaspadai Lini Tengah Leicester

Telah mencetak 32 gol dalam 15 pertandingan pastinya membuat lini depan Leicester City menjadi yang paling berbahaya di Liga Primer Inggris. Jumlah ini faktanya adalah jumlah mencetak gol terbanyak di Liga Primer sampai sepanjang musim ini, berbarengan juga dengan Manchester City. Bedanya, Leicester melakukannya dalam 15 pertandingan, sementara City 16 pertandingan.

Dini hari nanti (15/12/2015) Leicester akan menjamu Chelsea, sang juara bertahan. Lucunya, sang juara bertahan itu sekarang berada di posisi 16 sementara Leicester ada di posisi ketiga. Sebuah kemenangan bagi Leicester akan membuat The Foxes kembali bertengger di puncak klasemen.

Dari jumlah gol sebanyak itu, Leicester memiliki dua pencetak gol utama yaitu (siapa lagi kalau bukan) Jamie Vardy (14 gol) dan Riyad Mahrez (10 gol). Namun, Chelsea akan salah besar jika nanti malam mereka hanya mewaspadai dua pemain tersebut.

Pada kenyataannya, kita bisa berdebat mengenai siapa yang lebih baik antara Vardy atau Mahrez, tapi justru lini tengah Leicester lah yang harus diwaspadai oleh pasukan Jose Mourinho pada pertandingan nanti.

Kita bisa menyebut nama Daniel Drinkwater, N’Golo Kante, dan Christian Fuchs sebagai pemain kunci Leicester selain Vardy dan Mahrez. Terutama Drinkwater dan Kante, mereka-lah mesin sesungguhnya yang beroperasi di lini tengah pasukan Claudio Ranieri.

Drinkwater misalnya, total ia sudah meluncurkan 774 operan, 612 di antaranya adalah operan yang tepat sasaran. Ini memang bukan merupakan angka yang mencengangkan, tapi Drinkwater-lah yang menjadi pemain Leicester yang paling banyak mencetak angka operan sukses, apalagi mengingat Leicester hanya berhasil mencetak 71,2% operan sukses di Liga Primer yang merupakan angka operan sukses terburuk dari seluruh 20 kesebelasan.

Kebanyakan operan Drinkwater adalah operan kepada Vardy, ini lah kenapa tiga assist yang berhasil ia cetak berasal dari operan di lini tengah, sementara kebanyakan Leicester mencetak operan dari bola panjang (long ball), tepatnya 71 operan panjang per pertandingan (peringkat empat di Liga Primer).

Patut disorot juga, beberapa long ball sukses Leicester tercipta ketika Kante berhasil memotong operan lawan dan menciptakan ruang kosong untuk Drinkwater dan rekan-rekan lainnya. Kante sendiri menjadi pemain yang paling banyak melakukan potongan bola (intersep) di Liga Primer dengan 64 total intersep.

Operan Drinkwater melawan Southampton (kiri) dan operan Kante melawan Swansea City (kanan) - sumber: FourFourTwo Stats Zone
Operan Drinkwater melawan Southampton (kiri) dan operan Kante melawan Swansea City (kanan) - sumber: FourFourTwo Stats Zone

Sementara jika kita melihat Chelsea, mereka memang sedang percaya diri terutama setelah mereka menang melawan Porto dan lolos ke babak 16 besar Liga Champions UEFA. Rasa percaya diri The Blues ini hadir karena dominasi Nemanja Matic dan Ramires di lini tengah.

Jika ingin menang (bukan hanya imbang), Mourinho harus mematikan Leicester dari lini tengah, bukan hanya ketika mereka sudah sampai di lini depan. Untungnya, akhir-akhir ini Ramires sedang bermain disiplin dalam bertahan, ia meluncurkan 13 tekel saat melawan Porto. Ini yang akan membuat pekerjaannya bersama Matic tidak berat sebelah.

Setiap setelah Chelsea berhasil memutus aliran operan di lini tengah juga mereka bisa memberikan bola ke Willan atau Eden Hazard yang bisa memanfaatkan kecepatan mereka. Mengingat kedua bek tengah Leicester, Wes Morgan dan Robert Huth, bukanlah tipikal bek yang cepat dan lincah, maka tidak heran juga sejauh ini Leicester sudah kebobolan 21 gol, yang paling banyak di antara tujuh kesebelasan teratas Liga Primer.

Namun, pertahanan Leicester sudah agak lebih baik dengan bermainnya Fuchs. Dibanding dengan Jeffrey Schlupp yang dipasang sebagai bek kiri pada awal musim ini, Fuchs lebih disiplin ketika menyerang dan bertahan.

Sementara jika Leicester memutuskan untuk melakukan long ball dari belakang, maka garis pertahanan Chelsea sebaiknya tidak terlalu dalam. Butuh kombinasi bek tengah yang bisa membaca permainan dan juga cepat untuk mengantisipasinya, maka sebaiknya Mourinho menduetkan John Terry dan Kurt Zouma.

Sumber: FourFourTwo, Squawka

Komentar