Berkah Ben Arfa dalam Kasus Skandal Seks Benzema dan Valbuena

Cerita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng!

Berkah Ben Arfa dalam Kasus Skandal Seks Benzema dan Valbuena

Jauh pada Januari 2014 lalu dakwaan seks yang dilayangkan kepada Karim Benzema dibatalkan pengadilan Prancis karena tidak ada bukti yang menunjukan penyerang Real Madrid itu bersalah. Alhasil ia lolos dari ancaman hukuman penjara tiga tahun akibat tuduhan skandal seks dengan wanita di bawah umur.

Tapi Benzema sepertinya akan lebih sulit terlepas dari tuduhan kasus seks kali ini. Pasalnya pada Rabu (4/11) Benzema ditahan satu malam dan keesokan harinya ia dihadirkan di Pengadilan Versailles, Prancis. Dirinya resmi diselidiki terkait dengan rencana pemerasan kepada Mathieu Valbuena, penyerang sayap Olimpique Lyonnais, lewat video seks. Dikabarkan jika Valbuena dimintai uang oleh Benzema agar rekaman video seksnya tidak diedarkan ke publik.

Salah satu bukti yang memojokannya adalah adanya rekaman percakapan tentang video itu antara Benzema dengan Valbuena saat sesi latihan Kesebelasan Negara Prancis. Bahkan media-media Prancis mengabarkan jika kasus Benzema tersebut menjalar ke masalah lain dengan adanya kecurigaan terkait kasus penyelundupan narkoba pada Maret 2013.

Kendati demikian pemain bersangkutan menegaskan tidak bersalah dan sudah menjawab semua pertanyaan dari pengadilan secara jujur. Benzema menampik telah memeras Valbuena dan bahkan ia sendiri mengaku sedang diperas juga diduga oleh pria yang kini memiliki video tersebut, "Tidak ada yang disembunyikan. Dia tidak terlibat, sekali lagi saya katakan dia tidak terlibat dalam pemerasan atau usaha pemerasan," terang Sylvain Cormier, pengacara Benzema, dilansir dari BBC.


Baca juga : Prahara Javier Mascherano jelan duel El Clasico



Saat ini para penyidik tengah mencari jalan untuk menemukan pelaku pemeras utama, atau mungkin jika pemeras itu hanya dalih Benzema untuk membayar seseorang agar citranya tidak terusak. Maka atas kasus yang sedang melanda dua pemain itu pun membuat mereka dikeluarkan dari skuat Prancis untuk dua pertandingan Internasional melawan Jerman (14/11) dan Inggris (18/11).

Didier Deschamps, pelatih Prancis, menolak memberikan jawaban tentang pencoretan Benzema dan Valbuena. Tapi yang jelas ia menyerahkan perilaku kedua anak asuhnya itu kepada pengadilan Prancis. Sementara khusus bagi Valbuena diberitahukan sedang diberikan waktu istirahat untuk memulihkan mentalnya sebelum kembali ke skuat Prancis nanti. Sementara untuk Benzema, sepertinya dalam waktu mendatang agak sulit kembali memperkuat kesebelasan negara berjuluk Ayam Jantan tersebut, bahkan untuk berlaga di Euro 2016 sekali pun.

Hasil Kebangkitan Hatem Ben Arfa

Diparkirnya Benzema dari timnas membuat kekosongan pada posisi penyerang tengah dalam formasi 4-3-3 andalan Deschamps. Posisi ini bakal diperebutkan Anthony Martial (Mancheser United), Andre-Perre Gignac (Tigres) dan Olivier Giroud (Arsenal). Tapi pada persaingan di posisi yang ditinggalkan sementara oleh Valbuena justru memunculkan nama baru berwajah lama, yakni Hatem Ben Arfa.

Tentu kabar tersebut sedikit mengejutkan bagi para penggemar Liga Inggris dan yang mengabaikan Liga Prancis. Seperti yang diketahui, hikayat karir persepakbolaan Ben Arfa cukup ironis sebagai pemain yang pernah mendapat cap wonderkid ketika masa mudanya. Tapi kariernya justru semakin meredup memasuki jenjang senior terutama ketika memperkuat Newcastle United di Liga Primer Inggris pada 2008.

Bahkan ia menjadi bahan olok-olok media karena perutnya semakin membuncit akibat tidak bisa menjaga kondisi tubuhnya kala kesebelasannya sedang libur. Sempat harus rela dipinjamkan ke Hull City pada Liga Primer Inggris 2014/2015, akhirnya ia kembali ke Ligue 1, Liga Prancis, untuk memperkuat Nice pada bursa transfer musim panas 2015. Pemain kelahiran 7 Maret 1987 itu seperti burung bangau yang kembali ke daratan setelah terbang tinggi.

Rupanya kembali ke Ligue 1 merupakan keputusan yang tepat bagi Ben Arfa. Sejauh ini ia menjadi pemain penting bagi Nice yang kini bertengger di peringkat delapan klasemen sementara Ligue 1 2015/2016. Dari 12 kali penampilannya di lapangan Ben Arfa sudah mengemas tujuh gol dan dua assist.

Salah satu gol paling mengesankan yang dicetak olehnya baru-baru ini terjadi ketika mengalahkan St Etienne pada pertandingan Ligue 1 pekan ke-8, Senin (28/09) . Ben Arfa menggiring bola dari tengah lapangan dan melewati empat pemain lawan yang diakhiri tendangan datar ke arah sudut sempit Stephane Ruffier, kiper St Etienne.

Pemain 28 tahun tersebut seolah lebih matang di bawah tangan Claude Puel, Pelatih Nice. Ben Arfa tampak telah menemukan seorang pelatih yang mengerti dia dan mampu bekerja sama dengan baik. Puel telah berhasil meredam semua perilaku buruk Ben Arfa sebagai seorang pembangkang yang pernah memperburuk hubungan dengan mantan-mantan pelatihnya seperti Laurent Blanc, Alan Pardew, Steve Bruce dan termasuk Deschamps.

"Saya tumbuh dewasa. Saya memiliki lebih banyak pengalaman. Saya telah menemukan keseimbangan yang lebih baik dalam permainan saya dan selalu memiliki banyak kesenangan di Nice. Kami memainkan sepakbola dengan bagus dan memiliki manajer hebat. Saya ingin menikmati diri sendiri. Hal ini terlalu dini untuk berbicaa tentang (datang kembali) ke tim nasional (Prancis). Untuk itu saya harus bermain dengan baik secara teratur," ujarnya dikutip dari ESPN FC.

Tapi pada kenyataannya ucapannya tersebut memang betul-betul menjadi terlalu dini bagi Ben Arfa sendiri. Deschamps menyempatkan diri menonton aksi Ben Arfa ketika Nice sedang menghadapi Lille OSC pada Minggu (1/11)lalu. Legenda hidup Prancis itu dibuat terpukau dengan aksi menyerang Ben Arfa kendati pertandingan sendiri berakhir imbang tanpa gol. Akhirnya atas kerja keras di lapangan hijau membuat Deschamp memanggilnya kembali memperkuat Si Ayam Jantan untuk dua laga Internasional pada November kali ini.

Di sisi lain, Deschamps bersikeras tidak menyimpan dendam kepada Ben Arfa yang pernah berselisih ketika masih berada di Marseille pada 2009/2010. Kali ini sang pelatih menganggap Ben Arfa sudah melakukan tugasnya dengan baik di lapangan bersama kesebelasannya, Dia memiliki kemampuan untuk membuat perbedaan dalam satu gerakannya. Jika sesorang dapat membawa sesuat untuk tim Prancis, itu tidak masalah jika dia (pernah) memiliki masalah dengan saya. Dia telah belajar dari pengalamannya dan sekarang lebih bisa terpenuhi," akunya.

Sayangnya Dimitri Payet yang menjadi andalan West Ham United saat ini justru tidak dipanggil Didier Deschamps untuk memperkuat Prancis

pemain jebolan sekaligus mantan pilar Lyon itu pun mengaku tersentuh atas pemanggilan dirinya kembali menuju skuat Prancis dan mengucapkan rasa terima kasih atas kepercayaan baik itu dari Puel maupun Deschamps. Dirinya telah menyelesaikan perubahan yang luar biasa sejak terdepak dari Liga Primer Inggris.

Sebelumnya karir Ben Arfa bak Roller Coaster dan menjadi burung bangau ketika pulang kembali ke Nice. Tapi kali ini ia adalah phoenix. Ben Arfa akan selalu bangkit dari api ketika dia sudah habis dihajar tapi ia selalu bisa bangkit karena tidak dapat menghapus bakat luar biasa yang ia miliki.

Skuat Prancis pada jeda Internasional November 2015:

Goalkeepers: Lloris (Tottenham), Mandanda (Marseille), Costil (Rennes)

Defenders: Evra (Juventus), Sakho (Liverpool), Sagna, Mangala (both Manchester City), Koscielny (Arsenal), Digne (Roma), Varane (Real Madrid), Jallet (Lyon)

Midfielders: Cabaye (Crystal Palace), L.Diarra (Marseille), Matuidi (Paris Saint-Germain), Pogba (Juventus), Sissoko (Newcastle), Schneiderlin (Manchester United), Coman (Bayern Munich)

Strikers: Giroud (Arsenal), Griezmann (Atletico Madrid), Martial (Manchester United), Ben Arfa (Nice), Gignac (Tigres)

Sumber lain : Chronichle Live, Daily Mail, France Football, The Mag

Komentar