Analisis Final Piala Presiden 2015: Persib Bandung 2-0 Sriwijaya FC

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Analisis Final Piala Presiden 2015: Persib Bandung 2-0 Sriwijaya FC

Persib Bandung dan Sriwijaya FC saling berjibaku pada laga final Piala Presiden 2015. Disaksikan oleh sekitar 70 ribu penonton yang memadati Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, kedua kesebelasan unjuk kemampuan untuk membuktikan sebagai yang terbaik pada Piala Presiden ini.

Pada awal-awal permainan, Sriwijaya yang sempat tertinggal lebih dulu sejak menit ke-6 terilhat kesulitan menembus lini pertahanan Persib. Cara yang dilakukan kesebelasan berjuluk Laskar Wong Kito untuk mengirimkan bola ke kotak penalti adalah lewat sisi kiri penyerangan.

Hal ini pun sebenarnya terjadi karena keberhasilan Persib dalam mengendalikan tempo. Saat bertahan, lima gelandang dalam formasi 4-2-3-1 langsung mengisi area pertahanan sendiri sambil menunggu pemain Sriwijaya yang menguasai bola melepaskan operan.

Trio gelandang tengah Persib, Makan Konate-Dedi Kusnandar-Firman Utina, cukup disiplin dengan tak terburu-buru untuk merebut bola. Tak ada celah, Sriwijaya pun pada akhirnya mendistribusikan bola ke sisi sayap, khususnya sisi kiri.

Serangan sisi sayap ini yang mengandalkan Titus Bonai ini kurang efektif membongkar pertahanan Persib. Ketangguhan Achmad Jufriyanto dan Vladimir Vujovic dalam mematahkan bola-bola udara membuat serangan Sriwijaya hanya sekali melahirkan peluang yang cukup membahayakan. Setidaknya, terdapat lima umpan silang yang dilepaskan Tibo dengan hanya satu yang berhasil menemui sasaran.

Strategi ini memang membuat Sriwijaya lebih sering menguasai bola ketimbang Persib. Namun tampaknya hal inilah yang memang diincar Persib. Persib mengharapkan para pemain Sriwijaya tak berada pada posisinya ketika melancarkan serangan balik cepat.

Serangan balik cepat menjadi skema yang digunakan Persib pada babak pertama. Hal ini terlihat dari umpan-umpan daerah ke flank yang sering dilakukan gelandang Persib maupun pemain belakang. Vujovic misalnya, seringkali memberikan umpan langsung pada Ilija Spasojevic ataupun Zulham Zamrun. Satu peluang yang didapatkan Zulham pun berasal dari skema serangan balik cepat ini.

Sriwijaya sendiri tampak terbawa oleh tempo yang dimainkan Persib. Serangan balik Persib seringkali harus diakhir oleh pelanggaran-pelanggaran di area dekat kotak penalti. Gol Persib yang diciptakan Jufriyanto pun lahir berkat pelanggaran pemain bertahan Sriwijaya pada Spasojevic di depan kotak penalti.

Meski unggul, permainan yang diperagakan Persib ini sebenarnya cukup beresiko. Apalagi serangan Persib lebih sering mengandalkan sisi kanan, khususnya Zulham Zamrun. Kelemahan serangan ini pun sering terlambatnya Supardi memberikan opsi operan dengan overlap, sehingga sering membuat Zulham berjibaku sendirian di sisi kanan. Tapi bisa jadi Supardi memang tak diinstruksikan untuk rajin melakukan overlap demi mengurangi resiko kewalahan dalam serangan balik Sriwijaya.

Perubahan strategi sebenarnya dilakukan Persib setelah waterbreak pada menit ke-30. Jika 30 menit pertama Persib bermain lebih menunggu, 15 menit berikutnya intensitas serangan Persib dinaikkan. Operan-operan jauh diminimalisasi. Mulai menggunakan operan-operan pendek cepat, sambil tetap menggunakan sisi kanan sebagai area utama serangan.

Pertukaran posisi pemain dilakukan lini depan Persib. Atep yang memulai laga di sisi kiri, bermain di sisi kanan pada 30 menit terakhir. Dan strategi ini berhasil di mana Atep memberikan assist atas gol kedua Persib dari sisi kanan, tendangan Konate yang membentur mistar gawang lalu memantul pada punggung Dian Agus Prasetyo.

Pertukaran posisi pemain pun dilakukan oleh Sriwijaya pada babak kedua. Tibo yang pada babak pertama bermain di sisi kiri, bermain di sisi kanan pada babak kedua. Namun serangan Sriwijaya tetap bertumpu pada Tibo, yang mana membuat Sriwijaya mengalihkan serangan mereka ke sisi kanan.

Pemindahan area bermain Tibo pada babak kedua ini tampaknya untuk memaksimalkan agresifitas bek sayap kanan Sriwajaya FC, Wildansyah. Dibanding Syaiful Indra Cahya di kiri, Wildansyah memang lebih rajin melakukan overlap, di mana ini bisa membantu Tibo dalam mengeksploitasi sisi kiri Persib.

Namun Persib menjawab perubahan strategi Sriwijaya itu dengan menurunkan Atep dan Zulham untuk melakukan trackback. Sehingga saat Tibo dan Wildansyah berkombinasi di dekat area kotak penalti Persib, Persib tak kalah jumlah pemain, atau setidaknya Tony Sucipto tak sendirian menghadapi kedua pemain sayap kanan Sriwijaya tersebut.

Pada babak kedua, Persib seperti dipersiapkan untuk menjawab setiap perubahan-perubahan strategi yang dilakukan Bendol. Cederanya Atep dan Dedi Kusnandar yang digantikan Taufiq dan Agung Pribadi pun menunjukkan bahwa Persib memang fokus mengorganisasi pertahanan pada babak kedua ini, bukan untuk menambah gol.

Saat bertahan, delapan pemain Persib turun ke sekitar area kotak penalti. Dua pemain lain, Zulham dan Spaso, tetap berada di tengah sebagai upaya dalam melakukan serangan balik. Zulham tak melakukan trackback, namun sisi kiri diisi oleh Taufiq. Konate yang notabene bermain sebagai gelandang serang, mundur ke depan kotak penalti menemani Agung Pribadi. Sementara di sisi kanan, diisi oleh Dias Angga yang masuk menggantikan Firman Utina.

Bendol pun bukan tanpa upaya. Patrich Wanggai sempat dicoba menempati pos gelandang serangan dengan Rizsky Ramadana, yang masuk menggantikan Syakir Sulaiman, sebagai penyerang. Namun perubahan itu gagal mengubah keadaan di mana Persib tetap bisa mempertahankan keunggulannya.

persibvssriwijayaxi
Susunan Pemain

Komentar