Fagundez ke Piala Dunia dan Nasib Imigran Gelap dalam Sepakbola

Cerita

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Fagundez ke Piala Dunia dan Nasib Imigran Gelap dalam Sepakbola

Diego Fagundez sudah lelah. Ia sudah tak sabar lagi menunggu. Ia akhirnya menerima pinangan kesebelasan negara (sangara) Uruguay U-20 yang berlaga pada ajang South American Youth Championship 2015 yang digelar di kampung halamannya, Uruguay.

Dengan ini, Fagundez kehilangan kesempatannya untuk membela sangara Amerika Serikat (lagi) pada semua ajang kompetisi. Sebentar.  Siapa Diego Fagundez?

Diego Fagundez, seperti 11 juta imigran lainnya, belum mengantongi kewarganegaraan Amerika. Ia bergabung bersama jutaan remaja lainnya, yang mesti memupus keinginan membela Amerika. Alasannya: karena mereka imigran (gelap)!

Fagundez merupakan aset kesebelasan MLS, New England Revolution. Ia menjadi satu-satunya pesepakbola asal akademi Revolution yang dikontrak tim utama. Prestasinya juga tidak main-main. 2013 adalah musim terbaiknya bersama Revolution. Dari 31 kali penampilan, ia mencetak 13 gol dan 7 assist.

Kiprah Diego di Amerika bermula pada saat keluarganya membawanya pindah ke Amerika saat usianya masih lima tahun. Pada kompetisi junior, ia sudah meraih berbagai gelar seperti menjadi finalis State Cup bersama FC United pada 2005, dan kemudian menjuarainya pada 2006.

Ia kembali menjuarai State Cup pada 2008 dan 2009 bersama FC Greater Boston Bolts. Atas capaiannya tersebut, ia bergabung bersama sangara Amerika U-14 pada 2008 dan 2009. Namun, federasi Amerika menolak menggunakan jasanya, setelah tahu kalau Diego bukan “warga negara”.

Ketidakpedulian Federasi Amerika lalu dibuktikan dengan prestasi Diego di atas lapangan. Lalu, Revolution memberinya tempat untuk berprestasi sejak 2011.

Diego sendiri baru mendapat green card pada 2013, itu pun setelah banyak pihak yang “menekan” Federasi Amerika. Mereka takut kalau potensi Diego lepas ke negara lain, dalam hal ini Uruguay. Sejumlah penulis pun menyebut bahwa Diego adalah penyerang masa depan Amerika.

Keinginan Diego untuk memperkuat Amerika nyatanya tidak berjalan seiringan dengan kemauan federasi. Melihat hal tersebut, Diego akhirnya mengambil sikap. Akhir Desember lalu,  “mengancam” akan memperkuat tim U-20 Uruguay dalam kompetisi resmi FIFA. Hingga Januari, Federasi Amerika tidak memberikan sinyal positif. Diego pun memutuskan untuk ikut terbang ke Uruguay.

Aturan FIFA

Dalam aturan FIFA, hanya pesepakbola berstatus “dual nationality” atau kewarganegaraan ganda yang bisa bermain dalam kompetisi junior untuk dua negara berbeda, dan hanya satu negara setelah ia mengecap pertandingan resmi untuk sangara senior, pada pertandingan apapun.

Walau pernah memperkuat sangara Amerika dan Uruguay, tapi hal tersebut tidak dihitung karena bukan kompetisi resmi FIFA.

Keputusan Diego memperkuat Uruguay pada Januari lalu, menjadi langkah yang besar karena ia tidak berkewarganegaraan Amerika ketika itu. Artinya, bermain untuk sangara U-20 Uruguay pada kompetisi resmi, memupus kesempatannya untuk bermain di sangara Amerika.

Dengan bergabung bersama sangara Uruguay, Diego berarti membuka peluang untuk bermain di Eropa. Ia tak perlu lagi menahan diri di Amerika, karena syarat kewarganegaraan yang mewajibkannya tinggal di Negeri Paman Sam hingga 2018.

Keputusannya terbilang tepat, karena Uruguay menjadi juara grup, dan berhak lolos ke Olimpiade 2016, dan Piala Dunia U-20 di Selandia Baru. Coba jika dia menunggu hingga 2018 demi Amerika, barangkali Piala Dunia hanyalah angan belaka.

Komentar