Mengapa Pelatih Tim Junior itu Istimewa?

Sains

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mengapa Pelatih Tim Junior itu Istimewa?

Tidak sedikit barangkali yang berpendapat: Apa pentingnya pelatih tim junior? Mengapa ia harus memiliki kemampuan “khusus” terutama dalam mengelola pemain muda? Mungkinkah sebuah kesebelasan mengirim orang yang “entah siapa” untuk melatih tim junior? Jawabannya: Mungkin, tapi jangan harap pemain muda bisa berkembang maksimal.

Sistem perkembangan tubuh anak-anak terbilang kompleks. Biasanya dibedakan dari kapan mereka mencapai pubertas. Ada yang cepat, dan ada pula yang lambat. Pemain dengan masa pertumbuhan yang cepat umumnya memiliki tingkat kerentanan cedera yang jauh lebih besar. Pelatih perlu menyiapkan jenis latihan yang berbeda.

“Pubertas dapat mengubah segalanya,” tulis kolumnis Goal Nation, Llyod Biggs. Biggs, yang dikenal sebagai pelatih yang berdedikasi untuk pengembangan usia muda, menuliskan wawancaranya dengan bekas kiper Queens Park Rangers, Paul Hart. Hart sendiri kini berprofesi sebagai pelatih fisik dan telah mendapatkan gelar master “Sports performance and injury prevention”. Ia pun meraih gelar sarjana dalam bidang kinesiologi.

Lewat tulisan ini, Biggs lantas membuktikan mengapa pelatih tim junior itu haruslah orang yang istimewa.

Percepatan pertumbuhan atau growth spurt memainkan peran yang besar bagi pesepakbola muda. Usia pesepakbola kala mencapai masa puber bervariasi antara 12-16 tahun pada laki-laki. Mereka yang tumbuh lebih cepat, dapat mengambil keuntungan dalam hal kekuatan, kecepatan, dan daya tahan ketimbang lawannya yang belum mencapai masa puber.

“Mudah untuk melihat perbedaan pesepakbola yang sudah puber atau belum. Walau punya ukuran tubuh yang sama di atas lapangan, tapi ia punya kekuatan yang lebih besar, kecepatan, dan tenaga—semua faktor kunci untuk mencapai kesuksesan di sepakbola,” kata Hart seperti dikutip Goal Nation.

Sayangnya, pesepakbola yang puber lebih cepat rentan terkena cedera. Namun ini tergantung pada frekuensi dan intensitas mereka berlatih. Berdasarkan pengalaman Hart, pesepakbola yang tumbuh lebih cepat, kerap merasa kehilangan kontrol bola.

“Ini sebagai hasil bagaimana mereka menangani perubahan bentuk tubuh. Penting bagi pelatih untuk mengamati mereka yang dalam masa pertumbuhan,” ujar Hart.

Latihan Anaerobik


Untuk pesepakbola muda yang belum beranjak remaja, Hart menganjurkan untuk melakukan latihan anaerobik. Berbeda dengan latihan aerobik yang melakukan proses pembakaran lewat oksigen, latihan anaerobik membuat tubuh tidak mampu memasok cukup oksigen ke otot. Energi dipenuhi dengan mengambil cadangan dari otot.

Karena tidak menggunakan oksigen, tubuh mulai membakar karbohidrat yang membakar lebih banyak kalori. Hasil dari pembakaran ini menghasilkan asam laktat.

Latihan anaeorobik umumnya cepat tapi berat, seperti angkat bebat, sit-up, pull-up, dan lari sprint. Latihan anaerobik bermanfaat untuk mempercepat metabolisme, memperkuat tulang, meningkatkan vitalitas dan energi, membentuk otot dan tampilan tubuh yang lebih menawan, meningkatkan tingkat gula darah, dan meningkatkan stamina.

Bagi pesepakbola di bawah 12 tahun, pelatih mesti memprioritaskan teknik permainan, karena fisik pemain akan mengikuti secara natural, sejalan dengan penampilan kala bertanding dan berlatih.

Pentingkah Kecepatan?


Sejumlah pesepakbola sukses ada karena ia bisa berlari cepat. Namun, tidak sedikit juga pesepakbola yang bahkan terlihat amat jarang berlari. Sepenting apakah kecepatan dalam latihan sepakbola untuk usia muda?

“Kecepatan adalah komponen kunci dalam pertandingan,” kata Hart merujuk pada perlunya seorang pemain untuk berhenti dan mengubah arah secara cepat. Pesepakbola muda harus terbiasa dengan hal ini. Hart menganjurkan pelatih untuk membuat sesi khusus 10-15 menit yang fokus pada kecepatan.

Menu latihan dapat dikembangkan sehingga pemain dapat melakukan akselerasi dan deakselerasi, dan mengubah arah berlari dengan cepat.

Latihan kecepatan saja nyatanya tidak cukup. Pesepakbola usia muda mesti memiliki fleksibilitas, mobilitas, dan stabilitas. Tiga hal tersebut hanya bisa didapat jika otot-otot utama sang pemain sudah terbiasa dilatih.

Ketiga hal tersebut umumnya dilakukan saat pemanasan jelang latihan dan pendinginan usai latihan. Dampaknya mungkin tidak akan terlihat secara langsung, tapi hal tersebut dapat membantu fleksibilitas setiap pemain.

Mulai dari Usia 14


Oodergard salah satu pesepakbola muda yang memiliki pertumbuhan lebih cepat ketimbang rekan-rekan lainnya.

Hart menyatakan kalau dirinya akan mulai fokus meningkatkan fisik pemain pada usia 14 tahun. Sebab, pada usia tersebut fisik akan menjadi fondasi utama dari seorang atlet dalam menunjang karirnya.

Ketahanan kecepatan dapat dilakukan lewat intensitas latihan anaerobik. Pengembangan kecepatan dapat dilakukan dengan latihan tanpa bola dengan sprint pendek. Latihan peregangan memungkinan penurunan kerentanan cedera lutut dan otot serta pergelangan sendi.

Agar pemain dapat berkembang dengan tepat, pelatih butuh data masing-masing pemain. Nantinya, pemain akan dibedakan sesuai dengan capaian yang telah ia raih. Data ketahanan tubuh sang pemain juga penting untuk melihat kekuatan dan kelemahan, sehingga pemain bisa berlatih sesuai dengan porsi dan jenis latihan masing-masing.

“Ini penting untuk diingat bahwa pemain muda bukanlah orang dewasa, dan kita tidak seharusnya melatih mereka seperti orang dewasa,” tutur Biggs.

Maksud dari “dewasa” yang dikemukakan Biggs adalah bahwa tubuh anak-anak berkembang tergantung dari apa yang ia dapat. Ada yang sudah matang pada usia 12 tahun, ada pula yang baru matang pada usia 16 tahun. Jenis latihan pun mesti dibedakan karena pemain dengan pubertas yang lebih awal, rentan terkena cedera.

“Sebagai pelatih tim junior, kita harus mengerti konsekuensi dari pubertas dan bagaimana hal ini menjadi peran kunci dalam pengembangan anak-anak,” tutur Biggs, “Penting untuk diingat bahwa bintang di dalam kesebelasan mungkin tergolong yang lambat berkembang.”

Tidak seperti pelatih pada umumnya, pelatih tim junior harus lebih peka terhadap perkembangan pemain. Ia—seharusnya—tidak boleh melihat kemampuan pemain dalam sekali pandang saja, karena mungkin bintang yang bersinar itu baru terlihat kekuatan fisiknya pada usia 17 tahun, di mana rekan-rekan yang lainnya sudah menandatangani kontrak profesional. Biggs pun menyoroti kalau pelatih tim junior mesti sabar, baik menunggu pemain hingga “jadi” maupun membaca kemajuan dan menyusun jenis latihan yang diterapkan kepada masing-masing individu.

Kerumitan tersebut nantinya akan setimpal dengan hasil yang didapat: pemain muda berbakat!

Disadur dengan perubahan secukupnya: goalnation.com

Sumber gambar: thenation.ae

Komentar