Liverpool Lupa Cara Cetak Gol

Taktik

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Liverpool Lupa Cara Cetak Gol

Mau dilihat dari sisi manapun, penampilan Liverpool musim ini amatlah tidak memuaskan. Keputusan melego Luis Suarez ke Barcelona menjadi salah satu alasan. Di balik itu, ada faktor penting yang membuat Liverpool baru meraih enam kemenangan dari 15 laga yang telah dijalani.

Kehilangan Suarez seolah membuat Liverpool amnesia. Mereka lupa bagaimana caranya mencetak gol ke gawang lawan. Total, Liverpool hanya mencetak 19 gol dan kebobolan dengan jumlah yang sama. Catatan ini masih jauh dari apa yang dilakukan pemuncak klasemen, Chelsea, yang mencetak 34 gol.

Dalam satu pertandingan di Liga Inggris, Liverpool maksimal hanya mencetak tiga gol. Mereka melakukannya tiga kali dalam pertandingan menghadapi Tottenham Hotspur, Queens Park Rangers, dan Leicester. Uniknya, tiga pertandingan tersebut dilakukan dalam partai tandang.

Satu pertandingan sejatinya tidak bisa dijadikan acuan sebagai representasi penampilan Liverpool musim ini. Namun, setidaknya pertandingan tersebut memperlihatkan kebuntuan Liverpool dalam mencetak gol. Menghadapi Sunderland, Liverpool  melakukan 15 attemps dengan hanya dua yang mengarah ke gawang.

Hal paling mencolok adalah Liverpool kesulitan memborbardir lini pertahanan Sunderland yang dipenuhi pemain Sunderland. Sebanyak tujuh tendangan bahkan tidak sampai ke gawang karena berhasil ditahan.

Kekacauan di lini depan Liverpool seolah sudah bisa ditebak. Mereka lebih dominan mengalirkan bola ke arah Raheem Sterling. Di sisi tersebut pula, pelatih Sunderland, Gus Poyet, mengganti Sebastian Larsson dan Adam Johnson dengan memasukkan Lee Cattermole dan William Buckley. Tujuannya? Untuk memperpanjang nafas dan stamina sisi kanan pertahanan Sunderland yang dibombardir Sterling.

LIV 13
Umpan Liverpool Sepertiga Lapangan Akhir

Bisa terlihat dari grafis umpan Liverpool di sepertiga akhir di atas. Mayoritas umpan selalu diberikan ke kiri. Sementara itu, Liverpool terlihat kepayahan karena tidak bisa mengirim umpan ke dalam kotak penalti.

Peran Coutinho sendiri menjadi tidak dominan. Padahal, ia berperan penting menjembatani serangan dan mengalirkannya ke segala arah. Coutinho pun terkadang bermain melebar. Total, ia melakukan 48 umpan pendek, dan tiga kali umpan silang.

Coutinho
Grafis Coutinho yang dominan di kanan.

Pada menit ke-77, Brendan Rodgers pun menarik Coutinho dengan memasukkan Steven Gerrard. Gerrard lebih sering bergerak ke kedua sisi dan memberi suplai bola dari sisi itu. Catatan umpan silang Gerrard pun mencapai empat kali dalam pertandingan tersebut.

Apa yang terjadi sesungguhnya adalah ketidakmampuan  Ricky Lambert memberi peran besar bagi permainan Liverpool. Ia hanya melakukan sekali tendangan, dan dua key passes sepanjang 90 menit pertandingan.

Sunderland dikenal kuat dalam bertahan. Mereka tidak segan-segan menurunkan banyak pemain di dalam kotak penalti. Pertanyaannya adalah dengan pola seperti ini, mengapa Liverpool masih berniat mengurung Sunderland? Mengapa tidak membiarkan mereka menyerang dan  melakukan serangan balik cepat? Tanpa meminggirkan kualitas Lambert, pemain sepertinya sulit untuk berjuang sendirian di depan. Ia butuh penyerang lain yang cepat dan aggresif di lini depan. Rodgers bisa meniru apa yang Mauricio Pochettino lakukan di Southampton musim lalu.

Jadi, mengapa Liverpool hanya meraih hasil seri? Karena mereka tak bisa mencetak gol. Titik.

Komentar